Usia Penderita Diabetes Makin Muda, Deteksi Dini Diperluas ke Sekolah dan Kampus

Usia Penderita Diabetes Makin Muda, Deteksi Dini Diperluas ke Sekolah dan Kampus
Cegah risiko diabetes
Dina Manafe / IDS Jumat, 15 November 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Gaya hidup yang semakin sedentari atau kurang gerak, makanan serba instan, dan tingkat stres tinggi menempatkan warga Ibu Kota makin berisiko tinggi menderita diabetes. Usia penderita penyakit kencing manis ini semakin muda saja. Untuk mengendalikannya, pemerintah memperluas cakupan deteksi dini melalui pos pembinaan terpadu (posbindu) termasuk di DKI Jakarta.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DKI Jakarta, Dwi Octavia mengungkapkan, diabetes banyak ditemukan pada usia 30 tahun. Itu artinya sebelum positif diabetes, sebetulnya mereka sudah memiliki faktor risiko sejak usia yang lebih muda. Dari 2,5 juta penduduk yang sudah dilakukan skrining atau deteksi dini dan memiliki potensi diabetes, 30% di antaranya disebabkan obesitas atau kegemukan, termasuk obesitas sentral atau perut buncit.

“Ini menunjukkan pola hidup masyarakat Ibu Kota makin sedentari, malas bergerak, dan semuanya serba mudah didapat. Ditambah lagi perokok yang prevalensinya 6% dari populasi, kurang makan buah dan sayur, dan lebih-lebih lagi sekarang semua makanan serba instan. Belum lagi stres karena pekerjaan, perjalanan, dan lain-lain,” kata Dwi Octavia usai menyosialisasikan mengenai diabetes kepada mahasiswa Universitas Yarsi Cempaka Putih, Jakarta, dalam rangka Hari Diabetes Sedunia 2019, Kamis (14/11/2019).

Menanggulangi persoalan diabetes ini, Pemda DKI Jakarta menjemput bola dengan melakukan pemeriksaan deteksi dini di sekolah SMA dan kampus. Menurut Dwi, pihaknya mulai fokus ke usia dewasa muda untuk menemukan lebih banyak kasus di masyarakat. Jika ditemukan faktor risikonya lebih dini, segera dilakukan pencegahan agar tidak sampai menjadi diabetes atau makin parah.

Selama ini, lanjut Dwi, kegiatan posbindu hanya menjangkau masyarakat komunitas atau warga pemukiman dan institusi pemerintah. Namun itu saja tidak cukup karena ternyata diabetes banyak menyerang usia muda, sehingga edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan deteksi dini harus lebih masif di kelompok anak muda.

Posbindu merupakan kegiatan monitoring dan deteksi dini faktor risiko penyakit tidak menular (PTM). Kegiatan ini bagian dari program Cities Changing Diabetes (CCD) yang dipelopori oleh Dinkes DKI Jakarta dan Novo Nordisk Indonesia. Kegiatan ini dikembangkan karena hampir semua faktor risiko PTM tidak memberikan gejala pada penderitanya, termasuk diabetes yang kerap disebut silent killer karena tidak disadari.

“Posbindu akan mendorong masyarakat agar secara rutin dan periodik melakukan pemeriksaan rutin mulai dari usia dewasa muda 15 tahun ke atas,” kata Dwi.

Pemeriksaan di posbindu tidak dipungut biaya. Pemeriksaan ini mencakup lingkar perut, tekanan darah dan tinggi badan untuk menentukan indeks masa tubuh. Semua faktor risiko juga ditanyakan, seperti apakah merokok, pola makan dan aktivitas fisik, dan pola istirahat. Setelah semua perilaku ditanyakan baru dilakukan pemeriksaan darah secara cepat.

Dokter Spesialis dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, Rachmad Wishnu Hidayat mengatakan, gaya hidup sangat menentukan perkembangan diabetes. Mayoritas masyarakat perkotaan saat ini sangat kurang bergerak, ditambah mengonsumsi makanan tinggi kalori sehingga meningkatkan risiko. Padahal, menurutnya, aktivitas rutin minimal 30 menit sehari selama 5 hari dalam seminggu sangat efektif mencegah diabetes dan mengelola diabetes bagi yang sudah mengalaminya.

Takut Diperiksa

Dokter Spesialis Penyakit Dalam dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Dicky Levenus Tahapary mengatakan, rendahnya kesadaran akan deteksi dini adalah penyebab utama orang enggan melakukan pemeriksaan medis rutin. Ini khususnya terjadi di kota perkotaan seperti Jakarta, meskipun faktanya fasilitas kesehatan primer sangat mudah diakses. Kebanyakan orang takut mengetahui bahwa mereka menderita penyakit tertentu dalam hasil pemeriksaan kesehatan.

Buktinya, 52% pasien dengan diabetes sudah memiliki komplikasi ketika didiagnosis. Komplikasi diabetes berimplikasi tidak hanya pada kualitas hidup pasien, tetapi juga menambah beban biaya kesehatan. Rata-rata biaya yang harus dikeluarkan per pasien per tahun adalah Rp 5,7 juta tanpa komplikasi, dan Rp 14 juta jika sudah memiliki komplikasi.

Total biaya yang dikeluarkan BPJS Kesehatan untuk membiayai pasien diabetes mencapai triliun rupiah. Tantangan lain dalam pengelolaan diabetes adalah jumlah dokter dan dokter spesialis di fasilitas kesehatan yang tidak sebanding dengan banyaknya jumlah pasien.

International Diabetes Federation Atlas pada tahun 2017 mencatat, Indonesia adalah rumah bagi 10,3 juta orang yang hidup dengan diabetes. Jumlahnya diperkirakan meningkat sebanyak 60% pada tahun 2045 menjadi 16,7 juta jiwa, dan menempati peringkat ke-7 di dunia. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan prevalensi diabetes meningkat dengan sangat cepat. Sebelumnya di 2013 angka prevelensi diabetes penduduk umur 15 tahun ke atas baru 6,9%, tetapi kemudian meningkat 8,5% di 2018.



Sumber: Suara Pembaruan