Pemprov Jabar dan Danone Indonesia Kerja Sama Cegah Stunting

Pemprov Jabar dan Danone Indonesia Kerja Sama Cegah Stunting
Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat (baju putih) dan Vera Galuh Sugijanto. ( Foto: istimewa )
Iman Rahman Cahyadi / CAH Rabu, 13 November 2019 | 14:51 WIB

Sukabumi, Beritasatu.com - Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Danone Indonesia memulai inisiatif pencegahan stunting di 14 kabupaten/kota prioritas di Jawa Barat. Kerja sama ini sebagai tindaklanjut dari penandatanganan Nota Kesepahaman antara Pemprov Jabar dan Danone Indonesia pada hari Selasa (12/11/2019) yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional. Kerja sama ini mencakup program terpadu dan berkelanjutan, dengan proyek pertama dilakukan di Desa Kebonpedes, Kecamatan Kebonoedes, Kabuoaten Sukabumi, Jawa Barat.

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Barat Atalia Praratya Ridwan Kamil menyambut baik kerja sama pencegahan stunting dengan berbagai sektor. Kolaborasi dengan Danone Indonesia di Kebon Pedes menurutnya akan menjadi proyek percontohan bagi wilayah lainnya dalam mencegah stunting di Jawa Barat.

"Kami sangat menghargai permulaan kolaborasi dengan Danone Indonesia. Ini adalah tugas kita bersama agar tidak ada lagi kasus baru gizi buruk atau stunting pada 2023 di Jawa Barat. Kami berharap kegiatan hari ini dapat disebarluaskan ke seluruh kabupaten/kota di Jawa Barat," ujar Atalia Praratya Ridwan Kamil dalam keterangannya, Rabu (13/11/2019).

Vice President General Secretary Danone Indonesia Vera Galuh Sugijanto mengatakan suatu kehormatan bagi Danone Indonesia dapat berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Dikatakannya, khusus di Kabupaten Sukabumi, Danone telah melakukan peningkatan kapasitas terhadap 35 kader Posyandu dan tenaga kesehatan, edukasi pola gizi seimbang Isi Piringku dan Ayo Minum Air, serta mengajarkan masyarakat untuk #BijakBerplastik.

Vera menambahkan program terpadu yang akan direalisasikan bersama Pemprov Jabar adalah peningkatan kemandirian dan kemampuan tenaga kesehatan, kader untuk mengevaluasi status gizi balita dan menangani anak terindikasi stunting secara cepat, seksama melalui program Aksi Cegah Stunting. Kemudian melakukan sosialisasi dan edukasi gizi seimbang Isi Piringku serta hidrasi sehat Ayo Minum Air (AMIR).

"Kami juga akan melakukan edukasi nutrisi dan stimulasi serta dukungan 33.000 akses nutrisi pertumbuhan yang dikumpulkan dari berbagai lapisan masyarakat untuk sekitar 8.000 anak. Hal ini juga menandai puncak dari gerakan sosial Aksi Nutrisi Generasi Maju oleh SGM Eksplor yang telah berjalan sejak awal tahun 2019," ungkap Vera.

Kerja sama juga mencakup pembangunan sarana prasarana air bersih dan sanitasi, serta edukasi Perilaku Hidup Bersih Sehat melalui WASH (Water and Sanitation Hygiene) serya edukasi pilah sampah Bijak Berplastik.

"Dengan integrasi ini, kami berharap program dapat dilakukan secara berdampingan, menyasar target yang sama dalam waktu bersamaan, dan diharapkan dapat memberikan dampak yang lebih baik kepada masyarakat," ujar Vera.

Stunting pada anak memiliki dampak yang buruk bagi bangsa Indonesia. Dampak permanen dari kondisi stunting dapat menghambat visi pemerintah Indonesia dalam memajukan kualitas sumber daya manusia. Hal ini disebabkan karena anak stunting beresiko lebih tinggi terkena penyakit tidak menular seperti penyakit jantung, diabetes, dan lainnya di masa depan. Untuk menghindari dampak tersebut, kegiatan pencegahan yang dilakukan lintas sektor merupakan hal yang paling efektif untuk menurunkan angka prevalensi stunting di Indonesia.



Sumber: BeritaSatu.com