Lentera Anak Apresiasi Djarum Kurangi Branding di Lokasi Audisi

Lentera Anak Apresiasi Djarum Kurangi Branding di Lokasi Audisi
Pembukaan audisi umum beasiswa bulutangkis 2019 di dihadiri 900 lebih anak usia 13 tahun ke bawah di GOR Satria, Purwokerto, Jawa Tengah, Minggu (8/9/2019). ( Foto: Suara Pembaruan / Dina Manafe )
Dina Manafe / FMB Selasa, 10 September 2019 | 17:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Volume penggunaan logo/merek dan bentuk pencitraan rokok lainnya pada Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis 2019 tahap dua di kota Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah mulai menurun drastis. Menurut pantauan langsung Beritasatu.com di tempat audisi, pemasangan logo PB Djarum sebagai penyelenggara audisi tidak lagi masif baik berupa spanduk, banner atau pun baliho mulai dari pintu masuk GOR sampai ke area audisi. Selain itu nama audisi yang dulunya berbunyi “Audisi Umum Beasiswa Bulutangkis Djarum 2019”, kini tidak lagi mencantumkan nama Djarum. Hanya logo Djarum masih ditemukan pada nomor audisi peserta, kaos panitia penyelenggara, dan di beberapa papan sponsor dalam lapangan audisi.

Berkurangnya penggunaan logo/merek terutama pada kaus anak-anak sebagai peserta audisi tersebut diapresiasi Yayasan Lentera Anak (YLA)

"Kami sampaikan apresiasi kepada PB Djarum sebagai penyelenggara audisi karena sudah hilangkan brand image di kaos yang diberikan kepada anak-anak, meskipun masih dijumpai di kaos panitia penyelenggara. Ini bukti bahwa PB Djarum sudah mau menegakkan peraturan negara," kata Ketua YLA, Lisda Sundari di Jakarta, Selasa (10/9/2019).

Menurut Lisda, audisi beasiswa bulutangkis yang diadakan oleh perusahaan rokok diberlakukan ketentuan Peraturan Pemerintah (PP) 109 tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan. Aturan ini melarang penggunaan tulisan, warna dan brand image yang terasosiasi dengan rokok dalam bentuk apapun.

Lisda mengatakan, sebenarnya jika Djarum mau patuh pada peraturan dan memang tulus ikhlas melakukan pembibitan olahraga, Djarum dapat terus melanjutkan kegiatan dengan menghilangkan semua brand image Djarum di acara audisi. Terbukti, pada audisi di kota Purwokerto PB Djarum sudah menunjukkan niat baik untuk menghilangkan brand image Djarum pada kaus yang diberikan anak-anak.

“Jadi sekarang tergantung pada Djarum. Apakah untuk selanjutnya Djarum akan mematuhi peraturan atau tidak. Kami akan mendukung semua pihak yang ingin mengembangkan olahraga dengan tetap patuh terhadap upaya perlindungan anak dengan mengedapankan kepentingan terbaik bagi anak, di mana salah satunya tidak memaparkan brand image rokok kepada anak,” katanya.

Adapun pasal 36 ayat 1 PP 109/2012 berbunyi, setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor produk tembakau yang mensponsori suatu kegiatan lembaga dan/atau perorangan hanya dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. Pertama, tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk tembakau. Kedua, tidak bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau. Sementara pada pasal 7 disebutkan, setiap orang yang memproduksi dan/atau mengimpor produk tembakau yang menjadi sponsor dalam bentuk tanggung jawab sosial perusahaan hanya dapat dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut. Pertama, tidak menggunakan nama merek dagang dan logo produk tembakau termasuk brand image produk tembakau. Kedua, tidak bertujuan untuk mempromosikan produk tembakau.

Yang dimaksud dengan brand image menurut Lisda, di antaranya semboyan yang digunakan oleh produk tembakau dan warna yang dapat diasosiasikan sebagai ciri khas produk tembakau yang bersangkutan. Kaus bertuliskan Djarum, dan berbagai atribut di lokasi audisi, mulai dari banner, flyer, dan warna khas Djarum dikategorikan sebagai brand image produk tembakau.

Lisda juga mengatakan, YLA akan mendukung KPAI, Kementerian PPPA, Badan POM, Kementerian Kesehatan, Bappenas, Kemko PMK serta Kementerian Pemuda dan Olah Raga dalam menegakkan PP/109 2012 tersebut untuk melindungi anak Indonesia dari bahaya rokok.



Sumber: Suara Pembaruan