Bappenas Dorong Bahan Baku Obat Diproduksi Dalam Negeri

Bappenas Dorong Bahan Baku Obat Diproduksi Dalam Negeri
Diskusi panel bertajuk Urgensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran, di Jakarta, Selasa 8 Oktober 2019. ( Foto: istimewa )
Dina Manafe / EAS Kamis, 10 Oktober 2019 | 13:26 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku untuk produk obat dan alat kesehatan impor masih tinggi. Saat ini sekitar 95% bahan baku obat mengandalkan impor dari sejumlah negara seperti India dan Tiongkok. Untuk mewujudkan kemandirian bahan baku obat, Kementerian PPN/Bappenas mendorong produksi dalam negeri.

Direktur Kesehatan Gizi Masyarakat Kementerian PPN/Bappenas, Pungkas Bahjuri Ali, mengatakan, sebagian besar bahan baku obat yang dipergunakan industri farmasi masih merupakan produk impor. Ini tentunya berpengaruh pada pembiayaan yang lebih mahal, termasuk pengeluaran pemerintah untuk pembiayaan obat-obatan subsidi. Ketersedian produk farmasi, terutama obat dan vaksin, yang cukup di dalam negeri tentu diharapkan dapat menurunkan pengeluaran pemerintah.

"Kita berharap bahan baku obat dapat diproduksi di Indonesia. Selain untuk penyediaan bahan baku yang lebih efisien, juga untuk mendukung pengembangan industri farmasi dalam negeri," kata Bahjuri Ali saat menjadi pembicara pada diskusi panel bertema "Urgensi Optimalisasi Manajemen Pengelolaan Obat dan Vaksin Terkait Efisiensi Anggaran" yang diselenggarakan Harian Bisnis Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Lanjut Bahjuri Ali, perkembangan teknologi di sektor kesehatan sangat cepat. Namun bangsa Indonesia selama ini belum mampu membiayai keseluruhan kebutuhan obat dan vaksin di dalam negeri, sehingga masih perlu mendatangkan dari luar negeri. Dalam kondisi demikian, efisiensi harga menjadi pertimbangan yang sangat penting.

Di sisi lain, kebutuhan vaksin juga terus meningkat. Beberapa vaksin baru perlu dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan seiring munculnya berbagai jenis penyakit yang sangat efektif dicegah dengan vaksin. Sebagai contoh, pneumonia dan diare merupakan penyebab utama angka kematian bayi masih tinggi di Indonesia. Perlu dikembangkan vaksin untuk mencegah dan menekan angka kematian akibat kedua penyakit tersebut.

Sementara, ekonom kesehatan dari Universitas Padjadjaran, Auliya Suwantika, yang juga menjadi pembicara dalam diskusi panel tersebut mengatakan, Indonesia menempati peringkat ketujuh sebagai negara dengan angka kematian bayi berusia di bawah lima tahun akibat pneumonia. Data menunjukkan, rata-rata kematian akibat penyakit pneumonia pada anak di bawah 5 tahun mencapai 25.000 orang per tahunnya. Kematian akibat penyakit pneumonia menyumbang 17% dari total kematian anak di bawah lima tahun.

"Fakta ini harus diperhatikan, lantaran Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kematian bayi akibat pneumonia, yang tidak memasukkan vaksin pneumonia sebagai wajib imunisasi dasar," ucap Auliya.

Paket Imunisasi
Menanggapi hal ini, Direktur Tata Kelola Obat Publik dan Perbekalan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes), Sadiah, mengungkapkan pemerintah sedang mengupayakan agar vaksin pneumonia dapat masuk dalam paket imunisasi dasar dan dapat diakses masyarakat dengan harga yang terjangkau. Kemkes masih membahas langkah-langkah dalam pertemuan lintas kementerian dan lembaga. Karena menurut Sadiah untuk memproduksi vaksin dan digunakan secara massal dibutuhkan regulasi yang pasti, bukan hanya dari Kemkes melainkan juga kementerian lain.

Kemkes sendiri menargetkan ketergantungan terhadap bahan baku obat impor turun sebesar 15% dalam dua tahun ke depan atau di 2021 mendatang. Ada sekitar 14 jenis obat yang bahan bakunya akan diproduksi sendiri oleh Indonesia pada 2021. Di antaranya, sefalosporin (kelompok antibiotik membunuh bakteri) dan turunannya, atorvastatin dan simvastatin (menurunkan kolesterol), clopidogrel (untuk jantung) entecavir (hepatitis B), efavirenz (antiretroviral untuk HIV/AIDS, dan erythropoetin atau EPO (mengobati anemia). Juga diproduksi sendiri insulin, probiotik, ekstrak bahan alam, sel punca protein, fraksionasi darah, vaksin dan golongan beta laktam buat mengatasi infeksi bakteri.

Saat membuka pameran teknologi farmasi dan alkes 2019 di Jakarta, baru-baru ini, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, mengatakan, industri farmasi dalam negeri terus bertumbuh. Saat ini 72% industri yang beroperasi di Indonesia adalah industri lokal. Namun, bahan baku yang dipakai 95% masih diimpor dari negeri lain. Demikian pula industri alat kesehatan (alkes) tumbuh 12% setiap tahun, namun 90% alat kesehatan yang beredar masih didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan pada impor ini menyebabkan biaya layanan kesehatan menjadi mahal.

"Kondisi ini harus kita ubah. Karena itu saya harapkan dukungan untuk meningkatkan kemandirian alkes dan obat dalam negeri sehingga tercipta layanan bermutu dan terjangkau," kata Menkes.

Menkes mengatakan, banyak sekali inovasi yang dihasilkan akademisi dan perguruan tinggi, tetapi belum sampai pada skala produksi. Inovasi ini perlu dikawinkan dengan hilirisasi atau industri untuk diproduksi secara massal.



Sumber: BeritaSatu.com