Kemkes Targetkan Impor Bahan Baku Obat Turun 15%

Kemkes Targetkan Impor Bahan Baku Obat Turun 15%
Nila Moeloek. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / IDS Rabu, 11 September 2019 | 12:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku untuk produk obat dan alat kesehatan impor masih tinggi. Saat ini, sekitar 95% bahan baku obat mengandalkan impor dari sejumlah negara seperti India dan Tiongkok. Kementerian Kesehatan (Kemkes) menargetkan ketergantungan terhadap impor ini ini turun sampai 15 % dalam dua tahun atau 2021 mendatang.

Menteri Kesehatan (Menkes), Nila Moeloek mengatakan, industri farmasi (obat, vaksin, dan bahan medis habis pakai) dalam negeri terus bertumbuh. Saat ini, 72% industri yang beroperasi di Indonesia adalah industri lokal. Namun, bahan baku yang dipakai 95% masih diimpor dari negeri lain. Demikian pula industri alat kesehatan (alkes) tumbuh 12% setiap tahun, namun 90% alat kesehatan yang beredar masih didatangkan dari luar negeri. Ketergantungan pada impor ini menyebabkan antara lain biaya layanan kesehatan menjadi mahal.

“Kondisi ini harus kita ubah. Karena itu saya harapkan dukungan untuk meningkatkan kemandirian alkes dan obat dalam negeri sehingga tercipta layanan bermutu dan terjangkau,” kata Menkes pada acara pameran teknologi farmasi dan alkes 2019 di Jakarta, Selasa (10/9).

Menkes mengatakan, banyak sekali inovasi yang dihasilkan akademisi dan perguruan tinggi, tetapi belum sampai pada skala produksi. Ini perlu dikawinkan dengan hilirisasi atau industri untuk diproduksi secara massal.

Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, menurut Menkes, pihaknya terus mendorong rumah sakit (RS) untuk membeli produk dari industri dalam negeri. Salah satu dorongan Kemkes sudah dilakukan melalui penerapan e-catalogue atau katalog elektronik, yaitu informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga istem informasi elektronik yang memuat daftar, jenis, spesifikasi teknis dan harga obat dari perusahaan farmasi atau pemerintah.

Menkes menambahkan, saat ini industri dalam negeri sudah mampu memenuhi standar peralatan minimal untuk RS kelas D (RS kabupaten) mencapai 69,44%. Sedangkan kelas C sampai 61,7%, kelas B sebesar 54,18%, dan kelas A hingga 50,82%. Kesanggupan memenuhi kebutuhan rata-rata di atas 50% ini tentu berkontribusi pada pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi masyarakat. Selain itu, mendorong tumbuhnya kemandirian pelayanan kesehatan dalam negeri dan dunia ekonomi secara nasional.

Menkes mengatakan, investasi industri alkes dalam negeri terus meningkat setiap tahunnya. Di 2017, total investasi baru Rp 18,7 triliun kemudian naik Rp 26,2 triliun tahun 2018, dan menjadi Rp 29,5 triliun pada 2019. Demikian pula invetasi bidang farmasi meningkat dari Rp 53,76 triliun (2017) menjadi Rp 53,95 trriliun (2018), dan Rp 59,42 triliun per Juni 2019.



Sumber: Suara Pembaruan