Cordlife Perluas Edukasi Skrining Awal Kehamilan

Cordlife Perluas Edukasi Skrining Awal Kehamilan
Country Director PT Cordlife Persada Retno Suprihatin dan Medical Advisor PT Cordlife Persada Meriana Virtin pada acara ‘Cordlife & Client Luncheon’ di Hotel JW Marriot Surabaya, Minggu (8/9/2019). ( Foto: Beritasatu Photo / Amrozi Amenan )
Amrozi Amenan / FER Senin, 9 September 2019 | 21:56 WIB

Surabaya, Beritasatu.com - PT Cordlife Persada akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat untuk memperluas keterjangkauan layanan skrining di awal kehamilan atau NIPT (Non Invassive Penatal Test).

Country Director PT Cordlife Persada, Retno Suprihatin, menyatakan, edukasi kepada masyarakat terutama ibu hamil (bumil) di Indonesia tentang pemeriksaan atau tes kromosom bayi dalam kandungan masih butuh upaya yang keras hingga mereka sadar betul tentang perlunya tes tersebut. Selain itu, edukasi harus dilakukan secara bertahap dengan membuat pilihan-pilihan untuk skrining kehamilan sebagai pilihan awam ibu hamil yang terjangkau.

"Memberikan pilihan itulah yang sedang Cordlife lakukan dengan menghadirkan layanan skrining di awal kehamilan, NIPT yang kita anggap pilihan yang realible dibandingkan opsi-opsi skrining kehamilan yang ada sekarang dengan harga yang terjangkau," kata Retno Suprihatin di sela acara 'Cordlife & Client Luncheon' di Hotel JW Marriot Surabaya, Minggu (8/9/2019).

Retno menjelaskan, sembari memberikan pilihan untuk skrining kehamilan itu, Cordlife akan terus melakukan edukasi kepada masyarakat dengan berbagai aktivitas seperti seminar, bincang kesehatan, sarasehan dan aktivitas di media sosial. Harapannya, layanan NIPT ini akan lebih luas lagi menjangkau masyarakat di Indonesia. Sejauh ini, melalui kegiatan edukasi jumlah pasangan yang melakukan tes kromosom di laboratorium Cordlife terus meningkat. Sejak layanan itu dilansir pada 2017 lalu, setiap bulan ada sekitar 50 pasangan yang melakukan tes pada usia trismester pertama.

"Ini menunjukkan opsi yang kami tawarkan memang terjangkau. Jadi ini bukan masalah biaya tes yang mahal tapi lebih dikerenakan kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang perlunya skrining di awal kehamilan. Karena itu, kita akan terus melakukan edukasi ke masyarakat,” tandas Retno Suprihatin.

Retno menambahkan efektivitas edukasi kepada masyarakat bukan hanya berpengaruh pada meningkatnya kesadaran masyarakat tentang perlunya tes kromosom elain juga peningkatan layanan penyimpanan darah tali pusat yang berlipat ganda (double digit) setiap tahun.

"Hingga saat ini tercatat ada 11.000 tali pusat yang disimpan di Cordlife. Tahun ini kami juga menargetkan kenaikan double digit dari tahun lalu," imbuh Retno Suprihatin.

Tes deteksi kelainan kromosom pada bayi itu akan dapat membantu orang tua menyiapkan penanganan lebih dini secara tepat bila ditemukan kelainan kromosom yang mungkin dapat menyebabkan timbulnya berbagai penyakit tertentu seperti sindrom down.

Ahli kandungan, dr Benekditus Arifin MPHSpOG (K) FICS, mengatakan, biaya tes kromosom yang dianggap oleh sebagian ibu hamil sekarang masih cukup mahal menjadikan tak semua ibu hamil melakukan tes kromosom.

"Masih sedikitnya peminat tes kromosom ini bisa jadi menyebabkan mahalnya biaya tes kromosom saat ini. Sementara teknologi atau fasilitas laboratorium yang digunakan pada tes kromosom juga masih cukup mahal," kata Benediktus.

Benediktus menyebut kondisi tersebut tak ubahnya seperti pada penggunaan vaksin dulu yang juga dianggap mahal karena masih sedikit yang memakainya. Atau juga sama halnya dengan tes hepatitis yang dulu juga dianggap mahal. Tetapi, begitu pengguna vaksin atau orang yang memanfaatkan tes hepatitis sudah banyak, maka biayanya juga semakin murah.

"Jadi saya juga yakin suatu saat nanti kalau sudah banyak yang melakukan tes kromosom biayanya juga akan semakin rendah," kata Benediktus.

Benekditus berpendapat, untuk memancing lebih banyak lagi peminat tes kromosom, ada beberapa langkah yang mungkin bisa lakukan, termasuk laboratorium perlu menekan biayanya. Selain itu, perlu juga peran dari berbagai pihak termasuk dokter kandungan untuk mengedukasi masyarakat tentang pengetahuan perlunya tes itu, sehingga masyarakat yang melakukan tes kromosom akan lebih banyak lagi.

"Tes kromosom ini akan membuat ibu hamil bisa tenang. Kalau pun memang diketahui ada high risk dari tes tersebut, orang tua juga bisa melakukan konsultasi dengan dokter apa yang perlu disiapkan dari effect yang ditimbulkan dari kelainan kromosom seperti timbulnya sindrom down," imbuh Benediktus.

Sementara Medical Advisor PT Cordlife Persada, Meriana Virtin, menambahkan, masalah utama pemeriksaan kromosom di Indonesia bukan soal biaya, melainkan masalah edukasi atau pengetahuan masyarakat tentang kegunaan tes kromosom itu sendiri. Tes kromosom dilakukan untuk skrining kemungkinan adanya kelainan kromosom atau tidak. Kalau misanya hasilnya low risk berarti ibunya bisa tenang, namun sebaliknya bila hasilnya high risk maka sebaiknya perlu dilakukan konsultasi, tindakan atau pemeriksaan lanjutan.

"Jadi kembali lagi ke dasar pemeriksaan itu, perlu apa tidak. Kalau dianggap perlu dan memang diketahui ada kelainan tentunya akan ada tindakan lanjutan, tapi kalau tidak perlu ya dibiarkan sampai ada resiko saat bayi lahir. Masalah pengetahuan inilah yang menjadi PR kita. Sehingga kita memang perlu lakukan edukasi kepada masyarakat secara luas," tegas Meriana Virtin.



Sumber: Investor Daily