Surplus Neraca Perdagangan Harus Dibarengi Perbaikan Fundamental
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Surplus Neraca Perdagangan Harus Dibarengi Perbaikan Fundamental

Sabtu, 17 Oktober 2020 | 11:25 WIB
Oleh : Herman / JAI

Jakarta, Beritasatu.com - Neraca perdagangan Indonesia yang mengalami surplus lima bulan berturut-turut, harus dibarengi dengan perbaikan fundamental ekspor. Pemerintah harus memperkuat kinerja ekspor secara fundamental, untuk mengantisipasi kondisi ekonomi global yang tidak pasti akibat dampak pandemi Covid-19.

Seperti diketahui, Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kamis (15/10), melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 kembali mengalami surplus sebesar US$ 2,44 miliar.

Surplus ini dihasilkan oleh kinerja ekspor yang mencapai US$ 14,01 miliar atau meningkat 6,97% dibanding ekspor Agustus 2020. Sedangkan untuk nilai impor mencapai US$ 11,57 miliar atau naik 7,71%. BPS mencatat ini merupakan surplus kelima berturut-turut sepanjang tahun sejak Mei 2020.

Menurut Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Ahmad Heri Firdaus, surplus perdagangan tersebut di satu sisi merupakan tren yang baik. Namun di sisi lain, perlu juga dilihat keberlanjutan ke depannya. Apalagi situasi global hingga saat ini juga masih diliputi ketidakpastian dengan adanya pandemi Covid-19.

“Kita tidak pernah tahu dinamika global ke depannya akan seperti apa. Sehingga yang perlu dilakukan adalah memperkuat fundamental ekspor kita dalam berbagai kondisi global yang tidak pasti. Jadi, mutlak diperlukan peningkatan daya saing produk ekspor. Bukan hanya dari sisi barang, tetapi juga dari iklim usaha dan aturan ekspor-impor, maupun juga diversifikasi pasar,” kata ekonom yang akrab disapa Heri itu, kepada Beritasatu.com, Jumat (16/10/2020).

Heri mengugkapkan, surplus perdagangan Indonesia belum mencerminkan peningkatan daya saing secara fundamental. Apalagi kondisi perekonomian negara lain juga sedang mengalami pelemahan yang bahkan sebagian lebih dalam dari Indonesia.

“Kita bisa surplus karena negara lain mungkin sedang ‘sakit’. Tetapi kalau negara lain sedang ‘sehat’, belum tentu juga kita bisa surplus. Makanya surplus ini harus diiringi juga dengan perbaikan-perbaikan secara fundamental,” ujar Heri.

Agar kinerja ekspor bisa terus baik, lanjutnya, Indonesia harus memperkuat potensi produk yang bisa bersaing di pasar ekspor dengan memperkuat struktur industrinya. Sebab jika struktur industri yang kuat kan berarti dari bahan mentah sampai jadi, semuanya dimiliki dan bisa diproduksi Indonesia.

“Barang-barang apa saja yang bisa kita unggulkan di situ, itulah yang bisa kita jual. Ini lebih berkelanjutan ketimbang kita terlalu memaksakan di satu produk tertentu yang belum tentu kompetitif,” tutur Heri.

Ideal

Heri menjelaskan, surplus neraca perdagangan sebetulnya baru bisa dikatakan baik apabila kinerja ekspor dan impor sama-sama meningkat, namun peningkatannya lebih tinggi ekspor. Sementara itu dalam beberapa bulan di tahun 2020, impornya justru mengalami penurunan yang cukup dalam, terutama impor bahan baku/penolong industri dan impor barang modal.

Untuk periode September 2020, kondisinya memang sudah lebih baik, di mana ekspor dan impor sama-sama meningkat, tetapi peningkatannya lebih tinggi impor.

Kemudian jika melihat data secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–September 2020 mencapai US$ 117,19 miliar atau turun 5,81% dibanding periode yang sama tahun 2019. Sementara itu, nilai impor kumulatif Januari–September 2020 tercatat US$ 103,6 miliar atau turun 18,15%.

“Secara kumulatif, memang sebenarnya turun karena adanya pelemahan. Ini yang harus diwaspadai, setidaknya bagaimana nanti kita ke depan dalam situasi global yang penuh ketidakpastian kita bisa terus positif (surplus),” kata Heri.

Dia juga menyoroti kinerja penurunan impor bahan baku industri dan barang modal dalam beberapa bulan di tahun 2020. Menurutnya, hal tersebut juga mengindikasikan adanya kontraksi industri, sehingga permintaan bahan baku dikurangi.

“Kalau ada penurunan impor, indikasinya ada kontraksi di industri kita. Jadi kalau surplus, belum tentu baik juga, terutama kalau penurunan impornya jauh lebih besar daripada penurunan ekspor. Yang bagus itu kalau ekspor dan impor sama-sama meningkat, tetapi peningkatannya lebih tinggi ekspor,” ujar Heri.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Sepekan, Rata-rata Frekuensi Transaksi Saham Meningkat 34,57%

Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama sepekan, dari 12 Oktober 2020 sampai 16 Oktober 2020, mengalami pergerakan yang positif.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

AREBI Ajak Broker Properti Ikuti "The Biggest Real Estate Summit 2020"

Pengetahuan broker properti harus terus ditambah agar bisa bekerja profesional. Apalagi akibat pandemi Covid-19 persaingan antarbroker properti semakin ketat.

EKONOMI | 15 Oktober 2020

Allianz Indonesia Ajak Milenial Ciptakan Lapangan Kerja

Allianz Life memahami aspirasi masa depan generasi millenial untuk mendirikan bisnis secara mandiri di industri asuransi.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Tren Pasar Mobil Bekas Membaik

Menurut survei, tiga bulan setelah diberlakukannya PSBB, ada peningkatan pada penjualan dan pembelian mobil bekas.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

BONUM POS, All in One Aplikasi Kasir Digital dari Telkom untuk UMKM di Indonesia

Meningkatnya peran Usaha Mikro, Kecil & Menengah (UMKM) dalam akselerasi perputaran perekonomian Indonesia melalui kontribusinya pada Produk Domestik Bruto

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Harga Minyak Tertekan Kekhawatiran Covid-19 dan Pasokan Berlebih

Harga minyak Brent naik 0,2 persen untuk minggu ini, sementara harga minyak WTI meningkat 0,7 persen.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Surplus Neraca Perdagangan Harus Dibarengi Perbaikan Fundamental

Neraca perdagangan Indonesia pada September 2020 kembali mengalami surplus sebesar US$ 2,44 miliar.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Stoxx600 Eropa Ditutup Menguat 1,3%

Indeks Stoxx600 naik 1,26 persen, DAX Jerman naik 1,62 persen, FTSE Inggris naik 1,49 persen, CAC Prancis naik 2,04 persen, FTSE MIB Italia naik 1,7 persen.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

Terangkat Data Ritel, Dow Jones Ditutup Menguat

Dow Jones naik 0,4 persen ke 28.606,31, S&P 500 menguat tipis 0,01 persen ke 3483,81, dan Nasdaq turun 0,36 persen ke 11.671,55.

EKONOMI | 17 Oktober 2020

3 Hari Ambles, Wall Street Dibuka Naik Ditopang Penjualan Ritel

Dow Jones Industrial Average naik 155 poin atau 0,6 persen.

EKONOMI | 16 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS