Saat Perang Dagang Berbuah Peluang untuk Asia
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Saat Perang Dagang Berbuah Peluang untuk Asia

Senin, 9 September 2019 | 16:32 WIB
Oleh : Natasia Christy Wahyuni / JAI

Tokyo, Beritasatu.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok dapat membuahkan peluang bahkan keuntungan bagi negara-negara di Asia.

Hal itu disampaikan oleh pengamat ekonomi yang merupakan manajer keuanagn di JPMorgan Chase Bank, Rashmi Gupta, dalam wawancara dengan Markets Insider, Kamis (29/8).

Menurut dia, perang dagang antara AS dan Tiongkok sudah berdampak pada peralihan bisnis. Perusahaan-perusahaan AS mulai mengalihkan pabriknya dari Tiongkok ke kawasan Asia Tenggara, antara lain Vietnam.

Pasalnya, saat ini perusahaan-perusahaan AS membuat produk-produknya di Tiongkok atau menggunakan produk-produk dari Tiongkok dalam rantai pasokan global mereka. Tapi untuk menghindari tarif atas produk-produk Tiongkok, mereka dapat mengalihkan produksinya dari Tiongkok ke negara-negara Asia.

Senada dengan itu, dalam laporan bulan Juni 2019, kelompok ekonom di perusahaan keuangan Jepang, Nomura, memberi peringkat kepada negara-negara yang akan paling diuntungkan dari pengalihan impor antara AS dan Tiongkok ke negara lainnya. Produk-produk yang dialihkan sebagian besar barang elektronik, diikuti furnitur dan perlengkapan perjalanan.

“Ini bisa jadi positif dan menguntungkan bagi beberapa industri di ekonomi-ekonomi ini,” sebut pernyataan Nomura.

Pemindahan impor dari Tiongkok sudah disampaikan Presiden AS Donald Trump sebagai salah satu opsi. Dalam pesannya di Twitter pekan lalu, Trump memerintahkan perusahaan-perusahaan Amerika agar keluar dari Tiongkok setelah Beijing menerapkan tarif impor balasan senilai US$ 75 miliar (Rp 1.067 triliun) barang AS. Trump menegaskan agar perusahaan-perusahaan AS secepatnya mencari alternatif untuk berbisnis dengan Tiongkok.

Dalam pesan yang sama, Trump membalas langkah Tiongkok dengan meningkatkan tarif yang sudah berlaku atas barang impor dari Tiongkok senilai US$ 250 miliar (Rp 3.559 triliun) dari 25 persen menjadi 30 persen per 1 Oktober 2019. Dia menambahkan total impor US$ 300 miliar (Rp 4.270 triliun) yang akan diberlakukan tarif per 1 September 2019 akan dikenakan pajak 15 persen, bukan 10 persen.

Negara-negara pasar tambahan telah terpukul keras atas perang dagang AS-Tiongkok tahun ini. Indeks MSCI Emerging Markets tetap datar pada 2019, sedangkan Indeks S&P 500 telah naik lebih dari 14 persen. Namun, Gupta mengatakan masih banyak peluang di pasar-pasar negara berkembang.

“Kita berbicara tentang pasar-pasar negara berkembang satu bagian, satu kelas aset, tapi Anda harus ingat ada banyak negara yang berbeda,” ujar Gupta.

Perbedaan itu, ujarnya termasuk dari sisi rezim kebijakan dan pemicu pertumbuhan, yang bisa membuat pasar-pasar berkembang menjadi lahan kaya untuk pengembalian. Misalnya, berdasarkan kenaikan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dari perdagangan, Nomura mencatat delapan negara yang mendapatkan keuntungan dari perang dagang AS-Tiongkok.

Diuntungkan

Peringkat pertama dari penilaian Nomura, adalah Vietnam dengan keuntungan PDB dari perdagangan sebesar 7,9 persen. Produk-produk yang memicu keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel, suku cadang untuk kantor dan mesin otomatis pemroses data. Negara ini juga bisa mendapatkan kenaikan 5 persen dari total ekspor.

Peringkat kedua adalah Taiwan dengan keuntungan PDB dari perdagangan 2,1 persen. Produk-produk penghasil keuntungan antara lain peralatan listrik untuk ponsel dan suku cadang untuk kantor atau mesin otomatis pemroses data. Peringkat ketiga adalah Malaysia denagn nilai keuntungan PDB 1,5 persen. Produk yang menghasilkan keuntungan adalah semikonduktor dan gas alam. Peringkat keempat adalah Hong Kong dengan keuntungan PDB 1 persen dan produknya adalah emas.

Selanjutnya berturut-turut adalah Korea Selatan (keuntungan PDB: 0,8 persen), Singapura (keuntungan PDB: 0,7 persen), Thailand (keuntungan PDB: 0,5 persen), dan Filipina (keuntungan PDB: 0,1 persen).

Keuntungan perang dagang AS-Tiongkok setidaknya sudah dirasakan oleh dua perusahaan di Vietnam yang memproduksi sepeda listrik untuk Pedego, yaiitu perusahaan Amerika berbasis di California. Sekitar 80 persen suku cadang sepeda Pedego awalnya berasal dari Tiongkok, tapi sekarang tidak lagi.

“Sekarang, kami mungkin 70 persen di Vietnam, dan 30 persen di Taiwan,” kata salah satu pendiri dan kepala eksekutif Pedego, Don DiCostanzo.

Pada Februari 2018, DiCostanzo memutuskan untuk memindahkan produksi ke Vietnam karena ancaman tingginya tarif Uni Eropa (UE) atas barang-barang sepeda listrik buatan Tiongkok. Produksi di Vietnam dimulai tujuh bulan setelahnya, yaitu September 2018. Ini merupakan bulan yang sama saat pemerintah AS memerintahkan tarif pada produk-produk buatan Tiongkok termasuk sepeda listrik.

“Kami setelah itu dapat mempercepat produksi. Dan kami mulai memproduksi sepeda di Vietnam untuk negara ini (AS) pada September, tepat setelah tarif diberlakukan,” kata DiCostanzo.

Perusahaannya kemudian mengurangi seluruh produksi di Tiongkok dan memindahkannya ke Vietnam. Selanjutnya pada awal 2019, pabrik-pabrik di Vietnam memproduksi sepeda untuk Pedego. Namun, beberapa suku cadang masih berasal dari Tiongkok, sehingga DiCostanzo masih mencari negara-negara lain untuk mengalihkan produksinya. Otomatis saat ini, kebutuhan Pedego untuk suku cadang dari Tiongkok semakin lama menurun.

Negara di luar kawasan Asia yang juga diuntungkan atas perang dagang AS-Tiongkok adalah Meksiko. Perusahaan kamera berbasis di AS, GoPro memindahkan produksinya untuk AS dari Tiongkok ke Meksiko sejak Juni 2019. Namun, kamera-kamera GoPro untuk pasar lain selain AS tetap dibuat di Tiongkok.

“Kedua negara mendapatkkan keuntungan paling besar adalah Vietnam dan Meksiko. Dan setiap orang di sini melihat mereka dengan iri,”” kata Kepala Pusat untuk Ekonomi Kawasan di Institut Milken California, Kevin Klowden.

Biro Sensus AS melaporkan barang-barang impor dari Meksiko mengalami peningkatan lebih dari enam persen dalam enam bulan pertama tahun 2019, dibandingkan periode yang sama pada 2018. Senada dengan itu, impor dari Vietnam selama periode sama juga meningkat lebih dari 33 persen. Sedangkan, impor Tiongkok untuk periode yang sama turun sampai lebih dari 12 persen.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

AS-Tiongkok Tak Lagi Menyasar Kenaikan Tarif

1 September 2019 menjadi babak baru perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

DUNIA | 9 September 2019

Dalam 3 Tahun, Saudi Dua Kali Pecat Menteri Perminyakan

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud pada Minggu (8/9) menggantikan menteri energi perminyakan dengan salah satu putranya.

DUNIA | 9 September 2019

30.000 WN Malaysia Ajukan Suaka ke Australia

Ada kekhawatiran Canberra terkait tingginya jumlah warga Malaysia yang mengajukan suaka di Australia.

DUNIA | 8 September 2019

Kemlu: Wapres Instruksikan Penanganan Pengungsi Kalideres

Penanganan pemindahan pengungsi luar negeri dari gedung bekas Kodim di Kalideres, Jakarta Barat, mendapatkan perhatian dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

DUNIA | 8 September 2019

Robert Mugabe, Tokoh Zimbabwe yang Dikenang Penuh Kontroversi

Semasa hidup, mantan presiden Zimbabwe Robert Mugabe sering melontarkan pernyataan-pernyataan eksentrik, dan kerap menuai kontroversi.

DUNIA | 8 September 2019

Tanzania Sita Gading dari Pembantaian 117 Ekor Gajah

Tanzania telah menyita ratusan gading yang setara dengan pembantaian setidaknya 117 ekor gajah.

DUNIA | 8 September 2019

AS Coba Suap Kapten Kapal Tanker Iran

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) telah mengkonfirmasi bahwa pihaknya memang menawarkan uang jutaan dolar kepada kapten kapal tanker minyak Iran

DUNIA | 8 September 2019

Akibat Kebakaran, Bolivia Kehilangan 1,7 Juta Ha Hutan

Kebakaran hutan yang mengamuk di hutan-hutan dan padang rumput Bolivia sejak Mei telah menghancurkan 1,7 juta hektare hutan.

DUNIA | 8 September 2019

Rusia dan Ukraina Bertukar Tahanan

"Ukraina menyerahkan 35 orang ke Rusia, kami menyerahkan jumlah yang sama ke Ukraina.”

DUNIA | 7 September 2019

Iran Sita Kapal Diduga Selundupkan Minyak di Teluk

Kapal itu mengangkut hampir 284.000 liter diesel.

DUNIA | 7 September 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS