PJJ Berdampak Negatif bagi Psikis dan Kehidupan Sosial Anak
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

PJJ Berdampak Negatif bagi Psikis dan Kehidupan Sosial Anak

Minggu, 25 Oktober 2020 | 21:37 WIB
Oleh : Diana Fitri Anisa / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Pandemi Covid-19 sudah menjalani bulan kedelapan. Situasi ini berdampak pada beberapa kebijakan termasuk pada pola pembelajaran yang berubah dari Pembelajaran Tatap Muka (PTM) menjadi daring. Dengan pembelajaran daring atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) ini, terdapat beberapa masalah yang muncul. Mulai dari kuota internet yang memberatkan orang tua murid, hingga rentan terganggunya psikologis orang tua maupun siswa.

Psikolog Anak dan Remaja, Novita Tandry mengatakan, kondisi psikologis orang tua di rumah sangat memengaruhi diri anak yang sedang melakukan adaptasi di masa pandemi ini. Jika orang tua tidak mampu berdamai dengan situasi sulit ini dan selalu menunjukkan tindakan serta emosi yang tidak stabil di depan anak, maka anak-anak pun akan mengalami hal serupa.

Lambat laun, kondisi ini membuat anak-anak sulit menangkap materi pelajaran yang diberikan guru dan merasa tertekan selama berada di rumah. Seperti yang terlihat dalam video viral beberapa waktu lalu, seorang ibu menahan geram saat mengajari anaknya menghapal Pancasila.

“Mungkin bagi orang yang menontonnya hal itu sebagai bahan candaan yang lucu. Namun sesungguhnya ini adalah cambukan untuk orang tua yang selama ini menyerahkan tanggung jawab ke sekolah dan guru. Orang tua hanya jadi pengontrol, tetapi tidak pernah hadir. Padahal sesungguhnya, setiap rumah adalah sekolah bagi anak, dan setiap orang tua adalah pendidik, guru pertama bagi anak,” jelasnya saat dihubungi Beritasatu.com melalui saluran telepon, Minggu (25/10/2020).

Solusinya, agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara fisik dan psikis dengan baik di masa pandemi ini, diharapkan orang tua dapat lebih bersabar dan juga berdamai dengan situasi. Jangan sampai, persoalan berlarut terlebih saat anak menemukan teman baru di rumah yaitu, gawai.

Menurutnya, dalam satu genggaman gawai di era digital saat ini, anak-anak dapat berbagai kemudahan yang berlimpah dalam mengakses pengetahuan, informasi, dan hiburan, kapan pun dan di mana pun, tanpa ada batasan waktu. Namun, di samping segala kemudahan dan dampak positif tersebut, hal ini juga memberikan dampak negatif bagi anak, baik dari aspek psikologi maupun kesehatan.

“Saat anak kecanduan gawai, semua aspek tumbuh kembang tidak bisa dicapai secara optimal. Anak lebih tumbuh dan berkembang satu arah. Hal yang lebih parah jika gawai menggantikan peran orang tua. Anak tumbuh seperti robot dengan Artificial Intelligence (AI), cerdas tetapi tanpa empati,” ungkapnya.

Dalam sesi wawancara lainnya, psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani mengatakan bahwa, orangtua dapat mendorong anak melakukan sosialisasi dengan temannya di masa pandemi ini. Meski tidak dapat bertatap muka secara langsung, orang tua bisa mengajak anak-anaknya untuk melakukan panggilan video (video call) dengan teman-teman serta guru di luar jam sekolah.

“Bisa pula, orang tua mengajak anaknya membuat sebuah kreasi masakan yang nantinya bisa dikirim kepada teman-teman sekolahnya. Hal seperti ini akan mencegah anak-anaknya untuk tidak menjadi sosok individualis selama PJJ di rumah,” jelasnya.

Selain itu, guru-guru juga bisa memberikan tugas yang dapat dikerjakan oleh kelompok siswa secara luring maupun daring. Tidak perlu dalam jumlah besar, yang terpenting anak-anak bisa kembali melakukan diskusi bersama teman-temannya.

Perempuan yang akrab disapa Nina ini mengatakan bahwa, anak-anak dan remaja adalah kelompok orang yang mudah beradaptasi terhadap sebuah situasi. Sehingga, jika diberikan bimbingan dengan baik, maka PJJ di masa pandemi ini tidak akan menjadi beban psikis dan sosial untuk anak-anak.

Terkait dengan prioritas pemberian vaksin Covid-19 yang tidak ditunjukkan kepada anak-anak, Nina menilai hal tersebut bukanlah menjadi hal utama yang harus dipersoalkan. Mengingat, berdasarkan regulasi terkini, vaksin Covid-19 diutamakan untuk kelompok usia 18 sampai 59 tahun dilakukan dengan memperhatikan aspek keamanan. Artinya, bagi kelompok anak-anak dan lanjut usia (lansia) masih menunggu perkembangan dari vaksin tersebut.

“Sekarang bukan masalah setuju tidak setuju, tetapi yang harus dilihat adalah, apakah vaksin tersebut aman buat anak kita? Jika penelitian belum bisa menjawabnya, maka hal yang saat ini orang tua bisa lakukan adalah tetap menjaga kesehatan anak-anaknya selama di rumah, melakukan interaksi secara intens dengan anak, dan tetap mendorong anak-anak untuk bersosialisasi dengan teman-temannya,” ungkapnya.

Kepala sekolah taman kanak-kanak Kidsera Kindergarten, Robin Valentino Hadi mengatakan bahwa, selama masa PJJ berlangsung anak-anak dinilai tetap bisa mengikuti rangkaian pembelajaran dengan baik. Mengingat, guru dan orang tua selalu rutin melakukan konsultasi untuk mengetahui perkembangan anak selama di rumah.

Namun, dirinya pun juga mengakui bahwa PJJ ini juga memberikan dampak negatif, terutama bagi anak-anak TK yang baru memulai melakukan interaksi sosial dengan anak-anak sebayanya. Dengan adanya PJJ yang telah berlangsung selama tujuh bulan ini, ia mengkhawatirkan kemampuan berinteraksi anak dengan teman sebayanya akan sedikit terhambat.

“Suasana belajar di rumah tidak bisa 100% sama dengan sekolah. Setiap hari anak-anak hanya ketemu kakak, adik, dan juga orang tuanya. Namun balik lagi, pola asuh orang tua dan metode belajar yang disinergikan dapat membantu anak membangun kepercayaan diri agar dapat bersosialisasi dengan baik kepada temannya jika pembelajaran tatap muka sudah dimulai kembali,” tukasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Survei Indikator: 50,2% Masyarakat Inginkan Pilkada Ditunda

Hal itu karena penyebaran virus corona atau Covid-19 masih tinggi dan belum sepenuhnya bisa dikendalikan.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Gempa Selatan Jawa Barat Miliki Guncangan Luas dan Kuat

Gempa tersebut memiliki guncangan luas hingga Semarang, Yogyakarta dan Tegal karena tergolong gempa dalam lempeng.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Direktur Merial Institute Ajak Pemuda Berkontribusi untuk Bangsa

Dibutuhkan pemuda yang berkarakter, cinta tanah air, dan berjiwa nasionalisme untuk bahu-membahu dan bergotong royong menangani masalah Covid-19.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Gunung Sinabung Luncurkan Awan Panas Setinggi 1.500 meter

Gunung Sinabung di Dataran Tinggi Karo, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara meluncurkan awan panas setinggi 1.500 meter, Minggu (25/10/2020).

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Pedagang Positif Covid-19, Pasar Harjodaksino Solo Ditutup

Penutupan selama dua hari.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Menko PMK Minta Patriotisme Pemuda Harus Terus Ditingkatkan

Keberhasilan pembangunan pemuda, menjadi salah satu kunci sukses dalam memanfaatkan bonus demografi yang dialami Indonesia.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Kompolnas: Perlu Hukuman Tegas bagi Oknum Polisi yang Terlibat Narkoba

Diperlukan hukuman yang tegas agar ada efek jera.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Lawan Covid-19, Kempora Ajak Kaum Muda Bangkit dan Bersatu

Dalam rangka Sumpah Pemuda, Kempora mengajak kaum pemuda bangkit bersama di era pandemi ini dan bersatu padu melawan Covid-19 sekaligus mencegah penularannya.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Kempora Umumkan Pemenang Pasangan Muda Inspiratif dan Berprestasi

Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) mengumumkan pemenang Pemilihan Pasangan Muda Inspiratif dan Berprestasi Tahun 2020.

NASIONAL | 25 Oktober 2020

Kompolnas: Riau Jadi Lokasi Peredaran dan Transit Narkoba

Provinsi Riau adalah daerah peredaran sekaligus transit narkoba.

NASIONAL | 25 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS