Nelayan Tiongkok di Natuna Disinyalir Tak Sekadar Cari Ikan
INDEX

BISNIS-27 441.115 (-6.71)   |   COMPOSITE 4999.36 (-65.27)   |   DBX 926.724 (-1.92)   |   I-GRADE 133.264 (-2.43)   |   IDX30 420.076 (-6.65)   |   IDX80 109.661 (-1.57)   |   IDXBUMN20 278.261 (-5.6)   |   IDXG30 116.81 (-1.43)   |   IDXHIDIV20 376.476 (-5.76)   |   IDXQ30 123.185 (-2.27)   |   IDXSMC-COM 212.981 (-1.87)   |   IDXSMC-LIQ 238.919 (-2.11)   |   IDXV30 103.357 (-0.89)   |   INFOBANK15 795.289 (-18.41)   |   Investor33 366.258 (-6.17)   |   ISSI 146.103 (-1.34)   |   JII 529.041 (-5.13)   |   JII70 179.515 (-1.95)   |   KOMPAS100 981.638 (-15.57)   |   LQ45 767.973 (-11.6)   |   MBX 1387.12 (-20.31)   |   MNC36 275.074 (-4.8)   |   PEFINDO25 260.463 (-1.57)   |   SMInfra18 237.109 (-3.79)   |   SRI-KEHATI 309.505 (-5.9)   |  

Nelayan Tiongkok di Natuna Disinyalir Tak Sekadar Cari Ikan

Senin, 13 Januari 2020 | 19:29 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Nelayan Tiongkok hingga saat ini masih keluar masuk ke dalam wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) di perairan Natuna yang merupakan bagian dari kedaulatan Indonesia. Kondisi itu membuat Indonesia terus meningkatkan patroli kawasan di sekitar perairan Natuna

Pakar Hukum Laut Internasional, Hasjim Djalal, mensinyalir ada kepentingan yang lebih besar di balik keberadaan kapal-kapal nelayan di sekitar perairan Natuna. Di antaranya adalah adanya dugaan penyisiran sistem pertahanan bawah laut atau underwater defence teknologi (UDT) di perairan tersebut.

"Cina (Tiongkok, red) melihat ada kepentingan bersama antara Cina dan Indonesia untuk mengecek bersama-sama keberadaan kapal selam maupun kapal di permukaan milik amerika. Dicurigai ada underwater defence teknologi di sekitar perairan itu," kata Hasjim Djalal dalam diskusi Centre for Dialogue and Cooperation bertema "Kedaulatan RI Atas Natuna", Senin (13/1/2020) di Jakarta.

Baca juga:Tiga KRI Usir Kapal Asing di Perairan Natuna Utara

Menurutnya, tidak dapat dimungkiri, selama ini ada dugaan informasi yang menyebutkan perairan Natuna menjadi salah satu akses jalur kapal selam ataupun sistem pertahanan bawah laut negara-negara maju. Kondisi itu diperparah dengan semakin terjepitnya Tiongkok oleh Amerika yang membuat aliansi dengan negara lain seperti Jepang, India, dan bahkan Australia.

"Ini barangkali faktor yang bisa dijadikan pertimbangkan. Apakah perlu indonesia ajak ASEAN untuk bekerja sama? Cina mungkin merasa terjepit oleh sikap Amerika yang mengurung Cina. Aliansi Amerika, mulai dari Jepang, India dan Australia, Membuat Cina terjepit di tengah-tengah," ucapnya.

Karena itulah, dirinya mengingatkan agar Indonesia perlu untuk perkuat kemampuan teknologi, peralatan, psikologis, pengawasan, hingga penegakan hukum di perairan. Indonesia pun perlu untuk melakukan dialog dengan Tiongkok, namun jangan sampai terseret dalam pertengkaran antara Tiongkok dan Amerika.

"Indonesia dan Cina sudah terkenal ada visi dan hubungan yang sangat luas sejak dulu. Mungkin barangkali kita jajaki kita bicara dengan mereka dan pikirkan cara terbaik agar tidak terjebak dengan pertengkaran antara Cina dengan Amerika Serikat. Diskusi dengan Cina sangat penting diadakan," ungkapnya.

Baca juga:Din Syamsuddin: Masalah Pelanggaran Batas Wilayah Natuna Harus Diselesaikan



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Minta Tambahan Dana Blanko E-KTP, Mendagri Temui Menkeu

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menemui Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk meminta anggaran tambahan dalam rangka penambahan blanko E-KTP.

NASIONAL | 13 Januari 2020

Zuraidah Sudah Ambil Uang Kematian Hakim Jamaluddin

Zuraidah dikabarkan tidak terima harta suaminya juga diwariskan kepada anak Jamaluddin dari pernikahan terdahulu.

NASIONAL | 13 Januari 2020

Ini Motif Zuraidah Jadi Otak Pembunuhan Hakim PN Medan

Zuraidah Hanum mengklaim bahwa suaminya telah mengkhianati pernikahan mereka dengan sering berselingkuh.

NASIONAL | 13 Januari 2020

BMKG: Waspadai Potensi Hujan Lebat di Sejumlah Wilayah

BMKG memprediksi potensi hujan sedang-lebat dapat terjadi di Sumatera bagian barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku dan Papua.

NASIONAL | 13 Januari 2020

RI Bersama Belanda dan Korsel Matangkan Konsep Giant Sea Wall

Pemerintah pusat bersama Belanda dan Korea Selatan tengah mematangkan konsep proyek tanggul raksasa sepanjang 35 kilometer tersebut.

NASIONAL | 13 Januari 2020

Wamen BUMN: Penyelesaian Kasus Asabri Berbeda Dibanding Jiwasraya

Wamen BUMN menyebutkan langkah penyelesaian kasus PT Asabri (Persero) akan berbeda dengan PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

NASIONAL | 13 Januari 2020

KPK Masih Buru Tersangka Pelaku Suap Komisioner KPU

KPK belum berhasil menangkap Harun sejak ditetapkan tersangka pada Kamis pekan lalu.

NASIONAL | 13 Januari 2020

Terima Doktor Kehormatan ke-14, JK: Sampaikan Terima Kasih kepada ITB

Gelar doktor kehormatan ini yang ke-14 kali diterima JK sejak pertama kali dianugerahi doktor kehormatan pertamanya pada tahun 2007 oleh Universitas Malaya.

NASIONAL | 13 Januari 2020

TMC Mampu Kurangi 40% Curah Hujan Jabodetabek

Sejak 3-12 Januari 2020, total garam yang di semai untuk TMC mencapai 56.800 kilogram dengan 33 sorti penerbangan.

NASIONAL | 13 Januari 2020

Suap Komisioner KPU, Upaya Paksa Harus Sesuai Norma Negara Hukum

Upaya paksa harus bersifat limitatif terhadap objek geledah yang terkait dengan perkara atau kasus dari pelaku individual tersebut.

NASIONAL | 13 Januari 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS