INDEX

BISNIS-27 450.793 (-2.26)   |   COMPOSITE 5144.05 (-15.82)   |   DBX 982.653 (2.46)   |   I-GRADE 141.194 (-0.62)   |   IDX30 430.883 (-2.17)   |   IDX80 114.327 (-0.59)   |   IDXBUMN20 295.098 (-2.05)   |   IDXG30 119.385 (-0.73)   |   IDXHIDIV20 382.257 (-1.97)   |   IDXQ30 125.574 (-0.78)   |   IDXSMC-COM 221.901 (-0.43)   |   IDXSMC-LIQ 259.068 (-1.66)   |   IDXV30 107.621 (-1.14)   |   INFOBANK15 842.759 (-2.22)   |   Investor33 376.322 (-1.83)   |   ISSI 151.265 (-0.8)   |   JII 550.5 (-4.84)   |   JII70 187.95 (-1.54)   |   KOMPAS100 1026.39 (-5.14)   |   LQ45 794.213 (-3.71)   |   MBX 1420.94 (-5.57)   |   MNC36 281.737 (-1.36)   |   PEFINDO25 284.937 (-1.16)   |   SMInfra18 242.709 (-2.12)   |   SRI-KEHATI 318.969 (-1.57)   |  

Pegawai KPK Tunggu Gebrakan Kabareskrim Baru Tuntaskan Kasus Teror Novel

Jumat, 6 Desember 2019 | 22:22 WIB
Oleh : Fana Suparman / JAS

Jakarta, Beritasatu.com - Pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyambut diangkatnya Irjen Pol Listyo Sigit Prabowo menjadi Kabareskrim, menggantikan Jenderal Polisi Idham Azis yang sudah terpilih sebagai Kapolri.

Para pegawai Lembaga Antikorupsi saat ini menunggu gebrakan Listyo dalam menunaikan janji menuntaskan penanganan kasus teror terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan.

"Kami mengharapkan bahwa Kabareskrim yang baru pak Listyo Sigit Prabowo mampu untuk mengungkap kasus ini," kata Ketua Wadah Pegawai (WP) KPK, Yudi Purnomo di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/12/2019).

Yudi mengungkapkan pihaknya menaruh harapan besar kepada Listyo untuk mengungkap teror terhadap Novel yang terjadi pada 11 April 2017 silam. Harapan tersebut disampaikan Yudi lantaran mengaku mengenal Listyo sebagai perwira reformis dan antikorupsi di tubuh Korps Bhayangkara.

"Kami sudah kenal Bang Sigit lama dan kami kenal beliau sebagai seorang perwira reformis yang lama dan juga siap untuk memberantas korupsi di negeri ini. Sehingga kami mempunyai harapan yang besar bahwa Bang Sigit selaku Kabareskrim baru itu bisa mengungkapkan kasus Bang Novel," katanya.

Selain itu, Yudi berharap Presiden Joko Widodo memberikan target waktu yang ketat kepada Listyo dalam menyelesaikan kasus teror Novel. Hal ini lantaran target penuntasan kasus ini terus diundur.

Diketahui, setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019.

Hingga batas waktu kerja tim teknis berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu, peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019. Namun, lagi-lagi hingga saat ini kasus tersebut masih gelap dan peneror Novel masih bergentayangan.

"Sampai hari ini Desember pekan pertama sesuai janji Pak Jokowi bahwa kasus Bang Novel akan selesai namun sampai hari ini kasusnya tidak selesai juga," ungkap Yudi.

Yudi menyatakan kasus teror terhadap Novel, merupakan salah satu kasus yang menyedot perhatian publik dan seharusnya melecut semangat jajaran kepolisian. Jangan sampai, kasus ini masih menjadi misteri hingga tahun berganti.

"Oleh karena itu sekali lagi kami harapkan bahwa Kabareskrim baru yaitu Bapak Listyo Sigit Prabowo itu mampu mengungkapkan kasus novel dan menangkap pelaku serta aktor-aktor di belakangnya," tegasnya.

Yudi menyatakan, berlarutnya kasus ini membuat Novel menjadi korban berulang kali. Tak hanya menjadi korban teror yang membuat matanya cacat, Novel saat ini menjadi korban atas fitnah-fitnah keji sebagian kalangan yang menyebut kasus teror tersebut hanya rekayasa.

"Nantinya akan semakin liar. Kita bisa melihat bagaimana ada orang yang melaporkan Novel, dan mengatakan rekayasa. Padahal seluruh masyarakat negeri sudah paham bahwa itu bukan kasus rekayasa," katanya.

Selain itu, Yudi menegaskan, kasus teror terhadap Novel bukan hanya menyangkut Novel secara pribadi, melainkan juga teror terhadap upaya pemberantasan korupsi. Terdapat sejumlah pegawai dan pimpinan KPK yang diteror saat menjalankan tugas memberantas korupsi.

Namun, seperti halnya kasus Novel, hingga saat ini, kasus-kasus terhadap pegawai dan pimpinan KPK masih belum menemui titik terang.

"Kami mengharapkan Kabareskrim baru juga mampu untuk mengungkap kasus teror yang lain termasuk terhadap pimpinan KPK di mana rumah Pak Laode M Syarief dan Pak Agus Rahardjo sampai saat ini pun belum terungkap," papar Yudi.

"Jadi kami mengharapkan bahwa tahun ini merupakan tahun terakhir dari kasus Novel. Pada Januari kasus ini genap seribu hari sejak 11 April tahun 2017 dan ini tentu saja sudah sangat sangat lama. Ini penting bagi kita untuk menunjukkan komitmen terhadap pemberantasan korupsi apalagi nanti 9 Desember adalah Hari Antikorupsi. Di tengah pelemahan KPK maka terungkapnya kasus Novel merupakan harapan yang baik bagi terwujudnya upaya kita memberantas korupsi," kata Yudi.

Diketahui, Novel diteror dengan disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.

Pelaku penyerangan dalam kasus ini belum ditangkap. Tim pencari fakta bentukan Kapolri berteori jika teror terhadap Novel berkaitan dengan enam kasus yang ditanganinya, yakni kasus korupsi proyek e-KTP, kasus suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.

Novel dan pengacaranya menambahkan tak tertutup kemungkinan teror ini terkait kasus buku merah. Buku merah merujuk pada buku tabungan berisi transaksi keuangan CV Sumber Laut Perkasa milik pengusaha daging Basuki Hariman. Buku itu menjadi salah satu bukti dalam kasus korupsi yang menjerat Basuki dan anak buahnya Ng Fenny dalam kasus suap ke hakim Mahkamah Konstitusi Patrialis Akbar.

Dua penyidik KPK, Roland dan Harun, belakangan dipulangkan ke Polri karena diduga telah merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku bank tersebut. Mereka juga membubuhkan tipe ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki. Hal ini lantaran sejumlah aliran dana itu diduga mengalir ke petinggi Kepolisian meski telah berulangkali dibantah.

Setelah masa kerja tim pencari fakta berakhir, Presiden Jokowi mengultimatum Kapolri saat itu, Tito Karnavian untuk menuntaskan pengungkapan kasus Novel Baswedan, dalam tiga bulan sejak 19 Juli 2019 lalu. Perintah ini segera ditindaklanjuti Tito dengan membentuk tim teknis dengan surat tugas tertanggal 1 Agustus 2019.

Dengan demikian, tenggat yang diberikan Jokowi kepada tim tersebut berakhir pada Kamis (31/10/2019) lalu. Namun, peneror Novel belum juga dibekuk. Jokowi kembali memberi tenggat pada aparat kepolisian untuk mengungkap kasus teror Novel sampai awal Desember 2019.



Sumber:Suara Pembaruan


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Pengusaha Kock Meng Didakwa Suap Gubernur Kepri Terkait Izin Reklamasi

Jaksa menyebut bahwa Edy Sofyan diperintah oleh Nurdin untuk mengumpulkan uang dari para investor yang ingin mengurus perizinan pemanfaatan ruang laut.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Heran Eks Koruptor Boleh Ikut Pilkada, KPK: Tak Ada yang Lainkah?

KPK mengaku khawatir dengan aturan KPU yang baru ini.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Presiden Puji Menteri BUMN Copot Dirut Garuda

“Menteri BUMN sudah tegas sekali. Sudah itu pesan untuk semuanya. Jangan main main,” kata Presiden Jokowi.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Ari Askhara Bisa Dijerat Pidana Korupsi

KPK mengungkapkan kekecewaannya atas kasus penyelundupan yang melibatkan Ari Askhara.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Polisi Bekuk Terduga Teroris di Papua

Berdasarkan informasi, polisi sedang mengejar empat orang terduga lainnya.

NASIONAL | 6 Desember 2019

KPK Kecewa Dirut Garuda Kembali Terlibat Skandal

Syarif menyatakan, manajemen Garuda seharusnya menjadikan kasus yang menjerat Emirsyah sebagai momentum untuk memperbaiki diri.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Pengamat: Penyelundupan di Pesawat Sudah Lazim

Menurut Ziva, pelaku industri dan regulator harus sama-sama membenahi diri, kuncinya disiplin dan tegas.

NASIONAL | 6 Desember 2019

Pebisnis Diminta Lakukan Perubahan Sosial dan Lingkungan

Dalam survei, 81% responden menyatakan dengan tegas bahwa perusahaan harus turut serta dalam usaha menjawab masalah-masalah sosial dan lingkungan.

NASIONAL | 6 Desember 2019

KPK Bakal Beberkan Pejabat Garuda yang Kecipratan Aliran Suap di Persidangan

KPK telah merampungkan penyidikan kasus ini dan melimpahkannya ke tahap penuntutan atau tahap 2.

NASIONAL | 6 Desember 2019

KPK Diminta Umumkan Penyidik yang Tanggalkan Tugas

"Penyelidik dan penyidik KPK harus tunduk pada ketentuan pasal 21 Ayat 1 huruf c dan pasal 24 ayat (2) UU tersebut," tegas Petrus.

NASIONAL | 6 Desember 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS