Mencegah Resesi Ekonomi
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Mencegah Resesi Ekonomi

Tajuk: Investor Daily
Daily news and information on financial markets and investments.

Senin, 20 Juli 2020 | 07:44 WIB

Resesi ekonomi di depan mata. Laju pertumbuhan ekonomi kuartal kedua, April-Juni 2020, diperkirakan minus 3,4%. Jika pada kuartal ketiga, Juli-September tahun ini juga minus, Indonesia masuk jurang resesi ekonomi. Namun, ada sejumlah faktor yang membuat kita optimistis.

Pertama, sejak awal Juni 2020, saat pembatasan sosial dilonggarkan perlahan, ekonomi mulai menggeliat.

Kedua, pemerintah tidak lagi hanya memprioritaskan penanganan Covid-19, tetapi juga berupaya mengangkat kembali ekonomi yang terpuruk.

Dalam menghadapi dua masalah pelik, kesehatan dan ekonomi, pemerintah tidak lagi hanya memprioriaskan salah satu. Keduanya sama penting dan direspons dengan kebijakan dan langkah nyata. Pandemi Covid-19 mengancam nyawa manusia, sedangkan kelumpuhan ekonomi merusak segalanya.

Jumlah penduduk Indonesia yang positif Covid-19 sudah mencapai 86.521 hingga Minggu (19/7/2020). Dari jumlah itu, 4.143 meninggal, 45.401 sembuh, dan yang masih dirawat 36.977. Dengan tes yang minim dan kemampuan tracing yang rendah, jumlah penduduk Indonesia yang positif Covid-19 diperkirakan sudah di atas 200.000.

Sekitar 36.977 warga Indonesia yang masih menderita Covid-19 tidak semuanya dirawat di rumah sakit. Sebagian besar masuk kategori penderita sedang yang diperbolehkan dirawat di rumah. Itu sebabnya, kapasitas rumah sakit hanya terisi 50%.

Covid-19 mematikan, tetapi tidak lagi menakutkan. Tingkat kesembuhan di Indonesia sudah mencapai 52%, hanya 0,7% di bawah rata-rata dunia. Sedang tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia hanya 4,8%, lebih tinggi 0,6% dibanding tingkat kematian dunia.

Dengan kondisi seperti ini, pemerintah tetap membuka kegiatan di berbagai sektor usaha penting. Pemerintah bertekad mengatasi dua masalah sekaligus: memotong mata rantai penyebaran Covid-19 sekaligus membangun ekonomi dengan melonggarkan perlahan pembatasan sosial.

Dampak positif pelonggaran pembatasan sosial sudah terlihat. Selama Juni 2020, penjualan sepeda motor, salah satu indikator daya beli masyarakat bawah, melonjak 500% menjadi 150.000 unit lebih dibandingkan Mei 2020. Penjualan mobil periode sama melesat 255% menjadi 12.632 unit.

Realisasi uang muka ikut mendongkrak penjualan sepeda motor. Banyak pembelian sepeda motor dilakukan lewat perusahaan multifinance. Sekitar 75% pembelian sepeda motor menggunakan skema kredit.

Berbagai indikator kekuatan konsumsi masyarakat mengalami kenaikan signifikan. Penjualan semen naik 26% menjadi 4,86 juta ton dari 3,8 juta ton di periode yang sama.

Nilai penjualan ritel modern juga mulai menggeliat sejak Juni 2020. Meski tidak merata di seluruh wilayah, perkembangan ini sudah cukup menggembirakan. Di sejumlah wilayah yang masih menerapkan pembatasan sosial secara ketat, bisnis ritel belum bergerak.

Pasar dan mal memainkan peranan sangat sentral dalam ekonomi. Semua kegiatan produksi berujung di pasar dan mal. Pengaktifan kembali mal mendongkrak kegiatan produksi dan distribusi. Apalagi pada saat yang sama, transportasi barang juga boleh berjalan normal.

Aktivitas ekonomi mendongkrak penjualan BBM dan listrik. Sejak 8 Juni 2020, rata-rata penjualan BBM naik menjadi 114.000 kiloliter (KL) per hari atau naik 10% dibandingkan periode pembatasan sosial ketat.

Seperti beberapa kali ditegaskan Presiden Jokowi, pemerintahannya berusaha all out mencegah ekonomi Indonesia terjungkal ke jurang resesi. Setelah minus 3,4% pada kuartal kedua, ekonomi Indonesia tidak boleh lagi negatif pada kuartal ketiga dan keempat. Pembuktian pertama adalah ekonomi kuartal ketiga 2020.

Selain pelonggaran pembatasan sosial, pemerintah diharapkan terus mendorong pembangunan infrastruktur, baik yang dibangun oleh pemerintah maupun BUMN. Infrastruktur memiliki dampak luas, baik forward linkage maupun backward linkage.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera) diperintahkan presiden untuk mempercepat realisasi belanja infrastruktur 2020. Hingga 30 Juni 2020, penyerapan belanja infrastruktur Kempupera baru sebesar Rp 26,9 triliun atau 32,4% dari total pagu 2020 sebesar Rp 82,9 triliun.

Kempupera sesungguhnya mendapatkan pagu anggaran tahun 2020 sebesar Rp 120,2 triliun. Namun, karena Covid-19, sebesar Rp 37,3 triliun dialokasikan untuk menangani Covid-19. Itu sebabnya, anggarannya tahun ini tinggal Rp 82,9 triliun.

Kempupera kini tengah mendorong percepatan pembangunan tol, di antaranya Trans-Sumatera. Selain itu, mengembangkan sarana dan prasarana dasar pada proyek pengembangan food estate Kalimantan Tengah dan terus menyelesaikan pekerjaan infrastruktur di lima kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) superprioritas, yakni Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Manado-Likupang.

Kempupera juga melanjutkan pembangunan lima KSPN unggulan prioritas lainnya, yakni Morotai (Maluku Utara), Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Tanjung Lesung (Banten), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur).

Presiden juga menginstruksikan seluruh kementerian dan lembaga untuk mempercepat belanja agar dunia usaha mendapatkan bisnis dan masyarakat memperoleh tambahan kemampuan daya beli. Para pejabat dan ASN di pusat dan daerah diperbolehkan melakukan perjalanan dinas untuk mengisi kekosongan bisnis penerbangan dan menggelar acara di hotel dan restoran.

Pemerintah sudah menaikkan dana stimulus hingga Rp 695,2 triliun. Seperti diberitakan, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2020 untuk melebarkan defisit APBN menjadi 6,34% dari PDB. Dengan defisit sebesar ini, pemerintah bisa mengalokasikan dana stimulus sebesar Rp 695,2 triliun.

Dari jumlah ini, stimulus untuk kesehatan sebesar Rp 87,6 triliun, sedang sisanya Rp 607,6 triliun untuk pemulihan ekonomi (PEN). Dana PEN terbagi atas perlindungan sosial Rp 203,9 triliun, insentif dunia usaha Rp 120,6 triliun, pembiayaan korporasi Rp 53,6 triliun, sektoral kementerian, lembaga, dan pemerintah Rp 106,1 triliun, dan UMKM Rp 123,45 triliun.

Laju pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2020 sangat ditentukan oleh tiga hal. Pertama, pencairan dana stimulus harus dipercepat. Bukan hanya untuk dana kesehatan dan perlindungan sosial, melainkan juga dana stimulus UMKM, korporasi, BUMN, serta kementerian dan lembaga.

Kedua, pemerintah harus memperbanyak tes dan melakukan tracing atau penelusuran interaksi pasien positif Covid-19. Setiap pasien Covid-19 yang dirawat mandiri perlu dipantau lebih ketat lagi.

Ketiga, disiplin masyarakat menjalankan protokol kesehatan harus ditingkatkan. Disiplin masyarakat sangat penting agar masa transisi menuju new normal atau kebiasaan baru dapat terus berjalan.

Jika ketiga langkah ini dijalankan dengan baik dan bersama-sama, kegiatan ekonomi akan berjalan dengan korban yang minimal. Dengan aktifnya pergerakan manusia dan kegiatan bisnis, laju pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga dan keempat tahun ini akan positif. Geliat ekonomi yang sudah terjadi sejak awal Juni menjadi indikasi dan alasan kita untuk optimistis.


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS