Menyongsong Optimisme Baru
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-2.86)   |   COMPOSITE 4879.1 (-9.06)   |   DBX 933.193 (7.61)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 404.523 (-3.21)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 767.134 (-9.65)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.565 (0.25)   |   JII 517.566 (1.34)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 953.068 (-3.09)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1347.52 (-4.53)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 258.006 (2.03)   |   SMInfra18 230.699 (-0.73)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-2.35)   |  

Menyongsong Optimisme Baru

Tajuk: Investor Daily
Daily news and information on financial markets and investments.

Kamis, 23 April 2020 | 07:55 WIB

Sempat terbenam dan meredup, pasar finansial domestik kembali bangkit dan memendarkan harapan baru. Pasar saham yang bulan lalu terus-menerus bergejolak, kini berangsur tenang. Begitu pula pasar surat berharga negara (SBN) dan valuta asing (valas).

Menariknya, sejumlah indikator di pasar global saat ini tak selalu linier dengan pasar domestik. Ketika pasar saham global memerah, pasar saham domestik malah menghijau. Saat mata uang negara-negara lain melemah terhadap dolar AS, rupiah justru menguat.

Di pasar saham, investor asing juga tak selalu memegang kendali. Hijau atau merah indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) bukan lagi ditentukan oleh aksi beli atau jual investor asing.

Pada perdagangan Rabu (22/4), IHSG menguat tajam 65,64 poin (1,45%) ke level 4.567,56 saat investor asing melepas portofolionya. Investor domestik tak terpengaruh aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih (net sell) saham hingga Rp 335 miliar.

Rupiah di pasar valas juga mulai menunjukkan tajinya. Sempat terpuruk ke posisi Rp 16.741 per dolar AS pada 2 April 2020--memecahkan level terlemah Rp 16.650 saat krisis moneter 1998--rupiah perlahan-lahan menguat dan stabil di level 15.500 per dolar AS.

Optimisme lebih kuat terjadi di pasar SBN. Sejak 13 April lalu, investor asing secara konsisten memborong surat utang negara (SUN) dan surat berharga syariah negara (SBSN), sehingga kepemilikan mereka di SBN per 21 April bertambah Rp 4,76 triliun.

Kinerja pasar finansial domestik memang belum sepenuhnya pulih. Namun, perkembangan positif di pasar saham, pasar SBN, dan pasar valas setidaknya membersitkan optimisme baru bahwa pasar finansial tak akan terbenam lebih dalam.

Selama tahun berjalan (year to date), IHSG masih minus 27,49% dan investor asing masih mencatatkan net sell Rp 16,20 triliun. Kepemilikan asing di SBN per 21 April 2020 juga masih di bawah posisi 31 Desember 2019, yaitu Rp 923,08 triliun berbanding Rp 1.061,86 triliun. Rupiah pun masih jauh dari asumsi APBN 2020 sebesar Rp 14.400 per dolar AS.

Tetapi, sekali lagi, perkembangan positif dalam beberapa waktu terakhir tak bisa dinafikan sebagai salah satu sinyal bahwa pasar finansial bakal segera rebound. Pemulihan akan berbanding lurus dengan penanganan pandemi Covid-19 yang merupakan sumber dari segala sumber kekacauan pasar finansial dewasa ini, baik global maupun domestik.

Kita bersyukur, seluruh negara di dunia, khususnya negara maju, bekerja amat keras meredam dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Pemerintah AS bahkan menggelontorkan paket stimulus US$ 2 triliun atau setara Rp 32.000 triliun guna menggenjot ekonomi AS di tengah tekanan pandemi corona.

Indonesia pun all-out mereduksi dampak Covid-19 terhadap perekonomian. Pemerintah telah mengucurkan total stimulus sekitar Rp 438,3 triliun, terbagi atas stimulus I, II, dan III masing-masing sebesar Rp 10,3 triliun, Rp 22,9 triliun, dan Rp 405,1 triliun.

Dari tiga stimulus yang telah dipompakan pemerintah, stimulus III merupakan yang paling komplit karena ditujukan langsung untuk memerangi virus corona, sekaligus menekan dampaknya terhadap perekonomian nasional.

Stimulus III meliputi Rp 75 triliun untuk insentif tenaga kesehatan dan penanganan kesehatan, Rp 110 triliun untuk jaring pengaman sosial, Rp 70,1 triliun untuk mendukung industri, serta Rp 150 triliun untuk program pemulihan ekonomi nasional.

Bank Indonesia (BI) juga telah mengeluarkan dua paket stimulus senilai total Rp 417,8 triliun. Stimulus yang diterbitkan Bank Sentral ditujukan terutama untuk menjaga likuiditas perbankan dan menstabilkan nilai tukar rupiah.

Otoritas Jasa Keuangn (OJK) tak mau ketinggalan. Demi menjaga fundamental bisnis sektor riil dan memelihara stabilitas pasar keuangan, OJK telah merelaksasi sejumlah aturan, di antaranya mengenai kemudahan restrukturisasi kredit.

Hingga pekan kedua April, 43 bank telah merestrukturisasi kredit milik 262.966 debitur senilai Rp 56,5 triliun (outstanding). OJK juga telah memfasilitasi restrukturisasi 65.300 kontrak pinjaman industri multifinance dengan outstanding Rp 8,76 triliun.

Menilik kesungguhan pemerintah, BI, dan OJK, kita yakin pandemi Covid-19 beserta dampaknya dapat segera diatasi. Apalagi, meski pasien Covid-19 terus bertambah, jumlah yang sembuh menunjukkan tren peningkatan.

Di level global, masyarakat internasional meyakini pandemi Covid-19 bakal berakhir setidaknya pada pengujung tahun. Sejumlah negara malah berniat membuka penutupan akses (lockdown) yang diberlakukannya.

Keyakinan itu pula yang membuat gejolak pasar finansial global mereda. Sejumlah isu lain, seperti pelemahan harga minyak yang sempat mengguncang pasar, diprediksi hanya bersifat temporer.

Tugas kita sebagai warga negara sekarang adalah memastikan stimulus Covid-19 yang dikucurkan pemerintah, BI, dan OJK tepat sasaran. Kewajiban kita pula untuk memastikan langkah-langkah penanganan Covid-19, seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan larangan mudik Lebaran, efektif di lapangan.

Maka, kita meminta Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan lembaga penegak hukum lainnya memberikan perhatian ekstra pada penyaluran stimulus. Jangan sampai anggaran stimulus yang demikian besar, akhirnya mubazir, apalagi sampai bocor atau diselewengkan.

Jangan lupa, kehadiran KPK akan meningkatkan kepercayaan investor di pasar finansial. Sebab, keberhasilan menangani Covid-19 turut ditentukan oleh seberapa peduli pemerintah menjalankan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance).

Meski bangsa ini sedang berkabung, akuntabilitas harus tetap ditegakkan. Good governance mesti terus dijalankan. Bukankah pelaku korupsi tidak pernah mengenal belas kasihan, bahkan saat semua orang berduka dan merana?


BAGIKAN


BERITA LAINNYA



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS