Sadar Potensi Di-bully, Ini Pernyataan Lengkap Megawati soal Milenial, Isu PKI, hingga Demo Anarkistis
INDEX

BISNIS-27 503.6 (0.97)   |   COMPOSITE 5652.76 (22.07)   |   DBX 1032.04 (1.71)   |   I-GRADE 164.451 (0.59)   |   IDX30 490.95 (1.17)   |   IDX80 128.766 (0.48)   |   IDXBUMN20 358.484 (2.15)   |   IDXG30 133.521 (0.33)   |   IDXHIDIV20 437.723 (1.25)   |   IDXQ30 142.408 (0.42)   |   IDXSMC-COM 239.978 (1.54)   |   IDXSMC-LIQ 292.98 (1.68)   |   IDXV30 120.747 (1.44)   |   INFOBANK15 969.323 (0.63)   |   Investor33 424.184 (0.89)   |   ISSI 165.497 (0.87)   |   JII 607.992 (2.49)   |   JII70 207.954 (1.18)   |   KOMPAS100 1151.81 (3.85)   |   LQ45 901.663 (2.32)   |   MBX 1571.94 (6.65)   |   MNC36 316.426 (0.66)   |   PEFINDO25 300.975 (5.44)   |   SMInfra18 283.853 (0.65)   |   SRI-KEHATI 362.321 (0.99)   |  

Sadar Potensi Di-bully, Ini Pernyataan Lengkap Megawati soal Milenial, Isu PKI, hingga Demo Anarkistis

Rabu, 28 Oktober 2020 | 18:16 WIB
Oleh : Markus Junianto Sihaloho / CAH

Jakarta, Beritasatu.com - Momentum peringatan Sumpah Pemuda 28 Oktober hari ini jadi momentum buat Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri berbicara mengenai politik aktual. Megawati menyampaikan pertarungan kepentingan politik para elite sampai tantangan agar para orang muda Indonesia melakukan refleksi diri sehingga bisa lebih hebat dibanding para pemuda Indonesia pendiri bangsa.

Hal itu disampaikan Megawati saat peresmian sejumlah kantor partai di daerah lewat virtual, Rabu (28/10/2020). Megawati sejak awal menyadari bahwa pernyataannya soal orang muda Indonesia akan keras dan kemungkinan akan dibully di media sosial.

Awalnya, Megawati berbicara soal pentingnya membangun bangsa dan negara agar Indonesia bisa bertahan sepanjang masa, untuk anak dan cucu. Pengalaman negara lain yang lebih maju seperti Amerika Serikat dan Tiongkok harus dipelajari oleh orang-orang Indonesia.

"Suatu masa kalian (kita, red) juga habis, pensiun. Pasti akan ada turunan, anak keturunan kita. Masa negara yang sudah merdeka 75 tahun ini tidak bisa bersaing dengan negara-negara lain?" kata Megawati.

"Kita mesti jangan jadi kuper, buka diri ke dunia. Anak muda kita aduh, saya bilang sama presiden, jangan dimanja. Generasi kita generasi milenial. Saya mau tanya hari ini apa sumbangsihnya generasi milenial yang sudah tahu teknologi seperti kita bisa viral," kata Megawati lagi.

Namun ironisnya, dijelaskan Megawati, saat ini Indonesia justru masih berkutat dengan isu-isu tak benar yang sengaja diviralkan. Dia mencontohkan tuduhan bahwa dirinya, PDIP, hingga Presiden Joko Widodo adalah PKI (Partai Komunis Indonesia, red).

Dibeberkan oleh Megawati, ayahnya Bung Karno adalah pendiri republik. Sama dengan sang ayah, ibunya Megawati, Fatmawati, juga pahlawan nasional. Megawati sendiri tiga periode menjadi anggota DPR, pernah menjadi presiden dan wakil presiden. Megawati juga menerima berbagai penghargaan, termasuk gelar doktor kehormatan dari berbagai kampus dalam negeri maupun luar negeri.Tak mungkin dirinya bisa mencapai itu semua bila dirinya adalah anggota PKI.

"Maksud saya tidak untuk sama sekali untuk menyombongkan diri. Tapi ini fakta pengalaman hidup, ngapain orang zaman gini masih ngomongin PKI? PKI buktikan dong. ada aturannya jangan hanya untuk membohongi rakyat," ujar Presiden RI Kelima itu.

"Lama-lama saya kesal. Saya nanya acara ini bisa viral apa tidak? Viral oke. Saya yang ngomong ini, nanti kalian lihat kalau saya di bully, lawan. Masa presiden kelima RI dibilang PKI? Terus Pak Jokowi, pilihan rakyat langsung lho. Kecuali presiden tidak langsung, ada kemungkinan. Ini rakyat langsung lho, dua kali, kita pengusungnya, mau lagi dibilang katanya turunan bapak ibunya tak jelas. Bayangkan presiden RI (dibegitukan, red)," beber Megawati.

Fenomena lainnya adalah demonstrasi yang belakangan sangat marak. Menurut Megawati, aturan hukum membolehkan demonstrasi. Pasca reformasi 1998 setelah runtuhnya Orde Baru, Indonesia masuk ke dalam alam demokrasi. Namun ditegaskannya, demonstrasi bukan berarti boleh melakukan aksi perusakan fasilitas publik.

"Kurang apa saya bilang pada mereka yang mau demo-demo, ngapain sih kamu demo-demo. Kalau tak cocok, pergi ke DPR. Di sana ada yang namanya rapat dengar pendapat. Itu terbuka bagi aspirasi," kata Megawati.

"Masya Allah, susah-susah bikin halte-halte Transjakarta, enak aja dibakar, emangnya duit lo? Ditangkap tak mau, gimana ya. Aku sih pikir lucu banget nih Republik Indonesia sekarang," tambahnya.

Megawati lalu bertanya kepada Djarot Saiful Hidayat, Ketua DPP PDIP yang juga mantan gubernur Jakarta, yang ada di sebelahnya. Yang ditanyakan adalah biaya untuk membangun sebuah halte. Djarot menjawab biayanya sekitar Rp 3 miliar.

Mengetahui itu, Megawati mengatakan biayanya saat ini kemungkinan lebih besar karena pengaruh inflasi.

"Kalau ibu-ibu, patokannya harga emas gitu. Mana mungkin lagi sekarang kalau mau dibenerin itu Rp 3 Miliar cukup? Coba bayangkan. Itu rakyat siapa ya? Itu yang namanya anak-anak muda, saya ngomong gini itu dalam Sumpah Pemuda loh," kata Megawati.

"Ya bayangin jaman dulu kok bisa ya pemuda, karena tertekan, karena belum merdeka, dia sampai berani bikin sumpah. Ayo kalau kalian hari ini bisa bikin sumpah kayak begitu. Saya suka terkagum-kagum kok. Waduh pikirannya jaman dulu loh, sampai boleh bersatu bikin sumpah. Eh jaman penjajahan, mereka ditangkep lah. Nah sekarang ini sudah merdeka, dirusak sendiri. Gimana ya?"

"Kalau banyak yang mau jadi presiden, silahkan. Itu adalah hakmu. Tetapi ingat kamu hidup di sebuah negara yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sabar saja lah, ntar juga datang 2024, kita tanding lagi. Coba bayangkan sampai saya mikir mau jadi apa ini orang Indonesia, sudah lupa yang namanya sejarah," pungkasnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Megawati Minta Pembangunan Kantor PDIP di Daerah-daerah Diteruskan

Partai politik bukan hanya hadir di masyarakat dalam wujud individu anggota, namun juga fisik kantornya.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Survei IPO: 60% Responden Dukung Perombakan Kabinet

Mayoritas publik mendukung perombakan kabinet.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Peneliti LIPI: Ganjar Pranowo Sosok yang Dekat dengan Rakyat

Ganjar Pranowo merupakan sosok politikus yang mampu dekat dengan wong cilik.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Survei Kinerja Menteri, Sri Mulyani dan Kementerian BUMN Tertinggi

Tingkat kepuasan publik atas Sri Mulyani dari sisi kinerja ketokohan mencapai 61%, disusul Menteri Pertahanan Prabowo Subianto pada angka 57%.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Kalahkan Prabowo, Elektabilitas Ganjar Pranowo Puncaki Survei IPO

Elektabilitas Ganjar Pranowo berada di angka 17.9%, mengalahkan Prabowo Subianto yang dipilih 16,4% responden.

POLITIK | 28 Oktober 2020

PDIP Persembahkan Kantor Baru 5 Lantai untuk Megawati

Gedung kantor baru ini dipersembahkan khusus untuk Ketua Umum Megawati Soekarnoputri yang lahir di kota yang pernah menjadi ibukota RI tersebut.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Hari Sumpah Pemuda, Megawati Resmikan 13 Kantor Partai

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri bakal meresmikan 13 kantor, satu patung Soekarno dan satu sekolah partai.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Survei Parpol Y-Publica: Elektabilitas Gerindra Melorot, PDIP dan PSI Naik

PDIP tetap unggul dengan elektabilitas 31,2%, sementara Gerindra turun ke 13,8%.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Survei Y-Publica: Ganjar Tempel Ketat Elektabilitas Prabowo

Elektabilitas Prabowo 16,5%, Ganjar 16,1%, Ridwan Kamil 11,8%,dan Anies 8,6%.

POLITIK | 28 Oktober 2020

Y-Publica: Wacana Jabatan Presiden Hanya 1 Periode 7-8 Tahun Mengemuka

Sebanyak 80,2 persen responden mengaku belum mengetahui wacana perubahan masa jabatan presiden menjadi 7-8 tahun dan dibatasi hanya 1 periode.

POLITIK | 28 Oktober 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS