Cegah Propaganda Terorisme, BNPT Akan Buat Satgas Ulama

Cegah Propaganda Terorisme, BNPT Akan Buat Satgas Ulama
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Boy Rafli Amar (Foto: Antara)
Farouk Arnaz / CAH Kamis, 9 Juli 2020 | 20:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Boy Rafli Amar mengatakan jika pandemi Covid-19 dimanfaatkan para pelaku teror di seluruh dunia termasuk Indonesia.

“Pertama mereka masih terus aktif dan menggunakan isu Covid-19 sebagai bukti dekatnya hari kiamat supaya umat bergabung dengan mereka. Kedua mereka semakin aktif bergerak di dunia media sosial sebab banyak orang online dirumah,” kata Boy dalam webinar mengenai penanganan terorisme di tengah pandemi Covid-19 Kamis (9/7/2020)

Dalam acara yang dihelat Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) itu jenderal bintang tiga ini melanjutkan makanya pihaknya akan terus bergerak di platform online dan offline untuk menangkal praganda ini.

“Kita akan membuat satgas ulama bersama NU dan Muhammadiyah untuk kontra narasi. Program ini mempromosikan nilai-nilai dan membangun moderasi serta mempromosikan filosofi negara Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” kata Boy.

Mantan Kapolda Papua ini juga menambahkan jika anggaran BNPT bisa jadi tidak maksimal sebab terkenda dampak pandemi, namun Ini bukan masalah. Mereka akan bekerja selama pandemi.

Baca Juga: Propaganda Terorisme Bisa Semakin Intensif di Era Covid-19

“Tak ada masalah. Kita juga bikin BNPT news channel dan kita juga akan membuat semacam agrowisata dengan melibatkan masyarakat dan napi eks teroris. Ada tiga pilot projects di Jawa Timur, Sulteng, dan NTB,” tambahnya.

Selama ini BNPT memang telah banyak berbuat seperti memfasilitasi pemindahan 444 Napiter ke seluruh Lapas di Indonesia (2017-2019). Yang lain adalah memgordinasikan pelaksanaan penyidikan, vonis, dan persidangan terhadap 790 kasus terorisme (2018-Mei 2020).

Dalam diskusi yang sama Dr Joshua A. Geltzer, eksekutif direktur Universitas George Town di Amerika mengakui jika ditingkat global sekalipun Covid-19 juga memberikan dampak pada perang melawan teroris.

Baca Juga: BNPT: Sinergi TNI-Polri Diperlukan dalam Penanggulangan Terorisme

“Amerika juga mengurangi kehadiran militer AS di Suriah dan Afghanistan dan putusan itu ada di tangan Presiden. (Amerika) juga mengurangi kehadiran pasukan di Afrika,” sambungnya.

Sementara founder Yayasan Prasasti Perdamai/& Dr Noor Huda Ismail menggaribawahi jika masa Covid-19 ini memungkinkan para militan intens membuat koneksi di seluruh dunia.

“Masalah utama Indonesia termasuk adalah reintegrasi dan rehabilitasi. Beberapa orang yang permah terlibat dalam aksi terorisme dan saat dibebaskan mereka beraksi kembali,” kata Huda yang pernah nyantri di Pompes Al-Mukmin, Ngruki ini.

Teroris kambuhan ini juga bisa pergi ke Suriah, Filipina, atau Afghanistan sehingga tetap dibutuhkan kerja sama regional dan global dan tak henti perlu melakukan kontra narasi.

 



Sumber: BeritaSatu.com