Terbebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi, Ety Bahagia Bisa Kembali ke Indonesia

Terbebas dari Hukuman Mati di Arab Saudi, Ety Bahagia Bisa Kembali ke Indonesia
Kedatangan Ety Toyyib di Bandara Soekarno Hatta disambut oleh Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah dan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid serta Kepala BP2MI, Benny Ramdhani. (Foto: Beritasatu Photo / Chairul Fikri)
Chairul Fikri / RSAT Senin, 6 Juli 2020 | 20:45 WIB

Tangerang, Beritasatu.com - Tak pernah terbayangkan di benak Ety Toyyib Anwar akan menjalani hukuman penjara selama 18 tahun dan terancam hukuman mati saat dirinya  bekerja  di Arab Saudi.

Ety salah satu Pekerja Migran Indonesia yang berasal dari Desa Cidadap, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat akhirnya bisa kembali ke Tanah Air pada Senin (6/7/2020), setelah mendekam di penjara Arab Saudi selama 18 tahun atas tuduhan pembunuhan majikannya. Untuk bisa bebas, Ety membayar diyat (denda/tebusan) sebesar Rp 15,5 miliar atau setara 4 juta Real.

Wanita setengah baya itu bisa kembali ke Indonesia atas bantuan anggota DPR dari fraksi PKB, lembaga LazisNU, dan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi Agus Maftuh Abegebrie yang telah membayarkan diyat tersebut.

Berdasarkan pantauan tim Beritasatu.com, Ety yang mengenakan baju gamis berwarna hitam tampak sumringah saat tiba di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten setelah menjalani perjalanan langsung dari Jeddah dengan menggunakan pesawat Saudi Arabia Arlines SV818.

Ety langsung disambut Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah dan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid serta Kepala BP2MI, Benny Ramdhani. Hanya kata syukur yang diucapkannya saat Ety bertemu dengan sejumlah wartawan yang sejak siang menunggunya.

"Alhamdulillah, bahagia bisa kembali ke Indonesia. Siapa yang bahagia dikurung 18 tahun, saya rindu Indonesia. Alhamdulillah bebas dari segala-galanya, bebas dosa," ungkapnya singkat.

Ety sendiri menceritakan bahwa dirinya tak pernah merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Lantaran dirinya merasa tak pernah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya.

"Saya enggak ngelakuin, tapi InsyaAllah besok lusa kapan ada jawabannya. Padahal majikan saya itu pergi ke Jeddah naik mobil sendiri, paginya sarapan sama istrinya, malamnya makan di restoran. Dan dia di Jeddah 2 minggu ke sana kemari, tapi karena kesalahan komunikasi, saya akhirnya dipenjara. Tapi saya enggak dendam itu kesesatan saya, enggak ada yang disalahkan," ungkap Ety.

Ety menjelaskan bahwa di dalam penjara dirinya banyak mengambil hikmah. Bahkan dirinya mengaku menjadi khafidzah lantaran dirinya kini menjadi hafal ayat-ayat suci Alquran.

"Saya sekarang jadi hafal Alquran dan hadist-hadist Nabi (Muhammad SAW,red). Bahkan saya pernah menjadi peringkat 4 di lomba Hafidz Quran antarnapi, baik napi pria ataupun napi wanita," tambahnya.

Ety mengaku kapok jadi TKW. "Ya saya hanya bisa mengucapkan terima kasih, atas dukungan semuanya baik dari bapak-bapak di FPKB DPR/MPR  dan juga LazisNU yang mau membantu saya, juga Pemerintah dan Duta Besar Arab Saudi yang mau membantu saya lolos dari hukuman ini, serta Pemerintah Arab Saudi melalui Raja Salman yang memberikan saya kemudahan. Mudah-mudahan ada hikmahnya semuanya, saya cuma bisa berdoa dan menyampaikan itu saja," tuturnya.

Senang
Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziyah yang turut serta dalam penjemputan Ety mengaku senang bisa melihat ekspresi gembira sang pahlawan devisa setelah selama ini menjalani hukuman 18 tahun penjara akibat dugaan kesalahannya itu.

"Alhhamdulillah bu Etty bisa kembali ke Tanah Air, setelah beliau menjalani hukuman penjara selama 18 tahun. Saya sebagai perwakilan pemerintah mengucapkan terimakasih, dukungan partisipasi masyarakat terutama dari keluarga besar NU melalui Lazis NU, yang ikut membantu kebebasan Ety," ujar Ida Fauziyah.

Dikatakan kalau kasus ibu Ety ini sebenarnya hanya kesalahpahaman dan ketidak mengertian dia berbahasa Arab sehingga dia dituduh membunuh majikan dan dia akhirnya dipenjara.

Dahulu ini tidak pernah terungkap karena dahulu negara tidak melakukan pendampingan, namun setelah negara tahu, akhirnya negara memberikan bantuan advokasi sehingga beliau bisa bebas setelah membayar diyat. "Langkah ini akan diusahakan pemerintah untuk para tenaga migran yang saat ini tengah tersangkut kasus hukum di luar negeri," lanjutnya.

Sebagai perwakilan pemerintah, Ida Fauziyah pun berharap Ety bisa kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama keluarganya.

"Saya lihat Ibu Ety ini orang yang sangat sabar dan tabah dalam menjalani hidup. Beliau justru keluar dari penjara malah semakin kuat keberagamaannya, hafal Quran dan hadist. Banyak keluar dalil Qurannya dan hadist, jadi ada hikmahnya beliau. Saya kira nanti akan dilakukan pendampingan jika dibutuhkan, karena di Kementerian Tenaga Kerja ada program program yang bagus kalau memang beliau berniat kewirausahaan, diharapkan akan bisa membantu bu Etty untuk kembali bisa produktif lagi," tandasnya.

Ety Toyyib sendiri menjalani hukuman sejak 2001 silam setelah pengadilan menjatuhkan hukuman mati kepada dirinya karena dianggap bersalah dianggap telah meracuni sang majikan.

Ety bisa menghirup udara kebebasan setelah pemerintah melalui Kedutaan Besar untuk Arab Saudi melakukan negosiasi untuk bisa membebaskan Ety dari segala tuduhan. Di mana Ety membayar denda diyat sebesar Rp. 15,5 miliar atau setara 4 juta Real yang dibayarkan kepada ahli waris Faisal al-Ghamdi, yaitu Khalid al-Ghamdi.

 



Sumber: BeritaSatu.com