BNPT Berharap Masyarakat Bantu Korban Terorisme

BNPT Berharap Masyarakat Bantu Korban Terorisme
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar dan Vivi Normasari, korban bom Hotel JW Marriot saat silaturahmi bersama para penyintas terorisme yang diselenggarakan Sub Direktorat Pemulihan Korban BNPT di Jakarta, Kamis (2/7/2020). (Foto: Antara)
/ BW Jumat, 3 Juli 2020 | 05:02 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Boy Rafli Amar mengharapkan masyarakat turut berperan aktif dan berkontribusi dalam membantu pemulihan para korban (penyintas) dari tindak pidana aksi terorisme.

“Kita tahu, BNPT memiliki program dan LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) juga memiliki program, tetapi memiliki keterbatasan," kata Boy Rafli pada acara silaturahmi bersama para penyintas terorisme yang diselenggarakan Sub Direktorat Pemulihan Korban BNPT di Jakarta, Kamis (2/7/2020).

Dalam kesempatan acara yang dihadiri perwakilan penyintas terorisme ini, Boy Rafli mengajak kontribusi dan peran aktif masyarakat dalam melakukan pemulihan terhadap para penyintas di luar program yang sudah direncanakan BNPT dan LPSK.

"Kita sebagai fasilitator, juga mencoba mengakomodasi respons kepedulian dari civil society atau yayasan,” kata Boy Rafli Amar dalam keterangan tertulisnya.

Boy Rafli menjelaskan, upaya pemulihan korban tentunya tidak dapat dilakukan sendiri oleh BNPT. Selama ini BNPT juga harus bekerja sama dengan lembaga-lembaga lain, dalam hal ini LPSK, sehingga upaya pemulihan korban terorisme ini bisa lebih maksimal.

"BNPT terus bekerjas sama dengan LPSK, ini merupakan kerja sama yang berkelanjutan. Ke depan BNPT akan terus bekerjasama dengan LPSK, dengan segala keterbatasan yang ada, tentunya akan kita maksimalkan,” kata mantan Wakil Kepala Lembaga Pendidikan dan Latihan (Waka Lemdiklat) Polri ini.

Dalam acara yang dikemas dalam bentuk talk show tersebut, mantan Kapolda Papua ini pun berharap agar upaya pemulihan korban dari aksi terorisme ini tetap berjalan dengan baik.

Dalam kesempatan tersebut, alumni Akpol tahun 1988 ini kembali menegaskan bahwa BNPT sebagai lembaga yang menjadi koordinator penanggulangan terorisme. BNPT tidak hanya terpaku pada upaya pencegahan tindak terorisme saja, melainkan juga berkewajiban dalam memberikan pemulihan terhadap korban-korban dari aksi terorisme sebagaimana yang telah diamanatkan Undang-Undang No 5 Tahun 2018.

“Undang-undang mengamanatkan, kalau negara peduli kepada para penyintas. Undang-undang mengamanatkan kepada BNPT agar penyintas mendapatkan dukungan moril dan perhatian khusus,” ungkap mantan Kapolda Banten ini.

Dalam kesempatan tersebut, Vivi Normasari, korban bom Hotel JW Marriot pada 2003 silam bersyukur dengan kehadiran BNPT maupun LPSK dalam memperhatikan para korban tindak pidana terorisme.

Dia menyebut yang dibutuhkan para penyintas utamanya kebutuhan medis maupun pemulihan psikologis bagi para penyintas, dan selama ini hampir semuanya bisa terpenuhi.

"Alhamdulillah, makin tahun makin baik untuk para penyintas terorisme di Indonesia. Karena perhatian yang begitu besar dari kedua lembaga, baik dari BNPT dan LPSK selama ini sudah hampir memenuhi kebutuhan dari para penyintas, terutama dari kebutuhan medis, layanan psikososial, dan psikologi," katanya.

Vivi berharap ke depannya layanan tersebut tetap dapat dirasakan dan terus dapat diterima.

Para perwakilan korban yang hadir dalam silaturahmi tersebut adalah korban terorisme pengeboman di Hotel JW Marriot tahun 2003, bom Kedutaan Besar Australia tahun 2004, bom Jalan MH Thamrin tahun 2016, dan bom Terminal Kampung Melayu tahun 2017.

Dalam kegiatan ini tampak hadir pula dua Komisioner LPSK, yakni Brigjen Pol (Purn) Achmadi dan Susilaningtias.

Sementara para pejabat BNPT yang turut hadir yakni Deputi I bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis, Deputi II bidang Penindakan dan Pembinaan Kemampuan Irjen Pol Budiono Sandi, Deputi III bidang Kerja Sama Intenasional Andika Chrisnayudanto, Direktur Pelindungan Brigjen Pol Herwan Chaidir, Direktur Penegakkan Hukum Brigjen Pol Eddy Hartono, serta Direktur Deradikalisasi Irfan Idris.



Sumber: ANTARA