Usut Tuntas Kejahatan Seksual di Paroki Herkulanus-Depok

Usut Tuntas Kejahatan Seksual di Paroki Herkulanus-Depok
ilustrasi pelecehan seksual (Foto: istimewa)
Bhakti Hariani / HS Senin, 29 Juni 2020 | 07:56 WIB

Depok, Beritasatu.com - Kelompok Perempuan Katolik Pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) dan Kemanusiaan meminta kejahatan seksual yang dialami sejumlah putra altar di Paroki Herkulanus Depok, Jawa Barat, diusut tuntas oleh Polres Metro Depok.

Hal itu disampaikan kelompok perempuan tersebut dalam konferensi pers secara virtual, Minggu (28/6/2020). Sebanyak 194 aktivis HAM dari berbagai daerah itu mengutuk keras kejahatan yang diduga dilakukan SP terhadap anak-anak putra altar di lingkungan Gereja Herkulanus.

"Sebagai seseorang yang melek hukum, tersangka malahan menjadi pelaku kejahatan serius terhadap anak-anak yang seharusnya dia bimbing dan lindungi. Lingkungan gereja yang merupakan tempat suci dan aman untuk semua umat terutama anak-anak, telah dimanfaatkan pelaku menjadi salah satu lokus dalam melakukan kejahatannya," demikian penegasan kelompok perempuan tersebut.

Kelompok Perempuan Katolik Pegiat HAM dan Kemanusiaan menjelaskan pelaku telah memanipulasi anak-anak korban dengan menggunakan kewenangan yang dimilikinya sebagai pembina/ pembimbing.
Hal ini bertentangan dengan UU No.35 Tahun 2014 Tentang Perubahan UU No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, yang menegaskan tentang ancaman hukuman pidana yang dilakukan oleh orang tua, wali, pengasuh anak, pendidik atau tenaga pendidikan terhadap korban anak.

"Dengan relasi kuasa yang dimilikinya, pelaku dengan mudah mendekati korban untuk menjalankan aksi, dengan cara-cara diantaranya menyasar kepada putra altar yang cenderung pendiam, mengajak korban sesuai dengan kegemarannya, seperti bermain game, kuliner atau membaca buku, membelikan barang kesukaan korban, dan setelah akrab mengajak korban jalan-jalan dan atau menginap di rumah pelaku," ungkap Kelompok Perempuan Katolik Pegiat HAM.

Kelompok perempuan ini menyampaikan apresiasi positif kepada para pastor di Paroki Herkulanus dan tim hukum dalam koordinasi dengan Keuskupan Bogor dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) yang mengambil langkah tegas dengan melaporkan kejahatan seksual kepada pihak kepolisian untuk diproses hukum dan meminta perlindungan kepada Lembaga Perlindungan Saksi Korban (LPSK).

"Kami juga memberi perhatian sangat serius kepada kondisi korban dan keluarga yang mengalami
kesakitan dan penderitaan yang mendalam. Kepedihan yang ditimbulkan ini kami pahami dapat menjadikan beberapa korban dan keluarga menjadi tertutup dan tidak mau kasusnya diungkap karena rasa takut, cemas, malu, dan trauma," ungkap Kelompok Perempuan Katolik Pegiat HAM.

Kondisi ini diperparah lagi dengan masih adanya pandangan yang menyalahkan korban atas terjadinya kasus serta respon dari komunitas yang terbelah antara yang mendukung dan yang menyangkal pengungkapan kebenaran dan pencarian keadilan.

"Kami menuntut kepada berbagai pihak terkait untuk mengambil langkah pendampingan dan pemulihan yang holistik bagi korban dan keluarga serta lingkungan gereja, serta memastikan korban tidak mengalami kekerasan berulang dalam setiap langkah penyelesaian kasus," demikian pernyataan Kelompok Perempuan Katolik Pegiat HAM.



Sumber: BeritaSatu.com