Penyuap Eks Komisioner KPU Disebut Bertugas di Situation Room PDIP

Penyuap Eks Komisioner KPU Disebut Bertugas di Situation Room PDIP
Ilustrasi (Foto: Beritasatu.com)
Fana F Suparman / YS Kamis, 9 April 2020 | 20:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Sidang lanjutan perkara suap pengurusan PAW anggota DPR pada Kamis (9/4/2020) mengungkap fakta baru. Saeful Bahri, salah seorang terdakwa perantara suap kepada eks Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Wahyu Setiawan disebut merupakan staf di DPP PDIP.

Bahkan, Saeful dikenal sebagai staf di Pusat Analisa dan Pengendali Situasi Partai atau Situation Room PDIP.

Posisi Saeful Bahri di DPP PDIP ini diungkapkan mantan anggota Bawaslu yang juga mantan caleg PDIP, Agustiani Tio Fridelina yang dihadirkan sebagai saksi.

Mulanya, jaksa menanyakan kepada Agustiani yang juga dijerat dalam perkara ini mengenai hubungnannya dengan Saeful Bahri. Agustiani Tio kemudian mengaku kenal dengan Saeful Bahri sebagai sesama kader di DPP PDIP.

“Kenal (Saeful Bahri), teman satu partai," kata Agustiani.

Agustiani menyebut Saeful bertugas di Situation Room PDIP. Namun ia berdalih tak tahu secara detil jabatan Saeful di badan tersebut.

"Kalau di dalam partai sendiri itu ada namanya suatu badan tapi tidak dilaporkan secara resmi ke Kumham setahu saya Pak Jaksa terhormat, itu berada di Situation Room namanya. Tapi saya jabatannya apa saya tidak sampai mendalami," kata Agustiani.

Agustiani menegaskan, Saeful Bahri merupakan kader PDIP. Bahkan, Agustiani mengaku sempat mendapat tugas bersama dengan Saeful.

“Betul (sama-sama kader PDIP), karena saya ada beberapa kali juga bertugas bersama," kata Agustiani.

Diketahui, Jaksa KPK mendakwa Saeful Bahri telah turut serta menyuap mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan sebesar SG$ 57.350 atau setara sekitar Rp 600 juta. Suap ini diberikan Saeful Bahri agar Wahyu mengupayakan KPU menyetujui permohonan Pergantian Antarwaktu (PAW) anggota Fraksi PDIP di DPR dari Riezky Aprilia ke Harun Masiku. Padahal, suap itu bertentangan dengan jabatan Wahyu Setiawan selaku penyelenggara negara.

Uang suap itu diberikan kepada Wahyu secara bertahap. Jaksa mengatakan, perbuatan itu dilakukan Saeful bersama-sama dengan Harun Masiku dan mantan anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Agustiani Tio Fridelina. Namun, Harun Masiku hingga kini masih buron.