Tanpa Harun Masiku, KPK Yakin Bisa Buktikan Suap ke Eks Komisioner KPU

Tanpa Harun Masiku, KPK Yakin Bisa Buktikan Suap ke Eks Komisioner KPU
Harun Masiku (Foto: istimewa)
Fana Suparman / MPA Jumat, 6 Maret 2020 | 19:57 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com-Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) meyakini dapat membuktikan suap proses PAW Anggota DPR di persidangan mantan caleg PDIP Saeful Bahri. KPK meyakini, bukti-bukti yang dikumpulkan selama proses penyidikan telah cukup kuat membuktikan adanya suap yang diberikan caleg PDIP, Harun Masiku kepada mantan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan dengan perantara Saeful Bahri dan mantan anggota Bawaslu, Agustiani Tio Fridelina.

Meskipun, hingga kini, KPK belum juga membekuk dan memeriksa Harun yang menjadi buronan atas kasus tersebut.

Wakil Ketua KPK, Nurul Ghufron mengatakan, sepanjang bukti-bukti yang dikumpulkan selama proses persidangan telah kuat, pihaknya akan melimpahkan berkas perkara ke tahap penuntutan. Hal ini dilakukan, meski batas masa penahanan seorang tersangka masih lama.

"Seandainya kemudian mau seminggu kami limpahkan juga kalau pandangan kami sudah cukup bukti kami ajukan," kata Ghufron di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Diketahui, KPK telah melimpahkan berkas perkara, barang bukti dan tersangka Saeful Bahri ke tahap penuntutan atau tahap II. Dengan pelimpahan ini, Jaksa KPK memiliki waktu maksimal 14 hari kerja menyusun surat dakwaan terhadap Saiful untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Jakarta dan disidangkan. Berkas perkara Saeful itu dilimpahkan tanpa memeriksa Harun yang lolos dari OTT KPK pada 8 Januari 2020 lalu.

Padahal, Harun merupakan orang yang berkepentingan atas suap yang diberikan dengan perantara Saeful kepada Wahyu Setiawan. Hal ini lantaran suap dengan nilai total sekitar Rp 900 juta itu diberikan kepada Wahyu agar KPU menetapkan Harun sebagai anggota DPR.

Ghufron mengatakan, pihaknya akan tetap memburu Harun Masiku untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Namun, tanpa menangkap dan memeriksa Harun, Ghufron meyakini Jaksa KPK dapat membuktikan tindak pidana yang dilakukan Saeful, yakni menjadi perantara suap Harun Masiku kepada Wahyu Setiawan.

"Apakah harus dibawa ataupun ditangkap dulu pemberinya dalam hal ini terduga HM (Harun Masiku), itu kalau tertangkap kami bawa iya, kalau tidak karena kami sudah jelas perantaranya kan mengatakan uang itu dalam konteks diberikan dalam rangka untuk menetapkan agar si saudara HM sebagai anggota DPR pengganti PAW. Jadi konteksnya sudah jelas, penerimanya jelas. Konteks konsesual itu uang diberikan dalam rangka apa yang merupakan kewenangan saudara WS (Wahyu Setiawan) itu juga sudah jelas," katanya.

Diberitakan, KPK menetapkan Komisioner KPU, Wahyu Setiawan; caleg PDIP, Harun Masiku; mantan anggota Bawaslu Agustiani Tio Fridelina dan kader PDIP Saeful Bahri sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait PAW anggota DPR. Wahyu dan Agustiani diduga menerima suap dari Harun dan Saeful dengan total sekitar Rp 900 juta. Suap itu diduga diberikan kepada Wahyu agar Harun dapat ditetapkan oleh KPU sebagai anggota DPR menggantikan caleg terpilih dari PDIP atas nama Nazarudin Kiemas yang meninggal dunia. Tiga dari empat tersangka kasus ini telah mendekam di sel tahanan. Sementara, tersangka Harun Masiku masih buron hingga kini.

Sejak KPK menangkap Wahyu Setiawan selaku Komisioner KPU dan tujuh orang lainnya dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (8/1/2020), Harun seolah 'hilang ditelan bumi'.

Ditjen Imigrasi sempat menyebut calon anggota DPR dari PDIP pada Pileg 2019 melalui daerah pemilihan (dapil) Sumatera Selatan I dengan nomor urut 6 itu terbang ke Singapura pada 6 Januari 2020 atau dua hari sebelum KPK melancarkan OTT dan belum kembali.

Pada 16 Januari Menkumham yang juga politikus PDIP, Yasonna H Laoly menyatakan Harun belum kembali ke Indonesia. Padahal, pemberitaan media nasional menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia pada 7 Januari 2020 yang dilengkapi dengan rekaman CCTV di Bandara Soekarno-Hatta.

Bahkan, seorang warga mengaku melihat Setelah ramai pemberitaan mengenai kembalinya Harun ke Indonesia, belakangan Imigrasi meralat informasi dan menyatakan Harun telah kembali ke Indonesia. Meski dipastikan telah berada di Indonesia, KPK dan kepolisian hingga kini belum berhasil menangkap Harun Masiku yang telah ditetapkan sebagai buronan atau daftar pencarian orang (DPO



Sumber: BeritaSatu.com