Kasus Gula, Dirut PTPN X Bungkam Soal Peran Arum Sabil

Kasus Gula, Dirut PTPN X Bungkam Soal Peran Arum Sabil
Ilustrasi KPK. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / YUD Rabu, 13 November 2019 | 16:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Dwi Satriyo Annurogo rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (13/11/2019) sore. Dwi Satriyo diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap distribusi gula di PTPN III tahun 2019 yang menjerat Dirut PTPN III, Dolly Pulungan. Pemeriksaan terhadap Dwi Satriyo dilakukan penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana yang juga menyandang status tersangka.

Usai diperiksa, Dwi Satriyo bungkam saat dikonfirmasi awak media mengenai peran Arum Sabil selaku Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) dalam sengkarut kasus suap ini. Dwi Satriyo meminta awak media untuk mengonfirmasi hal tersebut kepada penyidik KPK.

"Saya kira itulah. Terkait dengan pertanyaan itu dan detailnya ada di penyidik," kata Dwi usai diperiksa di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (13/11/2019).

Nama Arum Sabil mencuat dalam kasus ini setelah disebut KPK pernah hadir dalam pertemuan antara Dolly Pulungan dan pengusaha yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi di Hotel Shangrila, Jakarta pada 31 Agustus 2019. Dalam pertemuan tersebut, Dolly meminta uang kepada Pieko untuk penyelesaian masalah pribadinya. Penyelesaian itu akan dilakukan melalui Arum. Dolly meminta Kertha menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya.

Transaksi uang sebesar SGD345.000 pun terjadi antara Pieko melalui stafnya kepada Kertha pada Senin (2/9/2019) sore. Selain itu, Arum Sabil selaku Ketua APTRI berperan bersama Pieko dan Dolly menetapkan harga gula bulanan.
Meski demikian, Dwi Satriyo tak merespon berbagai pertanyaan awak media mengenai peran Arum Sabil ini.

"Saya mohon maaf. Saya mohon maaf. Saya kira sudah cukup," kata Dwi sambil berjalan meninggalkan pelataran Gedung KPK.

Padahal, sebelum dikonfirmasi mengenai Arum Sabil, Dwi Satriyo sempat berbicara banyak mengenai pemeriksaan yang dijalaninya hari ini. Dwi menjelaskan, PTPN X yang dipimpinnya merupakan anak usaha PTPN III Holding dengan salah satunya usahanya produksi gula. Menurutnya, hal tersebut yang membuat penyidik memanggil dan memeriksanya sebagai saksi.

"PTPN X ini anak perusahaan dari holding Perkebunan Nusantara, pada saat ini kan ada kasus yang disidik di mana di antaranya tersangkanya adalah mantan Dirut Holding Perkebunan Nusantara, dan mantan Direktur Pemasaran Holding Perkebunan Nusantara. Jadi wajar apabila saya direktur PTPN XI yang anak perusahaan holding unruk dipanggil sebagai saksi untuk didengar pernyataannya. Kedua, perkara yang disidik terkait distribusi gula. PTPN XI kan komoditasnya gula sehingga wajar juga kalau diminta keterangan sebagai saksi," katanya.

Dalam pemeriksaan ini, Dwi Satriyo mengaku dicecar penyidik dengan 17 pertanyaan. Salah satunya, mengenai mekanisme produksi dan penjualan di PTPN X.

"Mekanisme perusahaan dan mekanisme-mekanisme produksi dan penjualan yang ada. Saya tadi sampaikan soal aktivitas kegiatan artinya menyeluruh ya," katanya.

Diketahui KPK menetapkan Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III) Dolly Pulungan, Direktur Pemasaran PTPN III I Kadek Kertha Laksana dan pengusaha gula yang juga bos PT Fajar Mulia Transindo Pieko Nyotosetiadi sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait distribusi gula di PTPN III tahun 2019. Penetapan ketiganya sebagai tersangka ini dilakukan KPK melalui gelar perkara setelah memeriksa intensif sejumlah pihak yang ditangkap dalam rangkaian operasi tangkap tangan (OTT) di Jakarta, Selasa (3/9/2019).

Dolly melalui Kadek Kertha Laksana diduga menerima suap sebesar SGD 345 ribu dari Pieko. Suap ini diberikan terkait distribusi gula di PTPN III.

Pieko merupakan pemilik dari PT Fajar Mulia Transindo dan perusahaan lain yang bergerak di bidang distribusi gula. Pada awal tahun 2019 perusahaan Pieko ditunjuk menjadi pihak swasta dalam skema long term contract dengan PTPN III (Persero).

Dalam kontrak ini, pihak swasta mendapat kuota untuk mengimpor gula secara rutin setiap bulan selama kontrak berjalan. Di PTPN III terdapat aturan internal mengenai harga gula bulanan yang disepakati oleh tiga komponen yaitu PTPN III, Pengusaha Gula, dan ASB selaku Ketua Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia (APTRI). Dalam sebuah pertemuan, Dolly meminta uang pada Pieko terkait persoalan pribadinya untuk menyelesaikannya melalui ASB.

Dolly kemudian meminta Kadek Kertha Laksana untuk menemui Pieko untuk menindaklanjuti permintaan uang sebelumnya. Dalam pertemuan itu, Pieko memerintahkan orang kepercayaannya bernama Ramlin untuk mengambil uang di money changer dan menyerahkannya kepada Corry Luca, pegawai PT KPBN anak usaha PTPN III di Kantor PTPN, Jakarta, pada Senin (2/9). Selanjutnya Corry mengantarkan uang sebesar SGD 345 ribu kepada ke Kadek Kertha Laksana di Kantor KPBN. 



Sumber: Suara Pembaruan