Jaringan Penipuan Online Nigeria Keduk Uang Rp 110 M

Jaringan Penipuan Online Nigeria Keduk Uang Rp 110 M
Brigjen Dedi Prasetyo. ( Foto: Antara )
Farouk Arnaz / YUD Rabu, 7 Agustus 2019 | 13:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Keteledoran sebuah perusahaan bernama PPF Banka yang berada di Rep Ceska berbuah bencana. Perusahan tersebut membayarkan tagihan sebesar 6,9 juta euro atau senilai kurang lebih Rp 110,37 miliar ke rekening yang salah.

Seharusnya tagihan jumbo itu dibayarkan ke rekening Opap Investment Limited yang berada di Yunani. Namun pembayaran itu justru dibayarkan ke rekening bank di Indonesia atas nama CV Opap Investment Limited.

Petaka ini terjadi saat email bendahara Opap bernama Zisimos Papioannou yang dibajak oleh komplotan pelaku. Modus pembajakan email tersebut dikenal dengan business email compromise atau scam. Pelakunya adalah jaringan Nigeria yang memiliki kaki tangan di Indonesia.

“Kasus terungkap pertama kali pada tanggal 31 Mei 2019 ketika perusahaan sedang melakukan audit keuangan. Bendara yang Yunani itu mengetahui bahwa terdapat pembayaran sebesar 4,9 juta euro pada 16 Mei 2019 dan 2 juta euro pada 23 Mei 2019.
Namun pembayaran itu tak sampai ke rekening mereka,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Rabu (7/8/2019).

Mereka lalu melapor ke polisi setempat yang meneruskan laporannya ke Mabes Polri. Juga diketahui bahwa dugaan tindak pidana ilegal akses pertama kali dilakukan pada 8 Mei 2019. Setelah berhasil meretas pelaku memperhatikan data-data yang disimpan di email Zisimos.

“Mereka lalu memalsukan form tagihan ke PPF Banka yang berada di Ceko yang lantas mentransfer ke rekening di Indonesia yang telah disiapkan. Polri lalu berkoordinasi dengan polisi Ceko, Yunani, Inggris, Nigeria, AS, dan Malaysia untuk membongkar kasus ini,” sambungnya.

Dari situ polisi menangkap tersangka berinisial KS, HB, IM, DN,dan BY di Indonesia. Masing-masing tersangka mempunyai peranan. KS sebagai penerima aliran dana hasil kejahatan dan digunakan untuk membeli valuta asing.

Sedangkan HB, IM, DN, dan BY merupakan kelompok sindikat internasional yang berada di Indonesia yang berperan menyiapkan segala sesuatu berkaitan dengan penerimaan aliran dana hasil kejahatan.

Sindikat ini memulai persiapannya dengan membuat akta notaris fiktif, akta pembuatan CV fiktif, SIUP, dan SITU fiktif yang digunakan untuk membuka beberapa rekening bank atas nama CV Opap.

Polri juga menetapkan DPO dan mengeluarkan red notice terhadap tersangka berinisial IR atau NR dan BV yang merupakan dalang dari sindikat internasional penipuan online ini.

Barang bukti yang telah disita polisi, antara lain, tujuh mobil, tujuh sertifikat tanah dan bangunan, dan uang Rp 742 juta. Dari keseluruhan barang bukti di atas yang telah disita senilai kurang lebih Rp 5,6 miliar.

Para tersangka dijerat Pasal 82 dan/atau Pasal 85 UU Nomor 3 Tahun 2011 tentang Transfer Dana. Juga dijerar UU ITE, UU TPPU, Pasal 378 KUHP dan atau Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman pidana 20 tahun penjara.



Sumber: BeritaSatu.com