Presiden Minta Waktu 3 Bulan Ungkap Teror Novel, KPK: 820 Hari Waktu yang Lama

Presiden Minta Waktu 3 Bulan Ungkap Teror Novel, KPK: 820 Hari Waktu yang Lama
Novel Baswedan. ( Foto: Antara )
Fana Suparman / WBP Sabtu, 20 Juli 2019 | 09:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan 820 hari menunggu peneror penyidik Novel Baswedan terungkap merupakan waktu yang lama. Hal ini disampaikan KPK menanggapi pernyataan Presiden Joko Widodo untuk memberikan waktu kepada kepolisian mengungkap kasus teror terhadap Novel.

"Yang bisa kami sampaikan itu sederhana ya, dari KPK. Yang diharapkan KPK itu pelakunya ditemukan. Sebenarnya 820-an hari itu sudah sangat lama ya bagi kita semua untuk menunggu siapa pelaku penyerangan Novel itu," kata Jubir KPK Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (19/7/2019) malam.

Novel diketahui diteror dengan disiram air keras pada 11 April 2017 silam. Namun hingga saat ini, peneror Novel masih belum terungkap. Tim Pencari Fakta (TPF) bentukan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang bekerja selama enam bulan terakhir telah gagal mengungkap kasus ini. Meski demikian, Jokowi masih memberikan waktu tiga bulan kepada Kepolisian menuntaskan kasus teror terhadap Novel.

Febri menyatakan KPK kecewa dengan hasil kerja TPF yang telah bekerja sejak Januari 2019 lalu. Namun, KPK tak pernah berhenti berharap agar peneror Novel dapat terungkap dan diproses secara hukum. "Kalau memang belum ditemukan sampai saat ini, meskipun KPK kecewa ya dengan hasil Tim Pencari Fakta yang menyampaikan hasilnya kemarin, kita tidak boleh berhenti berharap upaya untuk pencarian itu perlu didukung semua pihak," kata Febri Diansyah.

Langkah Presiden memberikan tambahan waktu tiga bulan kepada pihak kepolisian menuai kritik sejumlah kalangan, terutama aktivis antikorupsi dan tim advokasi Novel. Mereka mendesak Jokowi mengambil alih kasus ini dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta Independen yang bertanggung jawab langsung pada Presiden.

Menanggapi mengenai hal ini, KPK tak dapat berkomentar lebih jauh mengenai pihak yang berwenang mengusut kasus ini, apakah pihak kepolisian atau Tim Gabungan Pencari Fakta Independen. Bagi KPK, yang terpenting saat ini pelaku teror terhadap Novel segera ditangkap.

"Bagi KPK sederhana saja, poin krusialnya adalah pelaku ditemukan. Kalau presiden melihat belum ditemukan pelaku ini sampai 800-an hari menjadi sesuatu yang penting, sehingga mengambil tindakan tertentu kami akan menghargai hal tersebut. Fokus KPK bukan pada pilihan kebijakannya tapi kami berharap kita berupaya melakukan pencarian pelaku lapangan dan pelaku yang menyuruh ataupun aktor intelektual serangan itu," kata Febri Diansyah.

KPK menekankan jangan sampai muncul persepsi di masyarakat kasus teror terhadap penegak hukum tidak akan terungkap tuntas. Hal ini mengingat selain kasus teror terhadap Novel, terdapat sejumlah teror lainnya yang belum terselesaikan, termasuk teror terhadap dua pimpinan KPK dan teror terhadap sejumlah pegawai KPK lainnya. "Jadi jangan sampai ada persepsi publik teror teruadap penegak hukum tidak akan selesai ditangani. Kami berharap itu tidak terjadi," kata Febri Diansyah.

Terpisah, Tim Advokasi Novel Baswedan menyebut Presiden Jokowi membuang-buang waktu dengan memberikan tambahan waktu selama tiga bulan kepada kepolisian untuk mengungkap kasus ini. Presiden seharusnya mengambil alih kasus ini dengan membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta independen.

"Harusnya Presiden Jokowi tegas dengan langsung membentuk TGPF (tim gabungan pencari fakta). Mengingat persoalan belum diungkapnya kasus NB (Novel Baswedan) karena ada dugaan kuat keterlibatan internal Polri. Jika kasus ini kembali diusut Polri sama dengan mengulur waktu dan membuat kasus ini kecil kemungkinan diungkap," kata kuasa hukum Novel, Arief Maulana dalam siaran pers yang diterima, Jumat (19/7/2019).

Arief menegaskan, kegagalan TPF mengungkap peneror Novel merupakan kegagalan Polri secara institusi karena tim tersebut dibentuk dan bertanggung jawab pada Kapolri. Untuk itu, secara akumulasi, kepolisian sebenarnya telah diberikan waktu lebih dari dua tahun, namun kasus teror ini masih menjadi misteri.



Sumber: Suara Pembaruan