Bowo Sidik Diduga Terima Gratifikasi Revitalisasi Pasar di Minahasa Selatan

Bowo Sidik Diduga Terima Gratifikasi Revitalisasi Pasar di Minahasa Selatan
Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, 28 Maret 2019. ( Foto: ANTARA )
Fana Suparman / CAH Kamis, 27 Juni 2019 | 06:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mengusut sumber-sumber gratifikasi yang diterima anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso. Dalam mengusut hal tersebut, tim penyidik memeriksa Bupati Minahasa Selatan Christiany Eugenia Paruntu, Rabu (26/6/2019).

Pemeriksaan terhadap Christiany dilakukan tim penyidik untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Indung, staf PT Inersia yang juga orang kepercayaan Bowo Sidik.

Dalam pemeriksaan ini tim penyidik mencecar Christiany mengenai penganggaran proyek revitalisasi empat pasar di Minahasa Selatan tahun 2017 dan 2018. Sebelum memeriksa Christiany, KPK juga sudah memerisa Kepala Dinas Perdagangan Minahasa Selatan, Adrian Sumuweng, Selasa (25/6/2019) lalu.

"Penyidik mendalami pengetahuan saksi terkait dengan proses penganggaran revitalisasi empat pasar. Jadi ada proses penganggaran revitalisasi empat pasar di tahun 2017 dan tahun 2018 di Kabupaten Minahasa Selatan yang kami dalami pada saksi," kata Jubir KPK, Febri Diansyah di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (26/6).

Diduga, salah satu sumber gratifikasi yang diterima Bowo terkait dengan proyek tersebut. Untuk itu, tim penyidik mencecar Christiany mengenai proses pengajuan anggaran proyek tersebut hingga hubungannya dengan Bowo Sidik.

"Jadi pengetahuan-pengetahuan saksi terkait dengan misalnya pengajuan proposal nya bagaimana, pengurusan anggarannya, hubungan dengan tersangka BSP (Bowo Sidik Pangarso) seperti apa. Karena pengurusan anggaran ini, diduga membutuhkan relasi-relasi dengan unsur legislatif di pusat atau dalam posisi BSP sebagai anggota DPR RI," katanya.

Tak hanya itu, tim penyidik juga mencecar Christiany soal dugaan aliran gratifikasi yang diterima Bowo Sidik terkait proyek tersebur. Ditegaskan Febri, tim penyidik tengah fokus menelisik aliran suap dan gratifikasi Bowo Sidik

"Sampai saat ini berarti setidaknya teridentifikasi sekitar empat sumber ya, atau empat keterkaitan dana gratifikasi tersebut dari berbagai pihak yang kami pandang berhubungan dengan jabatan BSP sebagai anggota DPR RI," kata Febri.

Diberitakan, KPK menetapkan anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso dan anak buahnya, staf PT Inersia bernama Indung serta Marketing Manager PT Humpuss Transportasi Kimia, Asty Winasti sebagai tersangka. Para pihak tersebut ditetapkan sebagai tersangka setelah diperiksa intensif usai ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Rabu (27/3) hingga Kamis (28/3) dinihari. Bowo melalui Indung diduga menerima suap dari Asty dan petinggi PT Humpuss Transportasi Kimia lainnya terkait kerja sama bidang pelayaran menggunakan kapal PT Humpuss Transportasi Kimia.

Tak hanya suap dari PT Humpuss Transportasi Kimia, Bowo juga diduga menerima gratifikasi dari pihak lain. Secara total, suap dan gratifikasi yang diterima Bowo mencapai sekitar Rp 8 miliar. Uang tersebut dikumpulkan Bowo untuk melakukan serangan fajar pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019. 



Sumber: Suara Pembaruan