Jebolan SD Palsukan Web Trimegah Sekuritas Buat Penipuan Investasi

Jebolan SD Palsukan Web Trimegah Sekuritas Buat Penipuan Investasi
Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membekuk empat tersangka jaringan kasus penipuan investasi dan pemalsuan web sekuritas, dengan omzet Rp 80 juta selama 3 bulan beraksi. Salah satu tersangka pemalsu web hanya lulusan sekolah dasar (SD). ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / WBP Jumat, 17 Januari 2020 | 14:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membekuk empat tersangka jaringan kasus penipuan investasi dan pemalsuan web sekuritas, dengan omzet Rp 80 juta selama 3 bulan beraksi. Salah satu tersangka pemalsu web hanya lulusan sekolah dasar (SD).

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Yusri Yunus mengatakan, keempat tersangka yang ditangkap berinisial AW (24), ND (29), SB (32), dan MA (31). Pengungkapan kasus ini bermula dari laporan PT Trimegah Sekuritas Indonesia kalau webnya telah dipalsukan.

"Kami mengungkap kasus penipuan di media sosial, di dunia siber dengan menggunakan web palsu PT Trimegah Sekuritas Indonesia. Perusahan ini bergerak dalam bidang investasi saham. Ada empat pelaku yang kami amankan," ujar Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Polda Jatim Harus Usut Tuntas Jaringan Investor Bodong

Dikatakan Yusri, keempat tersangka yang ditangkap, di Sulawesi Selatan pada awal Desember 2019 itu memiliki peran masing-masing. Tersangka AW adalah otak kelompok yang memegang peranan penting. AW yang mendaftarkan web palsu, membiayai, serta menyiapkan peralatan untuk melakukan penipuan. Tugasnya, mengirim SMS gateway secara acak ke calon korban dan membalas pesan SMS atau WA yang masuk ke nomor HP yang sudah disediakan. "Ketika orang yang ditipu mentransfer uang, dia yang menerima, menarik uang di ATM," ungkap Yusri Yunus.

Yusri menyampaikan, tersangka ND merupakan ahli informasi teknologi (IT) dalam kelompok ini. Perannya, membuat web PT Trimegah Sekuritas Indonesia palsu dan membuat rekening penampungan hasil kejahatan. Diketahui, web asli PT Trimegah menggunakan alamat dot com (www.trimegah.com), sementara pelaku memalsukannya memakai alamat trimegah.forex.com, trimegah.net.net, dan lainnya. "ND ini tamatan SD, tapi dia belajar (membuat web) dari internet. Jadi dia membuat webnya mirip sekali dan otentik sekali," kata Yusri Yunus.

Tipu Nasabah Rp 55 M, Eks Karyawan Reliance Ditangkap

Menurut Yusri, tersangka SB dan MA memiliki peran menyediakan rekening dan membantu tersangka AW menjalankan aksi penipuan investasi. "Pengakuan sementara hasil pemeriksaan para pelaku, mereka sudah melaksanakan kegiatan selama 3 bulan. Kita akan terus dalami dan kita baru menelusuri sekitar enam orang yang menjadi korban penipuan. Kami tidak akan berhenti, masih mendalami apa benar baru 3 bulan atau sudah lama. Termasuk, masih menyusuri apakah ada juga perusahaan lain yang dipalsukan oleh mereka, karena ini berkomplot mereka," ucap Yusri Yunus.

Yusri mengungkapkan, modus penipuan yang dilakukan AW dan kawan-kawan adalah menawarkan investasi saham dengan iming-iming mendapatkan keuntungan 20 persen selama 7 hari. "Mereka memancing para korban dengan menjual investasi melalui web yang ada dan SMS, kemudian menjanjikan dapat keuntungan sekitar 20 persen dalam waktu 7 hari. Diharapkan masuk dana sekitar Rp 6 sampai 20 juta dari para korban. Padahal cara kerja PT Trimegah Sekuritas Indonesia nggak seperti itu," jelas Yusri Yunus.

Yusri menyebutkan, berdasarkan data sementara ada enam korban yang teridentifikasi dengan kerugian mencapai Rp 80 juta, selama 3 bulan. "Kita masih telusuri apakah ada korban lain. Kita harapkan, silakan melapor jika masih ada korban lain, kami menunggu," tandas Yusri Yunus.

Akibat perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 35 ayat (1) juncto Pasal 51 dan/atau Pasal 28 ayat (1) juncto Pasal 45 A ayat 1 UU RI Nomor 19 Tahun 2016, terkait perubahan UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi Transaksi Elektronik (ITE), dengan ancaman hukum 12 tahun dan denda paling banyak Rp 12 miliar.



Sumber: BeritaSatu.com