Tewaskan Pengguna Skuter Listrik, Pengemudi Mobil Tak Ditahan

Tewaskan Pengguna Skuter Listrik, Pengemudi Mobil Tak Ditahan
Ilustrasi kecelakaan ( Foto: Istimewa )
Bayu Marhaenjati / YUD Kamis, 14 November 2019 | 16:19 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polisi tidak menahan DH, pengemudi mobil Toyota Camry yang menabrak enam pengguna skuter listrik, di Jalan Pintu 1 Senayan, Jakarta Pusat. Namun, yang bersangkutan wajib lapor seminggu dua kali.

"Setelah kita BAP dan kita tetapkan sebagai tersangka, penyidik menilai bahwa tidak perlu dilakukan penahanan. Karena penyidik menilai bahwa tersangka, pertama tidak akan melarikan diri, yang kedua tidak akan menghilangkan barang bukti," ujar Kepala Sub Ditrektorat Pembinaan dan Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kompol Fahri Siregar, Kamis (14/11/2019).

Dikatakan Fahri, kendati tidak ditahan tersangka wajib lapor sepekan sebanyak dua kali. "Wajib lapor. Kalau tidak dilakukan penahanan itu tetap harus wajib lapor. Seminggu dua kali," ungkap Fahri.

Menyoal ramai pembicaraan di jagat maya, kalau tersangka DH merupakan anak pejabat sehingga tidak ditahan, Fahri menyampaikan, penyidik tidak mendalami masalah keluarga dan fokus pada kronologi kecelakaan.

"Kita tidak mendalami masalah itu, karena kalau penyidik lebih kepada hal-hal yang terkait masalah kronologis kejadian. Siapa orang tuanya kan kita tidak mendalami masalah itu, yang kita dalami justru bagaimana kronologis kejadian itu terjadi. Terutama juga menginterogasi korban, seperti kayak kemarin identifikasi awal kita tiga korban, ternyata pada saat penyidikan kita dapat informasi berkembang, ternyata pada saat itu ada enam orang," katanya.

Ihwal apa perbedaan antara kasus ini dengan kasus kecelakaan mobil seruduk Apotek Senopati yang sama-sama merenggut korban jiwa, namun pengemudinya bernisial PKH ditahan, Fahri mengatakan, penyidiknya berbeda. Setiap penyidik independen dan memiliki pertimbangan sendiri terkait penahanan.

"Itu ditangani Satwil Jakarta Selatan, penyidiknya berbeda. Nah ini variasi perkaranya tentunya berbeda, karena penyidik itu independen. Penyidik itu punya penilaian sendiri. Kalau yang kemarin, yang Apotek Senopati kan ditangani Satwil Jakarta Selatan. Mungkin penyidik dari Satwil Jakarta Selatan menilai bahwa memang perlu ditahan. Ini berbeda ya," jelasnya.

Fahri menegaskan, pada kasus ini penyidik punya pertimbangan tersangka DH tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti sehingga tidak dilakukan penahanan. "Ya itu pasti karena pertimbangan penyidik ya. Kami menilai tersangka tidak akan melarikan diri dan menghilangkan barang bukti," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com