Kapolda Perintahkan Sikat Habis Penyelundupan Ponsel Ilegal

Kapolda Perintahkan Sikat Habis Penyelundupan Ponsel Ilegal
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono saat memimpin Apel Operasi Simpatik Jaya 2019, di Lapangan Promoter Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya, Senin (29/4/2019). ( Foto: Berita Satu / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / JAS Kamis, 29 Agustus 2019 | 22:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, mengungkap kasus penyelundupan 5.572 handphone atau telepon seluler (ponsel) ilegal berbagai merek, di sejumlah tempat, di Jakarta. Kerugian negara mencapai Rp 4,5 triliun setahun.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono mengatakan, polisi menangkap empat tersangka berinisial FT, AD, YC, dan JK terkait penyelundupan ponsel ilegal asal Tiongkok menuju Jakarta itu.

Polisi turut menyita barang bukti 5.572 ponsel dari Ruko ITC Roxy Mas Blok C1, Gambir Jakarta Pusat; PT. SMS di Jalan Terusan Bandengan Utara Komplek Soka, Pejagalan, Penjaringan Jakarta Utara; Best International Trading, Perumahan Casa Jardin Reidence Blok N2/7 & N1/38, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat; dan Jalan Kota Baru RT 12 RW 09, Petojo, Gambir Jakarta Pusat (sebagai tempat operasional usaha).

"Ini ada (barang bukti) sebanyak 5.500 sekian handphone dari berbagai jenis yang datang dari luar negeri. Masuknya itu pertama dari China (Tiongkok), terus ke Hong Kong, Singapura, terus ke Batam sampai Jakarta masuk ke Roxy, masuk ke Cempaka Mas. Kemudian, menyebar ke berbagai daerah di Indonesia," ujar Gatot, di Mapolda Metro Jaya, Kamis (29/8/2019).

Gatot menyampaikan, dalam satu bulan mereka bisa memasukkan ribuan handphone tujuh hingga delapan kali, ke Jakarta. Sekali masuk nilainya bisa mencapai Rp 6 miliar.

"Dari Rp 6 miliar itu sebenarnya pajak yang harus dibayarkan kepada negara, sekali masuk itu sebanyak lebih kurang Rp 46,8 miliar. Jadi kalikan saja kalau itu ada delapan kali, sekitar Rp 375 miliar sebulan. Berarti dalam setahun negara bisa dirugikan lebih kurang Rp 4,5 triliun," ungkap Gatot.

Gatot memerintahkan kepada jajarannya agar memberantas kegiatan penyeludupan ponsel karena sangat merugikan negara.

"Saya sudah perintahkan kepada Pak Dirkrimsus (Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya) dan jajarannya, termasuk Polres-Polres, sikat habis ini para penyelundup-penyelundup ini. Bahkan kalau ada oknum yang terlibat sikat dan kenakan TPPU, miskinkan mereka. Sehingga uang itu bisa masuk negara, bisa menyejahterakan negara ini," katanya.

Gatot menegaskan, Polda Metro Jaya dan jajaran akan terus melakukan pemberantasan terhadap penyelundupan ponsel ini.

"Kita masih terus, bukan hari ini berhenti. Tolong sampaikan ini, berikan pesan ini kepada mereka yang masih mengerjakan pekerjaan ilegal," tegasnya.

Menurut Gatot, keempat tersangka dijerat Pasal 52 jo Pasal 32 ayat (1) UU RI No. 36 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Telekomunikasi, Pasal 104 dan Pasal 106 UU RI No. 7 tahun 2014 tentang Tindak Pidana Perdagangan, dan Pasal 62 UU RI No. 8 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Perlindungan Konsumen.

"Nanti TPPU saya perintahkan untuk dimasukkan juga, sehingga ke depan kita bisa minimalisasi adanya oknum-oknum yang berkolaborasi dengan pelaku-pelaku penyelundupan atau masuknya barang-barang ilegal ini. Karena ini sangat merugikan negara, kemudian konsumen kita tidak terjamin secara kualitas," tandasnya.

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Iwan Kurniawan mengatakan, barang ilegal itu masuk melalui jalur laut menggunakan kapal dari Tiongkok hingga ke Jakarta, kemudian didistribusikan ke sejumlah daerah di Indonesia.

"Kalau dipesan sebagai importir pasti dia memiliki dokumen kepabeanan. Tapi dia enggak bisa tunjukkan dengan alasan dia terima dari orang, kan bisa-bisa saja. Tapi kita penyidik kan bisa melihat dari pola saksi dan barang bukti yang kita kaji, kita bisa pastikan ini masuk secara ilegal," jelasnya.

Iwan menuturkan, dari empat tersangka itu ada yang belum ditahan, karena penyidik masih memerlukan bukti dari keterangan ahli terkait pengecekan barang bukti.

"Ada yang belum kami tahan karena ada yang baru kami ungkap beberapa waktu lalu. Kami masih perlu buktikan dari keterangan ahli untuk pengecekan barang bukti sehingga belum kami tahan. Tapi sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Ya, kita belum cek sampai ke sana (apakah barang bukti ponsel asli atau palsu). Tapi intinya barangnya ini masuknya secara ilegal," tandasnya.



Sumber: Suara Pembaruan