Revitalisasi TIM

Seniman Sorak Gembira Mendengar Keputusan Moratorium

Seniman Sorak Gembira Mendengar Keputusan Moratorium
Radhar Panca Dahana (Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono)
Dina Fitri Anisa / EAS Senin, 17 Februari 2020 | 19:43 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para seniman bersorak gembira mendengar keputusan Komisi X DPR yang menyatakan sepakat akan usulan moratorium proyek revitalisasi TIM yang sedang dilakukan Pemprov DKI Jakarta. Kesepakatan dikatakan dalam rapat terbuka untuk mendengar keluh-kesah para seniman yang tergabung dalam Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki (TIM) di Kompleks DPR, Jakarta, Senin (17/2/2020).

Puluhan seniman yang hadir dalam rapat terbuka berharap, jika moratorium dikeluarkan, seniman meminta dilibatkan secara proaktif, sehingga pembangunan yang ada sesuai dengan keinginan dan kesepakatan para seniman dan budayawan.

Hal itu diungkap oleh mantan Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1992, Noorca M. Massardi.

Sederet perwakilan nama seniman yang konon ditunjuk Pemprov sebelum revitalisasi dimulai pun dipertanyakan. Menurutnya, nama-nama yang terpilih tidak berasal dari instansi atau lembaga kesenian resmi di DKI.

"Tahun 2018 dengan tim revitalisasi TIM, Pemprov menunjuk lima orang. Nama-nama tersebut, bukan seniman aktif dan tidak terdaftar menjadi anggota di Akademi Jakarta, atau pun DKJ,” terangnnya.

Sedangkan, Forum Seniman Peduli Taman Ismail Marzuki, Radhar Panca Dahana mengatakan kebijakan dan tindakan yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta untuk merevitalisasi kompleks kesenian budaya itu tidak buruk. Namun, seharusnya proses pembangunan juga turut dirundingkan dengan seniman dan budayawan.

Menurut Radhar, seniman dan budayawan merupakan pemangku kepentingan paling utama di TIM. Apalagi sebagian dari mereka telah menjalani proses panjang selama puluhan tahun, dan mengeluarkan karya di sana.

"Berangkat dari satu kebijakan itu seperti komet yang menghantam bumi. Mendadak kita hancur berantakan, kira-kira gitu. Tanpa ada kompromi, kayak ketetapan Tuhan saja. Tahu-tahu ketika kita menolak revitalisasi itu, dia (red-Anies) sudah hancurkan gedung-gedung. Semua dihancurkan menjadi puing-puing,” katanya.

Radhar menyebut telah berulang kali ke Balai Kota dan DPRD DKI Jakarta, namun upaya ini tidak juga membuahkan hasil. Kondisi itu mendorong para seniman dan budayawan melaporkan masalah revitalisasi ke DPR, dengan harapan besar persoalan ini dapat diselesaikan dengan baik.

"Mohon saudara gubernur itu bukan hanya diberi teguran, saya kira diberi sanksi, karena dia melanggar juga banyak aturan. Melangkahi Permendagri, Mendagri, tidak ada AMDAL, tidak ada izin ini, tidak ngomong sama DPRD. Banyak yang dia langgar,” tuturnya.

Diketahui, revitalisasi TIM rencananya dibagi dalam tiga tahap. Tahap pertama dilaksanakan pada Juni 2019 dimulai dari area pintu masuk, Masjid Amir Hamzah, dan Gedung Perpustakaan. Adapun revitalisasi tahap kedua dimulai pada Januari 2020 dengan menambahkan Wisma TIM dan Asrama Mahasiswa dan Seniman. Wisma TIM serta Asrama Mahasiswa dan Seniman merupakan fasilitas penunjang sebagai sumber pembiayaan pengelolaan TIM pascarevitalisasi. Wisma TIM dan asrama tersebut ditargetkan beroperasi pada Juni 2021.

PT Jakpro setidaknya membutuhkan dana senilai Rp 1,8 triliun untuk pembangunan ini. Pada tahap pertama PT Jakpro telah mendapatkan penyertaan modal daerah (PMD) sebesar Rp 200 milliar di APBD 2019.



Sumber: BeritaSatu.com