Hadiri G-7 di Prancis, Trump Seperti Terisolasi
INDEX

BISNIS-27 428.182 (-2.86)   |   COMPOSITE 4879.1 (-9.06)   |   DBX 933.193 (7.61)   |   I-GRADE 128.434 (-0.58)   |   IDX30 404.523 (-3.21)   |   IDX80 106.174 (-0.61)   |   IDXBUMN20 268.239 (-2.84)   |   IDXG30 113.341 (-0.34)   |   IDXHIDIV20 361.328 (-3.85)   |   IDXQ30 118.527 (-0.83)   |   IDXSMC-COM 209.874 (0.28)   |   IDXSMC-LIQ 234.117 (0.48)   |   IDXV30 100.803 (-0.57)   |   INFOBANK15 767.134 (-9.65)   |   Investor33 355.071 (-2.81)   |   ISSI 143.565 (0.25)   |   JII 517.566 (1.34)   |   JII70 175.828 (0.4)   |   KOMPAS100 953.068 (-3.09)   |   LQ45 742.375 (-5.22)   |   MBX 1347.52 (-4.53)   |   MNC36 265.633 (-1.2)   |   PEFINDO25 258.006 (2.03)   |   SMInfra18 230.699 (-0.73)   |   SRI-KEHATI 299.246 (-2.35)   |  

Hadiri G-7 di Prancis, Trump Seperti Terisolasi

Minggu, 25 Agustus 2019 | 04:01 WIB
Oleh : Heru Andriyanto / HA

Paris, Beritasatu.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump tiba di wilayah resor Biarritz, Prancis, Sabtu (24/8/2019) untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 dengan membawa ancaman tarif untuk tuan rumah dan keputusan untuk melanjutkan perang dagang dengan Tiongkok.

Trump tidak menyukai forum-forum multilateral seperti G7 ini, karena lebih menekankan kebijakan "America first" dan kemampuannya sendiri dalam melakukan kesepakatan empat mata atas pengalamannya sebagai pengusaha real estate.

Menjelang KTT di wilayah pantai Prancis tersebut, dia sudah mengkritik sebagian besar mitranya di forum ini, berdebat soal Iran, perdagangan, pemanasan global, dan Brexit.

Dan sehari sebelum berangkat, dia menepis kekhawatiran terjadinya perlambatan ekonomi global akibat saling balas pengenaan tarif dengan Tiongkok, dan menegaskan "kami akan menang".

Juga sebelum masuk helikopter Marine One, dia membenarkan akan melakukan tindakan balasan pada ekspor wine Prancis jika Presiden Emmanuel Macron tidak mencabut pengenaan pajak baru yang akan memberatkan perusahaan-perusahaan teknologi AS seperti Google.

"Kami akan memajaki wine mereka seperti yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya," ujarnya.

Para pemimpin G7 lainnya -- dari Inggris, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Jepang -- menunggu kedatangan Trump dengan sikap khawatir yang beragam.

Macron bahkan telah memutuskan bahwa untuk pertama kalinya KTT G7 tidak akan mengeluarkan pernyataan bersama usai pertemuan, karena tajamnya perbedaan.

Dalam KTT tahun lalu di Kanada, Trump menolak tanda tangan pernyataan karena marah pada Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau.

Ekonomi Dunia Dipertaruhkan?
Para pemimpin G7 lainnya sudah mengingatkan dampak dari makin panasnya perang dagang AS-Tiongkok.

Namun Trump, dengan penuh nafsu seperti biasanya, menetapkan tarif tinggi atas produk-produk Tiongkok Jumat lalu setelah Beijing juga menerapkan tarif baru atas produk-produk AS.

Trump mengatakan dia sendirian bisa mengatasi Tiongkok setelah puluhan tahun terjadinya pencurian hak cipta intelektual dan praktik-praktik dagang tidak adil dari Tiongkok.

Dia menyebut upaya itu sebagai "pertengkaran kecil".

Di forum G7, dia diduga akan mencari sekutu, tetapi para pemimpin lainnya merasa skeptis kalau perang yang dilancarkan Trump ini bisa sukses -- atau apakah justru akan membawa perekonomian dunia makin melambat.

Agenda kerja pertama hari Minggu ini menuruti permintaan "last minute" Gedung Putih untuk dimasukkan agenda: pertemuan membahas pertumbuhan ekonomi.

Trump akan meminta para mitranya "untuk menuliskan aturan abad ini, berlawanan dengan praktik-praktik dagang tidak adil yang berasal dari Tiongkok", menurut seorang pejabat senior AS.

Trump juga mendesak negara-negara Eropa, Kanada, dan Jepang untuk membawa perekonomian mereka sejalan dengan AS.

"Anda akan melihat presiden terlibat dalam percakapan yang jujur," kata pejabat tersebut.

6+1
Terlepas dari itu semua, Trump mengatakan kunjungannya akan sangat produktif.

Namun muncul pertanyaan tentang masa depan G7 karena pendekatan nasionalis Trump membuat kelompok itu lebih pantas disebut 6+1.

G7 biasanya adalah forum yang hangat dan santai, sehingga para pemimpin negara-negara demokratis yang besar itu bisa rileks dan bicara terus terang membahas hal-hal yang menjadi kepentingan bersama.

Namun, rasa kebersamaan antara Trump dengan para sekutu terdekat AS itu makin berkurang.

Beberapa hari sebelumnya, Trump mengulangi usulannya untuk memformat ulang G8 dengan tambahan Rusia, yang dikeluarkan dari kelompok itu pada 2014 setelah Vladimir Putin melakukan invasi ke Crimea.

Para pemimpin G7 sudah menepis ajakan ini, tetapi Trump, yang akan menjadi tuan rumah G7 tahun depan, tidak mungkin menyerah begitu saja.

Isu panas lainnya adalah Brexit, keputusan oleh Inggris untuk meninggalkan Uni Eropa yang kemudian menciptakan kekacauan.

Ini merupakan forum G7 pertama bagi Perdana Menteri Inggris Boris Johnson.

Johnson mungkin akan lebih kesulitan menghadapi Kanselir Jerman Angela Merkel dan Macron, tetapi sangat mungkin dia akan disambut hangat oleh Trump, yang mengatakan UE "tidak memperlakukan Inggris dengan baik".



Sumber:AFP


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

PBB: Tingkat Kemiskinan di Malaysia Jauh Lebih Tinggi

Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk kemiskinan ekstrim dan hak asasi manusia (HAM), Philip Alston, membantah pernyataan Malaysia bahwa negara itu hampir berhasil menghapuskan kemiskinan

DUNIA | 24 Agustus 2019

Gagal Repatriasi Rohingya, Myanmar Salahkan Bangladesh

Myanmar menyalahkan Bangladesh atas kegagalan kedua kalinya untuk melakukan repatriasi warga Rohingya.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Presiden Brazil Kerahkan Tentara Atasi Kebakaran Hutan Amazon

Presiden Brazil Jair Bolsonaro mengesahkan perintah untuk mengerahkan angkatan bersenjata negara itu dalam membantu penanganan kebakaran di hutan hujan Amazon.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Longsor di Sichuan, Tiongkok, 9 Tewas dan 35 Hilang

Sembilan orang telah tewas dan 35 orang dinyatakan masih hilang setelah serangkaian tanah longsor di wilayah otonom di provinsi Sichuan, Tiongkok barat daya.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Presiden Erdogan Pastikan Kunjungi Indonesia di Awal Tahun 2020

Presiden Erdogan terakhir kali melakukan kunjungan ke Jakarta pada 2015.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Trump Juga Umumkan Tarif Baru untuk Tiongkok

Tak hanya memerintahkan perusahaan Amerika Serikat (AS) meninggalkan Tiongkok, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump juga mengumumkan tarif tambahan.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Ribuan Jemaah Haji Indonesia Berangsur Tinggalkan Makkah

Ribuan anggota jemaah haji Indonesia mulai berangsur meninggalkan Kota Mekkah setelah puncak musim haji rampung.

DUNIA | 24 Agustus 2019

Telan 68 Paket Kokain, WN Kenya Ditangkap

Pada Rabu (21/8), pihak berwenang Thailand memergoki pria Kenya yang mencoba menyelundupkan lebih dari 60 paket kokain dalam perutnya

DUNIA | 23 Agustus 2019

Merkel Sampaikan Ultimatum Brexit saat Kunjungan Johnson

Kanselir Jerman Angela Merkel memberikan ultimatum kepada Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson untuk menyampaikan rencana baru Brexit dalam tenggat waktu 30 hari.

DUNIA | 23 Agustus 2019

Tiongkok Dorong Kerja Sama Trilateral Bersama Korsel dan Jepang

Tiongkok sangat mementingkan kerja sama dengan Korea Selatan (Korsel) dan Jepang dan siap mengupayakan tingkat kerja sama trilateral.

DUNIA | 23 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS