Panglima TNI Minta Capaja TNI dan Polri Ikuti Perkembangan Ancaman Covid-19

Panglima TNI Minta Capaja TNI dan Polri Ikuti Perkembangan Ancaman Covid-19
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Idham Azis memberikan pembekalan kepada 750 calon perwira remaja (capaja) TNI da Polri di Mako Akademi TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu, 8 Juli 2020. (Foto: BeritaSatu.com / Yeremia Sukoyo)
Yeremia Sukoyo / AO Rabu, 8 Juli 2020 | 12:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto memberikan pembekalan kepada 750 calon perwira remaja (capaja) TNI dan Polri di Mako Akademi TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (8/7/2020). Di hadapan ratusan capaja TNI dan Polri, Panglima TNI mengingatkan, sebagai generasi milenial TNI dan Polri, para taruna dan taruni harus mampu mengeksploitasi semua kemudahan dan keunggulan teknologi untuk melaksanakan tugas serta terus mengikuti pandemi Covid-19.

"Medan perang modern saat ini tidak hanya berlangsung di gunung, gurun, lautan dan angkasa, tetapi bisa jadi berada dekat di tengah-tengah kita, bahkan dalam genggaman kita. Domain baru perang modern itu adalah siber dan internet of things, sesuatu yang sudah sangat akrab bagi kalian," kata Panglima TNI.

Diingatkan Panglima, selain penguasaan dalam domain baru pertempuran modern, para capaja juga harus mengikuti perkembangan ancaman biologi, seperti pandemi Covid-19.

"Ancaman faktual ini terbukti telah memberikan dampak kerusakan terhadap tatanan dunia dan kemanusiaan. Selama vaksin dan obatnya belum ditemukan, maka kita tidak boleh lengah. Musuh yang kita hadapi saat ini adalah musuh yang tidak kasatmata, tidak mengenal batas negara, dan menyerang siapa saja tanpa pandang bulu," ucap Panglima.

Dijelaskan Panglima, angka kematian dunia akibat Covid-19 hampir dua kali lipat korban jiwa akibat perang Vietnam. Pandemi juga telah membuat perekonomian dunia terjun bebas.

"Jutaan orang menjadi pengangguran, banyak perusahaan yang gulung tikar, produsen bahan pangan berupaya melindungi kepentingan dalam negeri, dan sebagainya," ucapnya.

Panglima TNI juga mengingatkan, dampak ancaman biologis Covid-19 telah mengguncang dunia, walaupun korbannya masih jauh di bawah angka kematian akibat flu Spanyol pada 1918. Bahkan, negara-negara maju dengan sistem kesehatan yang sangat modern turut kewalahan.

"Dengan semakin besarnya kemampuan kita melaksanakan pemeriksaan dan penelusuran, kasus positif Indonesia diprediksi dapat melebihi angka terkonfirmasi Tiongkok pada akhir Juli ini," kata Panglima.

Dikatakan Panglima, kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah ditujukan untuk menekan laju penularan, menekan pandemi karena belum tersedianya vaksin dan obat. Namun demikian, saat sebagian wilayah tidak lagi memberlakukan PSBB, terdapat euforia di tengah masyarakat.

"Kita lihat bagaimana masyarakat melaksanakan kegiatan seperti saat sebelum ada pandemi. Tidak ada lagi jaga jarak. Sebagian bahkan merasa tidak lagi perlu menggunakan masker. Padahal, kita ketahui bahwa di negara-negara lain terjadi gelombang kedua Covid-19, yang di antaranya terjadi karena kurang disiplinnya masyarakat menerapkan protokol kesehatan saat lockdown dicabut," ujarnya.

Menurut Panglima, kesadaran bahwa protokol kesehatan adalah prasyarat mutlak untuk mengalahkan pandemi masih belum terbentuk. Langkah Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 untuk melaksanakan pengambilan spesimen secara massif dan pelacakan yang agresif malah dianggap mengganggu kebebasan seseorang dalam berusaha.

"TNI-Polri kembali bahu membahu berupaya memberikan edukasi dan sosialisasi. Sebagai bagian dari Gugus Tugas di daerah, prajurit TNI dan anggota Polri berupaya membangun disiplin protokol kesehatan. Upaya ini tidak mudah mengingat kompleksitas permasalahan yang ada," kata Panglima.

Kesenjangan pemahaman tersebut merupakan bagian dari ancaman kesenjangan yang telah disampaikan bersama dengan ancaman biologi dan ancaman siber. Ketiga ancaman tersebut semakin mengemuka dengan meningkatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang membawa paradoks.

"Di tengah pandemi ini, kita juga harus senantiasa waspada terhadap berbagai kemungkinan gangguan kedaulatan negara, termasuk di Laut Natuna Utara dan di Papua. Para taruna dan taruni harus semakin menyadari betapa luas dan besarnya negara kita, dan menjadi tanggung jawab kita sebagai garda terdepan dan benteng nusantara untuk menjaga dan menjamin keselamatannya," ucapnya

Dilanjutkan Panglima, untuk mengemban amanah, TNI telah berada pada tahap akhir pembangunan kekuatan menuju kekuatan pokok minimum atau minimum essential force (MEF) tahun 2024. MEF dirancang dengan pendekatan capability based planning atau perencanaan berbasis kemampuan yang merumuskan peta jalan untuk membangun kemampuan yang dibutuhkan TNI, berdasarkan konsep operasional.

"Target MEF tersisa 4 tahun dan kita harus mulai menyiapkan konsep kekuatan dan operasi TNI masa depan pasca MEF. Kedepan, TNI harus menjadi kekuatan penggentar dan penindak yang efektif, mampu memenangkan peperangan modern, dibangun berdasarkan konsep Tri Matra Terpadu, serta memiliki struktur kekuatan yang optimal," ujarnya.

Di sisi lain, TNI juga harus memiliki tingkat kesiapan yang tinggi, memadukan operasi kinetik dan non-kinetik untuk meraih keunggulan di medan tempur, memiliki organisasi yang efektif dan fleksibel, diawaki oleh SDM unggul dan profesional serta berkemampuan regional dengan komitmen global.

"Yang lebih penting lagi dari kesemua langkah tersebut adalah sinergi TNI-Polri. TNI-Polri adalah dua institusi besar aset strategis bangsa dan negara kita yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Berbagai peristiwa besar yang ada, tidak lepas dari kerja sama dan kerja keras TNI dan Polri," ucap Panglima.



Sumber: BeritaSatu.com