Airlangga: Kita Lebih Banyak Belanja Alutsista dari Luar Negeri

Airlangga: Kita Lebih Banyak Belanja Alutsista dari Luar Negeri
Airlangga Hartarto. (Foto: Antara)
Robertus Wardi / FER Jumat, 28 Februari 2020 | 17:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian, Airlangga Hartarto mengemukakan, sampai saat ini, Indonesia masih lebih banyak belanja Alat Utama Sistem Persenjataan (Alutsista) dari luar negeri. Industri pertahanan dalam negeri belum banyak memproduksi Alutsista untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan.

Baca: Kepala Bakamla Janji Perkuat Pengamanan di Natuna

"Sekarang ini kita kebanyakan belanja Alutsista. Belum sampai membangun industri Alutsista. Ini menjadi perhatian kita semua,” kata Airlangga saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Jumat (28/2/2020).

Airlangga menjelaskan, belum lama ini, untuk pertama kalinya di periode kedua kepemimpinnyanya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memimpin rapat terbatas (Ratas) membahas pertahanan negara di PT PAL, Surabaya.

Dalam rapat itu, Jokowi menginstruksikan agar membangun dan memperkuat industri pertahanan dalam negeri. Presiden minta industri dalam negeri bisa lebih banyak memproduksi Alutsista sendiri. Tujuannya agar tidak lagi lebih banyak belanja Altusista dari luar negeri.

"Sekarang pemerintah, Bapak Presiden minta industri Alutsista dengan teknologi seperti drone, kapal yang disebut flat bottom hull (kapal alas datar, Red), untuk terus diperbesar,” jelas Airlangga.

Baca: Panglima TNI Pastikan Alutsista Sesuai Esensi Kebutuhan

Menurut Airlangga, pembuatan kapal seperti itu sangat penting karena wilayah Indonesia sangat luas dengan wilayah laut lebih besar dari daratan. Kapal sangat penting bukan hanya untuk antisipasi perang tetapi juga untuk partroli laut dalam mengejar penyelundup.

"Kita tahu wilayah kita kan besar, kadang-kadang sungainya dangkal. Kita lihat di Dumai, Riau, kapal-kapal penyelundup begitu masuk sungai, kapal-kapal patroli kita kejar tapi sudah hilang. Saking brutalnya, kapal Bea-Cukai juga bisa diserang. Mereka tahu mana kapal patroli yang dipersenjatai dan mana yang tidak. Begitu tahu tidak dipersenjatai, bukan kita serang mereka tetapi malah kita diserang. Ini menjadi pemikiran pemerintah, pemikiran Bapak Presiden,” jelas Airlangga.

Airlangga juga menyebut untuk memperkuat keamana laut, saat ini pemerintah sedang menyiapkan RUU Keamanan Laut yang masuk dalam program omnibus law. Setelah RUU Cipta Lapangan Kerja dan Perpajakan masuk DPR, akan disusul RUU Keamanan Laut yang tiga-tiganya adalah program omnibus law.

"Sedang dipersiapkan juga deregulasi atau melengkapi berbagai regulasi yang menyangkut keamanan laut. Ini masuk omnibus law berikutnya setelah Cipta Kerja dan Perpajakan,” tutup Airlangga.



Sumber: BeritaSatu.com