Mahfud MD: Natuna Dimasuki Kapal Pencuri Ikan

Mahfud MD: Natuna Dimasuki Kapal Pencuri Ikan
Mahfud MD. ( Foto: Antara / M Risyal Hidayat )
Robertus Wardi / YUD Senin, 6 Januari 2020 | 16:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menko Polhukam Mahfud MD mengemukakan ikan-ikan di perairan Natuna, Propinsi Kepulauan Riau dicuri oleh orang asing. Terhadap para pencuri itu, negara bersama pemerintah tidak menerima begitu saja. Pengerahan pasukan untuk mengusir para pencuri sedang dilakukan.

"Natuna sekarang dimasuki kapal-kapal pencuri ikan. Pencuri ikan itu artinya mengambil ikan secara ilegal. Kalau mengambil secara ilegal itu artinya kan mencuri. Jadi tidak ada minta maaf," kata Mahfud di Kemko Polhukam, Jakarta Pusat, Senin (6/1).

Sebagaimana diketahui, sejak akhir Desember 2019 hingga saat ini, sejumlah kapal nelayan dari Tiongkok melakukan pencurian ikan di Natuna. Kapal-kapal itu didampingi kapal pengawas perikanan dari Tiongkok.

Mahfud menjelaskan pengambilan ikan di wikayah Natuna itu melanggar hukum internasional. Hal itu karena secara hukum internasional, Natuna adalah bagian sah dari wilayah Indonesia.

"Agak kasar disebut pencuri ikan. Ya memang illegal fishing pengambilan ikan secara tidak sah berdasar hukum, itu namanya pencuri. Sehingga kita menyebutnya agak kasar, pencuri ikan," ujar Mahfud.

Menurutnya, Natuna daerah adalah daerah yang kaya dengan sumber daya laut. Berbagai jenis ikan yang mahal-mahal melimpah di Natuna.

Semua kekayaan itu menjadi hak negara Indonesia. Jika dicuri orang lain maka negara sekuat tenaga hadir di sana untuk melindungi kedaulatan dan kekayaan yang ada.

"Berdasar hukum internasional mengatakan bahwa perairan yang mereka masuki itu adalah perairan sah Indonesia. Kita yang berhak mengeksplorasi maupun mengeksploitasi kekayaan laut yang ada di situ. Sapapun negara lain tidak boleh masuk ke situ tanpa izin dari pemerintah kita. Kalau masuk berarti melanggar hukum dan kita usir. Itu daerah kedaulatan kita dan kedaulatan itu harus dijaga oleh kita bersama sebagai bangsa," tutup Mahfud. 



Sumber: Suara Pembaruan