Hendropriyono: OPM Harus Masuk dalam Daftar Kelompok Teroris Internasional

Hendropriyono: OPM Harus Masuk dalam Daftar Kelompok Teroris Internasional
AM Hendropriyono ( Foto: Antara/Widodo S Jusuf )
Yustinus Paat / AO Senin, 23 Desember 2019 | 22:12 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Guru Besar Sekolah Tinggi Hukum Militer (STHM) Jenderal (Purn) AM Hendropriyono menilai Organisasi Papua Merdeka (OPM) harus masuk dalam daftar kelompok teroris internasional. Menurut Hendropriyono, keberadaan OPM sangat berbahaya, bukan saja untuk aparat keamanan, tetapi juga masyarakat Papua sendiri.

"Di forum internasional itu OPM harus sudah masuk dalam daftar kelompok teroris internasional. Mereka sudah membunuh rakyat yang tidak mengerti apa-apa. Itu sudah salah, sasaran tidak terbatas lagi. Dia membunuh polisi, membunuh tentara, dan rakyat juga dibunuh," ujar Hendropriyono di kawasan Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (23/12/2019).

Namun, kata Hendropriyono, pemerintah dan masyarakat Indonesia, masih saja menyebut OPM sebagai kelompok kriminal bersenjata atau KKB. Padahal, menurut dia, tindakan OPM sudah lebih dari tindakan kriminal. "Kita masih sebut saja mereka (OPM) sebagai KKB atau kelompok kriminal bersenjata. (Padahal) bukan, mereka ini (OPM) adalah pemberontak. Masalah ini bukan kriminal saja," ujar dia.

Persoalannya, kata Hendropriyono, jika OPM masih dianggap KKB, maka keterlibatan TNI untuk melawan mereka akan menjadi masalah. OPM, kata dia, akan menuding di forum internasional bahwa ada kejahatan kemanusiaan di Indonesia karena sipil dilawan tentara.

"Ini nanti membuat mereka memiliki amunisi ntuk mengatakan bahwa ini kejahatan kemanusiaan. Orang sipil dilawan tentara. Ini pelaku kriminal, mestinya polisi saja. Ini bukan copet, nyolong di pasar malam. Ini permainan luar biasa," kata mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu.

Karena itu, Hendropriyono berharap pemerintah dan masyarakat Indonesia tidak menganggap enteng persoalan di Papua. Menurut dia, pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu mencarikan solusi persoalan di Papua.

"Jadi, jangan main-main, yang peka, yang sensitif. Kita ribut dengan persoalan kita di dalam, yang tidak beres-beres, ini lihat, satu per satu pergi dari Republik ini, hati-hati. Saya ingatkan," tegas Hendropriyono.

Sebelumnya, pentolan OPM, Gusby Waker mengklaim melalui media daring bahwa KKB telah membunuh 13 anggota TNI dalam kontak tembak selama 12 jam di Utigapa, Papua. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sisriadi dan mengatakan bahwa laporan OPM tersebut merupakan gaya primitif di era digital.

Mayjen Sisriadi menegaskan, pada era digital ini TNI tidak mungkin menutupi informasi.

"TNI bukan organisasi liar, seperti KKB. TNI adalah organisasi besar yang dikelola dengan sistem manajemen modern yang terpadu. Data individu personel TNI dicatat secara tertib. Perubahan data dilakukan secara periodik, sehingga pimpinan TNI dapat mengetahui kondisi setiap prajurit yang termutakhir," ujar Mayjen Sisriadi.



Sumber: Suara Pembaruan