Sampaikan Keindahan Alam Wakatobi melalui Storytelling

Sampaikan Keindahan Alam Wakatobi melalui Storytelling
Salah satu wisata yang dapat dikunjungi yakni Museum Bajo Wakatobi. Sebuah museum di antara keindahan perairan Wakatobi. ( Foto: IST )
Jayanty Nada Shofa / JNS Kamis, 14 November 2019 | 09:58 WIB

WANGI WANGI, Beritasatu.com - Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mendeskripsikan keindahan alam dan salah satunya adalah melalui storytelling.

Dikenal dengan keindahan bawah lautnya, menjaga kebersihan laut dan pantai Wakatobi, Sulawesi Tenggara, menjadi suatu keharusan. Untuk memikat para wisatawan, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenparekraf Rizki Handayani menekankan pada storytelling.

Berkunjung ke sejumlah destinasi di Wakatobi dari Wasabinua, Kampung Bajo Mola hingga Kontamale pada Selasa (12/11), Rizki menyaksikan langsung keindahan alam dan budaya yang ditawarkan.

"Wakatobi adalah destinasi yang masuk dalam kategori minat khusus maupun coral triangle. Wisatawan yang datang ke sini biasanya menikmati keindahan bawah laut Wakatobi baik dengan diving maupun snorkling. Kondisi ini yang harus dijaga," papar Rizki.

Menurutnya, pesona Wakatobi ini diperkuat dengan adanya Suku Bajo di Kampung Mola dengan ceritanya yang sangatlah hebat. Hanya saja belum banyak wisatawan yang mengetahuinya.

"Suku Bajo adalah suku laut. Anak-anak suku ini sejak bayi sudah diperkenalkan dengan laut. Budaya maritim yang begitu menakjubkan ini harus disampaikan secara lisan atau tulisan. Kisah tentang Suku Bajo bisa diangkat sehingga pengetahuan yang didapat wisatawan jadi lengkap," katanya.

Namun, Deputi yang akrab disapa Kiki ini berharap masyarakat Suku Bajo bisa sadar kebersihan agar para wisatawan yang datang menjadi lebih betah.

"Jangan sampai wisatawan yang datang justru kecewa karena kondisi yang mereka dapatkan tidak sama dengan yang mereka bayangkan. Hal seperti ini justru menjadi kerugian buat pariwisata Wakatobi," ujarnya.

Rizki menambahkan, masalah lain yang dihadapi adalah aksesibilitas. Karena hanya ada satu penerbangan yang terhubung dengan Wakatobi. Tepatnya dari Kendari.

Tak hanya itu, masalah lain yang dihadapi adalah aksesibilitas dengan hanya terdapat satu jalur penerbangan dari Kendari.

"Kami dari Kemenparekraf ingin membantu masalah aksesibilitas ini. Tapi data riil kunjungan wisman dibutuhkan agar tahu seberapa besar dampaknya," papar Rizki.



Sumber: BeritaSatu.com