Mitra Seni Indonesia Gelar 'Senandung Cinta 2019' untuk Bantu Seniman Berprestasi

Mitra Seni Indonesia Gelar  'Senandung Cinta 2019' untuk Bantu Seniman Berprestasi
Kiri ke kanan: Ketua I MSI Hesti Kresnarini, Ketua Dewan Pembina MSI Sri Harmoko, dan Ketua Umum MSI Sari Ramdani. ( Foto: ist / ist )
Mardiana Makmun / MAR Kamis, 31 Oktober 2019 | 07:16 WIB

JAKARTA – Beritasatu.com, Kepedulian Mitra Seni Indonesia (MSI) terhadap para pelaku seni, pencinta seni, dan seniman berprestasi kembali diwujudkan melalui pagelaran seni musik, lagu dan gaya “Senandung Cinta 2019” yang berlangsung di The Ballroom Djakarta Theatre, Rabu (30/10/2019.

Pergelaran yang didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekomomi Kreatif ini dilaksanakan untuk kedua kalinya dan dikemas secara menarik, dengan menampilkan talenta-talenta berbakat. Pergelaran ini bertujuan untuk memberikan bantuan bagi para seniman yang berprestasi dalam rangka melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Indonesia.

“Pada Senandung Cinta 2016, MSI mengumpulkan donasi sebesar Rp300 juta untuk didonasikan kepada pelaku seni. Dan tahun ini kami harap bisa mengumpulkan lebih dari itu. Pelaku seni yang dipilih menerima bantuan adalah mereka yang tak hanya melestarikan dan mengembangkan seni budaya, tetapi juga mengajarkannya kepada generasi muda sekitarnya,” kata Ketua MSI Sari Ramdani di Jakarta.

Hasil dari Senandung Cinta kali ini akan disumbangkan kepada 5 seniman berprestasi, yang telah dikaji oleh tim Litbang MSI. Penerimanya adalah pertama, seniman Pardiman Djojonegoro pendiri Acapella Mataraman, bersama beberapa seniman tradisonal yang kreatif mendirikan pusat pelatihan karawitan-PLK dengan metode baru yang menarik bagi masyarakat.

Kedua, Kusdono Rastika pelukis kaca yang melestarikan dan mengembangkan kejayaan Rastika, ayahnya, yang merupakan maestro pelukis kaca Cirebon.

Museum Pustaka Lontar, merupakan gerakan swadaya masyarakat Desa Dukuh Penaban di Karangasem Bali, yang melakukan pendataan kembali secara aksara latin dan secara digital untuk pelestarian, agar dapat dipelajari masyarakat luas.

Sagiyo, petatah kulit paling senior di Yogyakarta telah berkarya 45 tahun serta mengajar kepada generasi penerus untuk pelestarian & pengembangkan seni tatah kulit.

Andre Sujarwo, seorang koreografer dan pelatih tari dari MSI. Saat ini sedang masa pemulihan paska stroke. Semangat untuk dapat beraktivitas kembali patut dihargai.

Lebih lanjut, Sari Ramdani menjelaskan salah satu manfaat bantuan tahun 2016 yang lalu dapat dilihat dari semakin berkembangnya desa Jelekong Buah Batu di Jawa Barat sebagai kampung binaan seni. Dijelaskan saat itu bantuan diberikan kepada 4 orang pelukis Desa Jelekong, sehingga berhasil mendapat pendidikan selama 3 bulan beserta 20 peserta lainnya untuk mengikuti pendidikan dari Maestro Seni Lukis Sunaryo.

Tahun 1998, jumlah pelukis lebih 600 orang dan sempat terpuruk akibat krisis ekonomi. Namun sekarang telah mampu meningkatkan jumlah pelukis muda dan desa Jelekong pun berkembang sebagai desa wisata, dengan mengembangkan potensi seni khas daerahnya, seperti seni tari, kerajinan, musik tradisional hingga kuliner, disamping lukisan.

Selain itu Sari Ramdani menambahkan, MSI juga telah membantu merenovasi ruang topeng Gajah Mada di istana Blah Batu Gianyar Bali. “Kami berharap bantuan MSI ini dapat melestarikan dan mengembangkan seni khas daerah asalnya, melalui pelatihan kepada generasi selanjutnya,” kata Ketua Dewan Pembina MSI Sri Harmoko.



Sumber: Investor Daily