Alasan Mengapa Wanita Sulit Menurunkan Berat Badan

Alasan Mengapa Wanita Sulit Menurunkan Berat Badan
Ilustrasi menurunkan berat badan ( Foto: Hellosehat.com )
Winda Ayu Larasati / WIN Senin, 7 Oktober 2019 | 14:56 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Memiliki berat badan ideal menjadi impian banyak wanita. Sebagian wanita merasa dirinya lebih cantik ketika memiliki tubuh yang langsing. Namun, tidak sedikit juga wanita yang sulit menurunkan berat badannya. Apa yang menjadi faktor sulitnya menurunkan berat badan bagi wanita?

1. Beda pola metabolisme wanita
Metabolisme wanita lebih rendah dan lapisan lemak lebih tebal dibandingkan dengan pria. Metabolisme rendah berarti wanita hanya butuh sedikit energi untuk tubuhnya bekerja.

2. Proses kehamilan
Selain lapisan lemak yang lebih tebal, wanita juga harus menanggung lemak saat mengandung calon buah hati. Rata-rata wanita akan mengalami penambahan berat badan 10-20 kilogram saat proses kehamilan.

Pasca-melahirkan, tidak sedikit wanita yang berat badannya kembali ke angka normal. Diet yang dilakukan pasca-melahirkan juga tidak boleh ketat, karena harus menyusui si buah hati dan mengharuskan wanita menjaga asupan gizi.

3. Haid pengaruhi nafsu makan
Nafsu makan wanita yang dipengaruhi oleh meningkatnya hormon progesteron menjelang haid juga menjadi salah satu faktor wanita sulit menurunkan berat badan. Makanan yang ingin dikonsumsi pun bernilai kalori tinggi seperti cokelat, es krim atau keripik.

4. Menopause
Saat memasuki menopause, seorang wanita terancam dengan timbunan lemak ekstra di tubuh. Perubahan hormon saat menopause membuat metabolisme seorang wanita jauh melambat dan lebih mudah menyimpan lemak, terutama lemak di perut.

5. Psikologis
Psikologis juga mempengaruhi proses menurunkan berat badan. Sebagian besar wanita biasanya akan melakukan diet besar-besaran untuk mendapatkan hasil yang maksimal dengan memangkas habis jumlah makanan yang biasa dikonsumsi.

Namun cara tersebut tidak baik. Metode tersebut berpotensi menyebabkan fenomena yoyo yaitu berat bedan cepat kembali setelah pola makan tidak lagi dijaga ketat.



Sumber: Klikdokter.com, Hellosehat.com