Memahami Visi Baru Jokowi


Markus Junianto Sihaloho / Heru Andriyanto / HA
Senin, 15 Juli 2019 | 03:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Setelah dipastikan menjadi pemenang pemilihan presiden 2019 secara sah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan visi yang lebih tegas dan galak bagi periode kedua pemerintahannya.

Saat berpidato dengan tajuk Visi Indonesia di Sentul, Bogor, Minggu (14/7/2019) malam, Presiden beberapa kali mengatakan dia tidak akan ragu untuk memangkas jabatan atau bahkan membubarkan instansi yang tidak efektif dan tidak efisien.

Jokowi ditemani oleh wakil presiden terpilih Ma'uf Amin yang menyampaikan pidato terpisah.

Jokowi membeberkan ambisinya untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang kompetitif di kancah global. Untuk itu, harus ditempuh cara-cara baru dalam mengelola negara, dan setiap warga negara dan terutama aparatur negara harus peka terhadap perubahan zaman.

"Kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah dengan inovasi-inovasi. Dan kita semuanya harus mau dan akan kita paksa untuk mau," tegas Jokowi.

"Tidak ada lagi pola pikir lama! Tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona nyaman."

Nadanya menjadi lebih keras lagi ketika bicara tentang birokrasi, yang menurutnya tidak boleh menjadi penghambat investasi.

"Yang menghambat investasi, semuanya harus dipangkas, baik perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi ada punglinya! Hati-hati, ke depan saya pastikan akan saya kejar, saya kontrol, saya cek, dan saya hajar kalau diperlukan," kata Jokowi.

Bahkan, ketika bicara tentang persatuan bangsa, Jokowi tak hendak melembutkan intonasinya.

"Tidak ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak mau ber-Bhinneka Tunggal Ika! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak toleran terhadap perbedaan! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak menghargai penganut agama lain, warga suku lain, dan etnis lain," ujarnya.

Presiden dan Wakil Presiden terpilih Joko Widodo (kanan) dan KH Ma'ruf Amin (kedua kanan) bersama Iriana Joko Widodo  dan Wury Estu Handayani (kedua kiri) menyapa pendukung di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat, 14 Juli 2019. (ANTARA)

Simak pidato lengkap Jokowi, yang malam itu menyebut dirinya sebagai calon presiden terpilih:

Bapak, Ibu, saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Seluruh rakyat Indonesia yang saya cintai. Hadirin yang berbahagia.

Kita harus menyadari, kita harus sadar semuanya bahwa sekarang kita hidup dalam sebuah lingkungan global yang sangat dinamis! Fenomena global yang ciri-cirinya kita ketahui, penuh perubahan, penuh kecepatan, penuh risiko, penuh kompleksitas, dan penuh kejutan, yang sering jauh dari kalkulasi kita, sering jauh dari hitungan kita.

Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam mencari solusi dari setiap masalah dengan inovasi-inovasi. Dan kita semuanya harus mau dan akan kita paksa untuk mau. Kita harus meninggalkan cara-cara lama, pola-pola lama, baik dalam mengelola organisasi, baik dalam mengelola lembaga, maupun dalam mengelola pemerintahan. Yang sudah tidak efektif, kita buat menjadi efektif! Yang sudah tidak efisien, kita buat menjadi efisien!

Manajemen seperti inilah yang kita perlukan sekarang ini. Kita harus menuju pada sebuah negara yang lebih produktif, yang memiliki daya saing, yang memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam menghadapi perubahan-perubahan itu. Oleh sebab itu, kita menyiapkan tahapan-tahapan besar.

Pertama, pembangunan infrastruktur akan terus kita lanjutkan! Infrastruktur yang besar-besar sudah kita bangun. Ke depan, kita akan lanjutkan dengan lebih cepat dan menyambungkan infrastruktur besar tersebut, seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandara dengan kawasan-kawasan produksi rakyat. Kita sambungkan dengan kawasan industri kecil, sambungkan dengan Kawasan Ekonomi Khusus, sambungkan dengan kawasan pariwisata. Kita juga harus menyambungkan infrastruktur besar dengan kawasan persawahan, kawasan perkebunan, dan tambak-tambak perikanan.

Kedua, pembangunan SDM. Kita akan memberikan prioritas pembangunan kita pada pembangunan sumber daya manusia. Pembangunan SDM menjadi kunci Indonesia ke depan. Titik dimulainya pembangunan SDM adalah dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita, kesehatan anak usia sekolah. Ini merupakan umur emas untuk mencetak manusia Indonesia unggul ke depan. Itu harus dijaga betul. Jangan sampai ada stunting, kematian ibu, atau kematian bayi meningkat. Tugas besar kita di situ!

Kualitas pendidikannya juga akan terus kita tingkatkan. Bisa dipastikan pentingnya vocational training, pentingnya vocational school. Kita juga akan membangun lembaga Manajemen Talenta Indonesia. Pemerintah akan mengidentifikasi, memfasilitasi, serta memberikan dukungan pendidikan dan pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia.

Diaspora yang bertalenta tinggi harus kita berikan dukungan agar memberikan kontribusi besar bagi percepatan pembangunan Indonesia. Kita akan menyiapkan lembaga khusus yang mengurus manajemen talenta ini. Kita akan mengelola talenta-talenta hebat yang bisa membawa negara ini bersaing secara global.

Ketiga, kita harus mengundang investasi yang seluas-luasnya dalam rangka membuka lapangan pekerjaan. Jangan ada yang alergi terhadap investasi. Dengan cara inilah lapangan pekerjaan akan terbuka sebesar-besarnya. Oleh sebab itu, yang menghambat investasi, semuanya harus dipangkas, baik perizinan yang lambat, berbelit-belit, apalagi ada punglinya! Hati-hati, ke depan saya pastikan akan saya kejar, saya kontrol, saya cek, dan saya hajar kalau diperlukan. Tidak ada lagi hambatan-hambatan investasi karena ini adalah kunci pembuka lapangan pekerjaan.

Keempat, sangat penting bagi kita untuk mereformasi birokrasi kita. Reformasi struktural! Agar lembaga semakin sederhana, semakin simpel, semakin lincah! Hati-hati! Kalau pola pikir, mindset birokrasi tidak berubah, saya pastikan akan saya pangkas!

Kecepatan melayani, kecepatan memberikan izin, menjadi kunci bagi reformasi birokrasi. Akan saya cek sendiri! Akan saya kontrol sendiri! Begitu saya lihat tidak efisien atau tidak efektif, saya pastikan akan saya pangkas, copot pejabatnya. Kalau ada lembaga yang tidak bermanfaat dan bermasalah, akan saya bubarkan!

Tidak ada lagi pola pikir lama! Tidak ada lagi kerja linier, tidak ada lagi kerja rutinitas, tidak ada lagi kerja monoton, tidak ada lagi kerja di zona nyaman. HARUS BERUBAH! Sekali lagi, kita harus berubah. Kita harus membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, menuntut kita harus cepat beradaptasi dengan perkembangan zaman. Maka kita harus terus membangun Indonesia yang adaptif, Indonesia yang produktif, dan Indonesia yang inovatif, Indonesia yang kompetitif.

Kelima, kita harus menjamin penggunaan APBN yang fokus dan tepat sasaran. Setiap rupiah yang keluar dari APBN, semuanya harus kita pastikan memiliki manfaat ekonomi, memberikan manfaat untuk rakyat, meningkatkan kesejahteraan untuk masyarakat.

Bapak Ibu dan hadirin yang berbahagia, namun perlu saya ingatkan bahwa mimpi-mimpi besar hanya bisa terwujud jika kita bersatu! Jika kita optimis! Jika kita percaya diri! Kita harus ingat bahwa negara kita adalah negara besar! Negara dengan 17 ribu pulau. Dengan letak geo-politik yang strategis. Kita adalah negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika! Memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Demografi kita juga sangat kuat! Jumlah penduduk 267 juta jiwa, yang mayoritas di usia produktif.

Kita harus optimis menatap masa depan! Kita harus percaya diri dan berani menghadapi tantangan kompetisi global. Kita harus yakin bahwa kita bisa menjadi salah satu negara terkuat di dunia.

Persatuan dan kesatuan bangsa adalah pengikat utama dalam meraih kemajuan. Persatuan dan persaudaraan kita harus terus kita perkuat! Hanya dengan bersatu, kita akan menjadi negara yang kuat dan disegani di dunia! Ideologi Pancasila adalah satu-satunya ideologi bangsa yang setiap Warga Negara harus menjadi bagian darinya!

Dalam demokrasi, mendukung mati-matian seorang kandidat itu boleh. Mendukung dengan militansi yang tinggi itu juga boleh. Menjadi oposisi itu juga sangat mulia. Silakan. Asal jangan oposisi menimbulkan dendam. Asal jangan oposisi menimbulkan kebencian. Apalagi disertai dengan hinaan, cacian, dan makian.

Kita memiliki norma-norma agama, etika, tata krama, dan budaya yang luhur.

Pancasila adalah rumah kita bersama, rumah bersama kita sebagai saudara sebangsa! Tidak ada toleransi sedikit pun bagi yang mengganggu Pancasila! Yang mempermasalahkan Pancasila! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak mau ber-Bhinneka Tunggal Ika! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak toleran terhadap perbedaan! Tidak ada lagi orang Indonesia yang tidak menghargai penganut agama lain, warga suku lain, dan etnis lain.

Sekali lagi, ideologi kita adalah Pancasila. Kita ingin bersama dalam Bhinneka Tunggal Ika, dalam keberagaman. Rukun itu indah. Bersaudara itu indah. Bersatu itu indah.

Saya yakin, semua kita berkomitmen meletakkan demokrasi yang berkeadaban, yang menunjujung tinggi kepribadian Indonesia, yang menunjung tinggi martabat Indonesia, yang akan membawa Indonesia menjadi Indonesia Maju, Adil dan Makmur.

Indonesia Maju adalah Indonesia yang tidak ada satu pun rakyatnya tertinggal untuk meraih cita-citanya. Indonesia yang demokratis, yang hasilnya dinikmati oleh seluruh rakyat. Indonesia yang setiap warga negaranya memiliki hak yang sama di depan hukum. Indonesia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi kelas dunia. Indonesia yang mampu menjaga dan mengamankan bangsa dan negara dalam dunia yang semakin kompetitif.

Ini bukanlah tentang aku, atau kamu. Juga bukan tentang kami, atau mereka. Bukan soal Barat atau Timur. Juga bukan Selatan atau Utara. Sekarang bukan saatnya memikirkan itu semua. Tapi ini saatnya memikirkan tentang bangsa kita bersama. Jangan pernah ragu untuk maju karena kita mampu jika kita bersatu!

Sebutir Pasir
Sementara Ma'ruf lebih menekankan pada semangat rekonsiliasi pasca-pemilihan presiden yang penuh sentimen kelompok dan benturan antar pendukung masing-masing calon.

"Apa pun agamanya, apa pun sukunya, apapun etnisnya, baik itu pendukung 01 maupun pendukung 02, dan juga mereka yang tidak mendukung 01 maupun 02. Karena mereka adalah bagian dari semua kita," kata Ma'ruf.

Ma'ruf lalu mengingatkan semuanya agar mensyukuri warisan pendiri bangsa dalam wujud sebuah negara merdeka dan berdaulat. Dan itu dibangun di atas landasan yang kuat yakni Pancasila, UUD 1945, dan ikatan Bhinneka Tunggal Ika.

"Karena itu, marilah semua menjaga itu dengan sekuat-kuatnya. Tidak hanya kesatuan politik, namun juga kesatuan ekonomi," kata Ma'ruf.

(ANTARA)

"Karena itu visi indonesia ke depan harus dinikmati oleh seluruh rakyat indonesia, harus dinikmati oleh semua kita tanpa terkecuali di mana pun berada. Saudara-saudara sekalian, mari kita rapatkan barisan. Kita kuatkan satukan visi, jadilah kita bagian dari pada bangunan Indonesia," papar Ma'ruf.

"Indonesia ibarat satu bangunan. Seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Karena itu jadilah kita bangunan Indonesia itu. Jadilah kita pasirnya bangunan Indonesia itu walaupun satu butir. Jadilah kita bangunan Indonesia itu walaupun semennya, walaupun satu sendok."

"Jadilah kita batunya bangunan itu, walaupun satu biji. Jadilah kita besinya indonesia itu walaupun satu lembar. Agar Indonesia satu sama lain saling menguatkan," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com

Johny Plate: Pidato Jokowi Lecut Bagi Para Menteri dan Calon Menteri


Markus Junianto Sihaloho / HA
Senin, 15 Juli 2019 | 16:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam acara Visi Indonesia Minggu (14/7/2019) malam adalah sebuah penegasan pesan bahwa anggota kabinet ke depan harus siap bekerja lebih keras.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma'ruf Amin, Johnny G Plate, Senin (15/7/2019).

Menurut Johnny, pidato Jokowi menggarisbawahi perubahan yang begitu cepat saat ini, sejalan dengan tantangan dunia yang begitu keras. Rakyat dituntut untuk bersatu, menjadi satu simpul kekuatan besar, tidak saja dalam arti sumber daya alamnya, tapi juga sumber daya penduduknya.

Pidato itu juga menyiratkan bahwa pemerintahan ke depan harus kuat dan tidak bisa menjadi 'biasa-biasa saja'. Inovasi, potensi, dan efektivitas kerja harus menjadi ukuran.

"Makanya menjadi anggota kabinet Jokowi harus siap-siap untuk bekerja tidak biasa. Bekerja yang luar biasa dan berani ambil keputusan," kata Johnny.

"Para menteri nanti, untuk sebelum menerima tugas itu, akan diminta komitmennya untuk melaksanakam ini dengan sepenuh hati."

Soal siapa yang akhirnya menjadi anggota kabinet, kata Johnny, sepenuhnya akan ditentukan oleh Jokowi sebagai presiden terpilih. Namun pihaknya memahami, Jokowi ingin pemerintahan yang efektif, kuat, diisi tokoh profesional, dan di saat yang sama mewujudkan regenerasi politik yang berjalan.

"Pasti ada kombinasi antara generasi milenial, yang muda, dengan yang senior. Tantangannya di sana ada yaitu koordinasi dan gaya manajemennya, itu tantangannya," ujarnya.

Johnny tak bersedia berkomentar soal kemungkinan mengajak mantan tim sukses kubu Prabowo-Sandi untuk bergabung ke dalam kabinet.



Sumber: BeritaSatu.com

Pakar Hukum: Jokowi Beri Sinyal Kuat Pemberantasan Korupsi


Asni Ovier / AO
Senin, 15 Juli 2019 | 09:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Pidato bertema “Visi Indonesia” yang disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Sentul, Bogor, Sabtu (14/7/2019), memberikan sinyal kuat dalam upaya pemberantasan korupsi. Hal itu terlihat dari penekanan Jokowi terhadap reformasi birokasi dan struktural serta penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih fokus dan tepat sasaran.

Hal itu dikatakan pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji di Jakarta, Senin (15/7/2019). Pandangan itu disampaikan Indriyanto menanggapi kritik sebagian kalangan yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi sama sekali tidak menyinggung masalah pemberantasan korupsi.

“Presiden Jokowi dalam pidato menyebutkan perlunya reformasi birokrasi sebagai pelaksana reformasi struktural, yaitu memangkas secara tegas birokrasi yang tidak efisien dan efektif,” ujar Indriyanto.

Dikatakan, dari pernyataan itu, terlihat bahwa tujuan utama reformasi birokrasi adalah menciptakan pemerintahan yang bersih, lepas dari permasalahan koruptif yang ada pada beberapa lini investasi dan perekonomian. “Inilah yang menjadi bagian dari sinyal dan atensi Pak Jokowi terhadap pemberantasan korupsi,” ujarnya.

Menurut Indriyanto, pidato Jokowi terkait Reformasi birokrasi dan struktural semalam memang lebih mengarah kepada semangat persatuan bangsa dan negara setelah adanya pertemuan bersejarah dirinya dengan Prabowo Subianto. Namun, meski demikian, dalam pandangan Indriyanto, pidato Jokowi semalam bukan berarti bahwa pemberantasan korupsi tidak lagi menjadi prioritas pemerintahan ke depan.

Dikatakan, politik hukum pemberantasan korupsi akan selalu menjadi bagian berkelanjutan bagi negara yang tetap menghendaki adanya suatu pemerintahan yang bersih (clean governance). Hal itu bisa terwujud dengan adanya penegakan hukum melalui reformasi birokrasi dan struktural.

“Inilah sinyal dan atensi Presiden Jokowi bagi penegakan hukum terhadap korupsi melalui reformasi kelembagaan yang tidak efisien dan efektif. Bahkan, Jokowi menegaskan bahwa dirinya akan melakukan tindakan pencopotan pejabat yang tidak on the track terhadap pelaksanaan reformasi tersebut,” ujarnya.

Menurut Indriyanto, Jokowi dengan tegas menyatakan akan melakukan evaluasi terhadap pejabat yang mengganggu pelaksanaan program investasi dan ekonomi, terutama dalam proyek-proyek infrastruktur dan pembangunan sumber daya manusia. “Jadi, agenda pemberantasan korupsi dipastikan masih menjadi perhatian utama pemerintahan Jokowi dan KH Ma'ruf Amin lima tahun mendatang,” tuturnya.



Sumber: BeritaSatu.com

Yunarto: Jokowi Bakal Memimpin di Periode Kedua Tanpa Beban


Yustinus Paat / FMB
Senin, 15 Juli 2019 | 11:16 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Direktur Eksekutif Charta Politika Yunarto Wijaya menilai gaya bahasa dan komunikasi Presiden Joko Widodo dalam pidato Visi Indonesia menunjukkan bahwa Jokowi akan memimpin Indonesia tanpa beban lagi. Menurut Yunarto, hal ini tampak dalam sejumlah diksi yang digunakan dalam pidato tersebut.

"Hal yang penting dari pidato Jokowi adalah gaya komunikasi atau gaya bahasa yang tegas, tanpa beban dan tanpa kompromi," ujar Yunarto di Jakarta, Senin (15/7/2019).

Yunarto menyebutkan diksi-diksi yang dipakai Jokowi, seperti 'saya kejar', 'saya pangkas', 'saya cek', 'saya hapus', 'saya kontrol' dan kata-kata lainnya. Diksi-diksi seperti itu, kata Yunarto, menunjukkan Jokowi akan tegas di periode kedua pemerintahan.

"Namun, kepemimpinan Jokowi tanpa beban ini harus diterjemahkan dalam aktivitas-aktivitas konkret seperti penentuan kabinet harus benar-benar tanpa beban dan sesuai dengan target Jokowi 5 tahun mendatang," tandas dia.

Terkait fokus atau prioritas Jokowi di periode kedua, menurut Yunarto, terdapat tiga hal utama. Pertama, Jokowi akan terus menggenjot pembangunan infrastruktur yang sudah dimulainya pada periode pertama.

"Pembangunan infrastruktur akan dilanjutkan dengan upaya konektivitas yang semakin kuat dengan daerah sehingga sumber daya daerah bisa mudah tersalurkan ke pasar," ungkap dia.

Kedua, pembangunan sumber daya manusia yang lebih produktif dan kompetitif. Jokowi ingin talenta-talenta Indonesia diberdayakan.

"Ketiga, adalah penguatan ideologi Pancasila dengan menempatkan Pancasila sebagai rumah bersama. Saya juga berharap, Jokowi harus tegas dengan pihak-pihak yang mengganggu atau ingin menggantikan Pancasila dengan ideologi lainnya. Tidak boleh ada toleransi terhadap kelompok-kelompok ini," pungkas dia. 



Sumber: BeritaSatu.com