Teroris Gaya Baru JAD: Spontan, Instan, dan Random


Farouk Arnaz / HA
Minggu, 13 Oktober 2019 | 14:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -  Nama Jamaah Ansharut Daulah (JAD) kembali melambung pasca-aksi Syahril Alamsyah alias Abu Rara yang menusuk Menko Polhukam Jenderal (pur.) Wiranto saat kunjungan kerja di Pandeglang, Banten Kamis (10/10/2019) lalu.

JAD adalah sel teror yang paling aktif dan saat ini mewarnai hampir seluruh aksi dan persiapan teror di Indonesia. Kelompok ini “diproklamirkan” pada sekitar Oktober 2014 oleh Aman Abdurrahman yang saat itu mendekam di Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan.

Aman saat itu mendekam di penjara karena menjalani masa hukuman karena berpartisipasi dalam latihan para militer yang digelar di Jantho, Aceh. Itu adalah masa pemidanaan kedua yang dia jalani setelah dia sempat dipidana pada tahun 2004 karena merakit bom di Cimanggis, Depok.

Saat kasus bom Depok tersebut Aman masih dibawah bendera kelompok Tauhid wal Jihad dan kemudian dia diketahui sempat mendukung kelompok Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) saat terlibat dalam kasus di Aceh dan kemudian mendirikan JAD.

Konteks di tahun 2014 itu kelompok “garis keras” di Indonesia -- sebagaimana juga dunia -- memang terpukau dengan hadirnya Daulah Islamiyah ISIS pimpinan Abu Bakar Al Baghdadi di Suriah dan Irak yang diproklamirkan Juni 2014.

Maka oleh Aman kelompok itu diberi nama JAD yang berarti jamaah pendukung daulah—yang dalam hal ini adalah daulah ISIS. Aman saat itu menunjuk Marwan alias Abu Musa sebagai amir JAD dan Zainal Anshori sebagai amir JAD wilayah Jawa Timur.

Aman berniat menjadikan JAD sebagai rumah bagi pendukung ISIS di Indonesia yang berasal dari berbagai organisasi. JAD juga mempersiapkan kedatangan Khilafah Islamiyah, dan memfasilitasi mereka yang hendak jihad ke Suriah-Iraq.

Tak berhenti hanya dengan menunjuk Marwan (saat ini sudah pergi ke Suriah) dan Zainal (tertangkap), Aman juga memerintahkan pendukungnya untuk berkumpul membuat dauroh. Maka digelarlah pertemuan di di Batu, Malang pada November 2015.

Aman Abdurrahman (kiri). [Antara]

Dauroh tiga hari tersebut dihadiri perwakilan JAD dari 30 wilayah. Meski di dalam penjara, Aman ‘ikut’ dalam pertemuan itu dengan sambungan telepon. Dia memerintahkan anak buahnya itu untuk ke tahap berikutnya: mempersiapkan amaliah dan jihad di Indonesia.

Sejak saat itulah JAD muncul sebagai kekuatan baru “mengalahkan” kelompok teror sebelumnya yakni JAT dan Jamaah Islamiah serta Mujahidin Indonesia Timur. Pola serangan JAD juga random dan tidak lagi punya “pakem”. Gereja, polisi, hingga fasilitas umum disikat.

Puncaknya adalah serangan bom di Thamrin Jakarta dan serangan gereja Samarinda (2016), dan tiga serangan pada 2017, yakni serangan bom terminal Kampung Melayu, penusukan polisi di Mapolda Sumut dan penembakan polisi di Bima, NTB.

Belakangan Aman pun dipidana untuk kali ketiga dalam keterlibatannya dalam rangkaian aksi teror maut itu. Pada Juni 2018 lalu dia divonis hukuman mati oleh hakim PN Jakarta Selatan.

Selang sebulan kemudian JAD dinyatakan sebagai organisasi/korporasi terlarang. Implikasinya semua orang yang terdaftar atau tergabung di dalamnya bisa dipidanakan.

Pada 2018 itu juga ada catatan untuk anggota JAD. Anggotanya melakukan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya, di rumah susun, dan di Polrestabes Surabaya. Tak tanggung-tanggung pelaku bom bunuh diri itu adalah ayah, ibu, dan anak-anak mereka.

Tak hanya di Surabaya -- dan juga di Pandeglang di mana Abu Rara mengajak istrinya -- dalam kasus bom di Sibolga, Solimah, memilih melawan sampai mati dengan meledakan diri bersama anak-anaknya meski sang suami meminta ia menyerah.

Pun dalam kasus ledakan bom bunuh di gereja diri di Filipina pada Juli 2019 dimana pelakunya adalah pasangan suami istri asal Sulawesi Selatan, Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh. Mereka juga adalah anggota JAD.

Lebih Berani, Instan, dan Digital
Menurut eks anggota JI, Ramli alias Iqbal Hussaini alias Adrian Alamsyah alias Rian alias Rambo, pelaku teror JAD saat ini memang lebih berani dibanding masanya dulu. Bahkan beberapa aksi dilakukan secara spontan.

“Ini memang beda. Dari sisi teknis lapangan dalam pelaksanaan amaliah. Sekarang itu pelakunya bawa ID dan nama asli. Tidak lagi ditutup-tutupi,” kata Ramli saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (12/10/2019).

Keberanian itu salah satunya karena memang semuanya serba instan hingga pemahamannya pun instan. Serangannya pun instan, kata Ramli yang pernah harus merasakan hotel prodeo dua kali karena kasus terorisme dan senjata api itu.

Pendapat Ramli diamini oleh Ali Fauzi. Adik tiri trio terpidana Bom Bali 2002 (Mukhlas, Amrozi, dan Ali Imron) yang juga tercatat sebagai eks JI itu mengatakan jika dimasanya rekrutmen dilakukan secara manual.

“Dulu itu harus face to face, manual, berbaiat langsung. Makanya jalur rekrutmen melalui jalur keluarga, darah, sekolah atau pengajian yang sama. Sekarang digital. Melalui FB, instagram, telegram, dan kalau perlu tak perlu ketemu,” kata Ali saat dihubungi terpisah.

Begitupun dari sisi amaliah, dimasa lalu semua diperhitungkan dengan cermat. Perlu survei, perlu persiapan membuat bom mobil, bom rompi, hingga mencari calon 'pengantin’ yang siap mati bunuh diri.

“Kalau saat ini kan tidak perlu rumit begitu. Tertarik bisa gabung. Makanya dari skala serangan ini lebih sering, lebih ecek-ecek karena bisa pakai pisau, pakai golok, tapi di sisi lain lebih berbahaya karena sulit dideteksi. Ini PR BNPT, PR Densus, PR kita,” kata kandidat doktor Universitas Muhammadiyah Malang ini.

Bahaya yang lain adalah, masih kata alumnus akademi paramiliter JI di Filipina itu, karena tidak ada proses kaderisasi yang matang maka struktur organisasi JAD tidak lagi jelas. Bahkan seorang suami bisa mengangkat dirinya jadi amir jaringan yang lalu memerintahkan istrinya.

“Makanya ada kasus bom bunuh diri sekeluarga di Surabaya, di Sibolga, dan di Menes yang mengajak istrinya. Serangan di Menes bukan sekadar serangan kecil tapi serangan kepada simbol negara. Menteri senior yang diserang,” sambungnya.

Tapi mengapa masih ada pendukung daulah (JAD) saat daulah ISIS sudah hancur? Ali menjawab, “bagi pendukung ISIS, secara ideologi daulah ISIS itu masih ada. Tidak kalah. Ini sama seperti yang dulu dialami pendukung NII. Kartosuwiryo bisa mati, tapi ideologinya tetap ada.”

Spontan
Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan jika Abu Rara memang melalukan aksinya secara spontan. Dia bahkan tidak tahu yang dia serang adalah Wiranto.

“Mereka langsung persiapkan amaliah. Kebetulan saat itu, dia (Abu Rara), sebagaimana dia menyampaikan ke penyidik, dia melihat ada kapal, helikopter, mau mendarat. Masyarakat banyak berbondong ke alun-alun. 'Saya nggak tau siapa, tapi itu sasaran kita',” kata Dedi mengulang pernyataan Abu Rara.

Skenario disusun instan. Abu Rara mengatakan ke istrinya dia akan menuju ke alun-alun dimana dia akan menyerang bapak yang turun dari heli dan istrinya langsung menusuk anggota polisi yang terdekat.

“Siapa saja yang ditemukan dengan bapak itu diserang. Jarak rumah mereka dengan alun-alun sekitar 300 meter. Mereka datang bertiga. Abu Rara, istri, dan anaknya,” tambahnya.

Makanya menurut Dedi menghadapi aksi lone wolf semacam ini, “tak akan ada negara yang mampu untuk melakukan antisipasi progresif semacam itu.”

Apalagi mereka juga beniat melawan semaksimal mungkin agar ditembak mati. Maka sang istri juga mengincar kapolda untuk diserang. Mereka menyerang dengan pisau kunai dan gunting. Murah dan gampang dapatnya.



Sumber: BeritaSatu.com

Mengenal JAD, Sel Teror Paling Aktif


Muhammad Reza / Heru Andriyanto / HA
Senin, 14 Oktober 2019 | 22:47 WIB



Sumber: BeritaSatu.com

Diam-diam, Densus Bekuk 2 Terduga Teroris JAD di Bali


I Nyoman Mardika / FMB
Sabtu, 12 Oktober 2019 | 10:47 WIB

Denpasar, Beritasatu.com - Detasemen Khusus 88 Antiteror dikabarkan menangkap dua terduga teroris di wilayah Jembrana, Kamis (10/10/2019) malam. Keduanya adalah bapak dan anak berinisal NK dan JA. Keduanya merupakan jaringan Jemaah Ansharu Daulah (JAD).

Sebelumnya, dua anggota lain dari jaringan ini menusuk Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Wiranto di Menes, Pandeglang, Banten.

Informasi yang dihimpun Jumat (11/10/2019), setelah dua pelaku penusukan Wiranto, yakni SA dan FD, ditangkap di Banten, Densus 88 melakukan preventive strike di beberapa wilayah di Indonesia. "Ternyata dua orang di antaranya ada di Bali (Jembrana)," bisik polisi yang tak mau identitasnya disebutkan.

Sementara itu Kepala Bidang Humas Polda Bali, Kombes polisi Hengky Wijaya yang dikonfirmasi belum bisa memberikan keterangan secara detail karena kedua terduga teroris masih mendapat pemeriksaan secara intensif.



Sumber: Suara Pembaruan

Serangan pada Wiranto Dikhawatirkan Baru "Pemanasan"


Fana Suparman / FMB
Jumat, 11 Oktober 2019 | 10:55 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Serangan terhadap Menko Polhukam, Wiranto dikhawatirkan menjadi pemanasan kelompok-kelompok radikal terutama menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin pada 20 Oktober mendatang. Kekhawatiran itu salah satunya diungkapkan Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan.

"Saya melihat sisi lain dari kasus penyerangan Pak Wiranto sebagai awalan atau pemanasan saja. Targetnya adalah Indonesia seperti Suriah. Kelompok radikal sedang mempersiapkan aksi amaliyah jelang pelantikan Presiden terpilih Joko Widodo, momen ini dianggap sebagai kesempatan emas di mana di situ akan banyak juga kelompok yang berseberangan dengan pemerintah akan turun ke jalan yang berusaha menjegal dan menggagalkan pelantikan," kata Ken, Jumat (11/10/2019).

Polda Sumut Lacak Jaringan Abu Rara

Ken menilai pelantikan presiden dan wakil presiden menjadi kesempatan emas kelompok-kelompok radikal untuk melakukan aksi. Hal ini lantaran menjelang pelantikan Presiden sejumlah kelompok akan menggelar aksi. Tak hanya, kelompok yang anti-pemerintah, atau anti-Jokowi, aksi juga bakal dilakukan oleh kelompok-kelompok yang anti-Pancasila atau pro-khilafah.

"Ini yang bahaya, bila ada bom meledak satu di kerumunan massa dijamin Indonesia akan dalam kondisi darurat karena target radikalis memang demikian. Ketika chaos maka itu peluang yang sangat bagus untuk revolusi menjadikan Indonesia seperti di negara Suriah," ungkapnya.

Ken mengatakan, potensi Indonesia seperti Suriah bisa saja terjadi bila pemerintah lemah dan salah menangani para radikalis. Hal ini mengingat banyak jaringan dan sel sel aktif para radikalis yang punya keterampilan amaliyah.

"Bila mereka mau maka mereka bisa melakukan aksi di manapun mereka berada. Apalagi kini tak perlu komando untuk aksi amaliyah, pokoknya sudah benci pemerintah dan menganggap Pancasila taghut atau berhala itu sudah merupakan modal dasar menjadi pelaku terorisme," katanya.

BIN: Penyerang Wiranto Masuk Jaringan JAD Bekasi

Untuk itu, Ken meminta pemerintah tidak menoleransi lagi kelompok radikal terorisme. Dikatakan, pintu gerbang radikalisme dan terorisme adalah intoleransi, ketika orang sudah tidak menerima perbedaan. Kepada masyarakat, Ken meminta agar kritis terhadap informasi yang kini beredar. Tabbayun atau cek dan konfirmasi suatu informasi menjadi hal yang penting. Para radikalis saat ini menyebar propaganda baik lewat dunia maya maupun dunia nyata. Banyak konten medsos yang provokatif dan menimbulkan kebencian menyebar di masyarakat dan kadang masyarakat kurang kritis hingga turut menyebarkan konten tersebut.

"Bila keadaan dianggap sudah bahaya ke depan, saya mengusulkan agar Internet di down-kan agar situasi kondusif, sebab hari ini saja berita hoax sudah berseliweran di sekitar kita. Apalagi jelang pelantikan presiden," katanya.

Diketahui, Wiranto mengalami penyerangan saat berkunjung ke Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019) pukul 11.55 WIB di pintu gerbang Alun-alun Menes Desa Purwaraja Kec Menes. Saat itu Wiranto bersama rombongan hendak meninggalkan hellypad atau tempat pendaratan helikopter. Pelaku penusukan diduga Fitri Andriana Binti Sunarto, kelahiran Brebes 5 Mei 1998, beralamat di Desa Sitanggai Kec Karangan Kab Brebes, Jawa Tengah. Dia tinggal dengan mengontrak rumah di Kp Sawah Desa/Kec Menes, Pandeglang. Terduga pelaku lain adalah Syahril Alamsyah alias Abu Rara, suami Fitri, kelahiran Medan, 24 Agustus 1988, dan beralamat di Jl Syahrial VI No 104 LK, Desa Tanjung Mulia Hilir, Kec Medan Deli, Kota Medan, Sumatera Utara.
Wiranto mengalami luka tusuk di bagian perut dan kini dirawat di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat.



Sumber: Suara Pembaruan