OJK Prediksi Pertumbuhan Kredit 2020 Maksimal 4%
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

OJK Prediksi Pertumbuhan Kredit 2020 Maksimal 4%

Kamis, 23 Juli 2020 | 16:51 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memperkirakan pertumbuhan penyaluran kredit pada 2020 ini hanya 3 persen hingga 4 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan realisasi di 2019 yang tumbuh 6,08 persen.

Baca Juga: 24 Manajer Investasi Kena Sanksi OJK

Wimboh mengatakan, kondisi ekonomi pada triwulan II-2020, khususnya di bulan Juni 2020 masih sangat berat. Apalagi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan tersebut juga diprediksi akan mengalami kontraksi.

Pada Mei 2020, pertumbuhan kreditnya 3,04 persen. Pada Juni 2020, Wimboh memprediksi pertumbuhannya masih akan turun, namun di bulan Juli 2020 akan mulai terlihat adanya peningkatan seiring dengan dibukanya kegiatan ekonomi.

"Diperkirakan dari berbagai angka proyeksi perbankan dalam bisnis plan mereka, pertumbuhan kredit sampai akhir 2020 sekitar 3 persen hingga 4 persen. Kalau di lihat per bulan, di Juni pasti turun karena memang di bulan tersebut aktivitas ekonominya belum begitu bergerak. Tetapi di Juli ini mulai ada pergerakan,” kata Wimboh Santoso dalam acara diskusi yang digelar Institute for Development of Economic and Finance (Indef), di Jakarta, Kamis (23/7/2020).

Terkait permintaan restrukturisasi kredit, Wimboh mengatakan, sejak Juni 2020 sudah mulai terjadi tren penurunan dan terus berlanjut pada bulan Juli ini.

Baca Juga: OJK Sebut One Man Show Fraud Sulit Dideteksi

Data per 13 Juli 2020, restrukturisasi yang dilakukan oleh perbankan telah mencapai Rp 776,99 triliun dengan 6,75 juta debitur. Rinciannya adalah 5,43 juta debitur Usaha mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dengan total restru Rp 328,68 triliun, dan 1,32 juta debitur non-UMKM dengan jumlah restu mencapai Rp 448,31 triliun.

"Kalau kita lihat, angka restructuring-nya sudah melandai. Kita harapakan bagaimana yang sudah restruktur ini betul-betul kita tangani dengan baik, sehingga insentif dari pemerintah yang bisa diptimalkan bisa membuat cepat recovery-nya,” kata Wimboh.

Menurut Wimboh, OJK juga akan terus memantau apakah nantinya proses recovery yang diharapkan bisa berjalan lebih cepat, atau justru akan lebih lama. Kalau pun lebih lama, regulasi terkait restrukturisasi kredit juga memberi ruang untuk melakukan perpanjangan waktu pelaksanaan kebijakan tersebut. "Paling tidak ini sudah kita putuskan sebelum akhir tahun. Namun ada ruang untuk itu (memperpanjang kebijakan restrukturisasi kredit),” kata Wimboh.

Sementara itu, ekonom senior Indef, Aviliani mengatakan, melemahnya pertumbuhan kredit perbankan dikarenakan selama masa pandemi Covid-19 ini, demand atau permintaan melemah. Banyak debitur atau pelaku usaha mengalami penurunan penjualan akibat daya beli masyarakat yang turun.

Baca Juga: OJK Bilang 73% Iklan Perbankan Langgar Aturan

Karenanya, lanjut Aviliani, pemerintah harus mendorong percepatan realisasi program-program yang dapat meningkatkan sisi demand, antara lain yang sudah dirumuskan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Pada kesempatan terpisah, ekonom Core Indonesia Piter Abdullah menyampaikan, dari berbagai indikator di perbankan, sebetulnya kondisi perbankan masih relatif aman. Tetapi memang ada beberapa hal yang bisa mengancam sektor perbankan. Selain pertumbuhan kredit yang melambat, Piter juga melihat adanya potensi peningkatan kredit macet.

"Kondisi perbankan kita masih terjaga. Tapi harus tetap berhati-hati karena risiko di perbankan masih tinggi. Selama wabah Covid-19 masih berlangsung, maka risiko yang ada di dunia usaha masih besar. Apabila risiko ini tidak bisa ditangani dengan baik, ini bisa menjalar ke sektor keuangan, akan menyebabkan lonjakan kredit macet dan kemudian menggerus keuntungan perbankan, yang pada ujungnya bisa membuat kondisi perbankan memburuk,” kata Piter.

Menurut Piter sangat dibutuhkan upaya yang sunguh-sungguh dan sinergi antara pemerintah dan otoritas moneter, termasuk dengan OJK. "Ini dalam rangka menjaga ketahanan dunia usaha, dan juga menjaga stabilitas dari sistem keuangan, khususnya perbankan," kata Piter.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Kontribusi BUMN di Tengah Pandemi Covid-19 Perkuat Ekonomi Nasional

Kementerian BUMN berkontribusi positif dalam memperkuat ekonomi nasional, diantaranya dengan menyetorkan dana kepada pemerintah sebesar Rp 55,51 triliun.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Penyaluran KPR BNI Tumbuh 5,6% di Kuartal II-2020

BNI turut serta untuk memenuhi kebutuhan KPR dengan menyelenggarakan BNI Griya Expo online.

EKONOMI | 23 Juli 2020

57% UKM Alami Peningkatan Jumlah Pelanggan Baru di Tengah Pandemi Covid-19

Survei Paxel Buy & Send Insight II mencatat 39,99 persen UKM mengurangi stok barang jualan dan 16,1 persen mengurangi karyawan karena toko offline yang ditutup.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Didimax Berjangka Siapkan Modal Kerja Rp 105 Miliar

Didimax berencana membuka tujuh cabang baru yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.

EKONOMI | 23 Juli 2020

PPI Buka Kantor Perwakilan di Singapura

Dalam rangka perluasan penetrasi pasar ekspor dan ekspansi bisnis, PT PPI mendirikan "Representative Office" (RO) atau Kantor Perwakilan PPI di Singapura.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Dongkrak Pasar Ekspor Sawit dengan Peningkatan Promosi

Pemerintah akan terus memberikan dukungan dan fasilitas untuk pembukaan pasar baru dalam rangka meningkatkan ekspor sawit.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Redam Mafia Migas, BUMN Energi Didorong Go Global

BUMN Energi didorong untuk merambah bisnis ke negara lain atau go global. Namun demikian, hal ini tidak perlu dilakukan secara tergesa-gesa.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Bedah 13.902 Rumah di Jabar, Kempupera Alokasikan Rp 243,28 Miliar

Program BSPS dilakukan dengan metode padat karya tunai (PKT).

EKONOMI | 23 Juli 2020

Rupiah Menguat Sejalan Mata Uang Asia Siang Ini

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.540-Rp 14.624 per dolar AS.

EKONOMI | 23 Juli 2020

Kempupera Dorong Pemda Siapkan Strategi Pembangunan Perumahan

Kempupera mendorong pemda ajukan usulan program perumahan melalui Sibaru.

EKONOMI | 23 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS