Gita Wirjawan: Situasi Dunia Pascapandemi Covid-19 Lebih Rumit
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Gita Wirjawan: Situasi Dunia Pascapandemi Covid-19 Lebih Rumit

Sabtu, 13 Juni 2020 | 21:21 WIB
Oleh : Novy Lumanauw / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Mantan Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengingatkan, situasi dan tatanan dunia pascapandemi virus corona atau Covid-19, cenderung lebih rumit.

Baca Juga: Swasta Juga Perlu Diperhatikan

Menurut Gita, tatanan dunia pascapandemi Covid-19 akan diwarnai pergeseran model bisnis dari paradigma lama ke paradigma digital atau virtual, serta terciptanya polarisasi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.

"Tidak mudah untuk ditebak, tapi saya kira ada beberapa atribut yang akan cenderung mewarnai era pascapandemi Covid-19," kata Gita Wirjawan, di Jakarta, Sabtu (13/6/2020).

Gita mengatakan, sedikitnya ada tujuh atribut yang harus diperhatikan pemerintah dan kalangan dunia usaha pascapandemi Covid-19. Pertama, kemungkinan terjadinya perlambatan berkelanjutan pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia, bahkan runtuhnya permintaan agregat yang ada dalam beberapa waktu ke depan.

"Kedua, kemungkinan akan adanya penurunan produktivitas yang terus berlanjut di seluruh dunia karena terganggunya rantai pasok global,” kata Gita Wirjawan.

Baca Juga: Insentif Dunia Usaha Harus Cepat dan Tepat

Ketiga, lanjut Gita, adanya tren pengajuan pinjaman di tingkat nasional, perusahaan, maupun individu. Keempat, adanya kesenjangan yang bisa jadi lumayan besar, antara pasar modal dan ekonomi riil akibat kebijakan pelonggaran kuantitatif yang telah dilakukan beberapa negara maju.

"Efeknya, uang yang telah dicetak secara signifikan tidak benar-benar teralirkan ke level terendah di ekonomi riil, dan justru terperangkap di banyak instrumen pasar modal," jelas Gita Wirjawan.

Kelima adalah pergeseran model bisnis dari paradigma lama ke paradigma digital atau virtual. "Keenam, kita akan melihat kelanjutan dari periode dengan inflasi rendah yang cukup panjang, bahkan bukan tidak mungkin deflasi. Salah satunya disebabkan oleh berbagai inovasi teknologi yang berhasil menyusutkan biaya di berbagai tempat," tegasnya.

Ketujuh, tambah Gita, akan terlihat suatu polarisasi lebih lanjut antara AS dan Tiongkok atau yang oleh sebagian orang disebut dengan decoupling.

Baca Juga: Pemerintah Lebih Memihak UMKM dan BUMN

"Jadi, tatanan dunia pascapandemi Covid-19 akan cenderung menjadi sedikit lebih rumit. Saya rasa, penting bagi negara seperti Indonesia, yang merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, dengan populasi terbesar keempat di dunia, untuk dapat memposisikan dirinya secara pragmatis dan bijaksana demi keterlibatan dengan seluruh dunia dalam konteks ekonomi dan geopolitik," tegas Gita Wirjawan.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

UangTeman Gandeng Dukcapil Pastikan Keamanan Data Nasabah

Dengan validasi yang lebih akurat, proses verifikasi calon nasabah akan lebih akurat.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Pengesahan RUU Cipta Kerja Dorong Pertumbuhan Ekonomi Hingga 6%

RUU Cipta Kerja dinilai sangat mendukung kemudahan usaha, perizinan, dan menyelesaikan aturan tumpang tindih.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Kempupera Kembangkan Aplikasi Bantuan Pembiayaan Perumahan

Penyaluran bantuan pembiayaan perumahan disinergikan melalui aplikasi SiKasep

EKONOMI | 13 Juni 2020

Survei CEO Fortune 500: Bagaimana Perusahaan Menghadapi Covid-19?

Mayoritas CEO perusahaan Fortune 500 mengatakan pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi Covid-19 baru akan terjadi pada triwulan pertama 2022.

EKONOMI | 13 Juni 2020

RUU Cipta Kerja Dorong Pertumbuhan Ekonomi 6% Setelah Pandemi

Menurut Rahma, RUU Cipta Kerja yang sifatnya sapu jagat memberantas tumpang tindih peraturan, harusnya bisa segera disahkan.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Kempupera Siapkan Anggaran Rp 12 Miliar Bangun Rusunawa dan Embung di Unila

Lokasi pembangunan Rusunawa Unila berada di Kota Bandarlampung dan memiliki 50 unit kamar atau hunian sebanyak 50 unit dengan tipe 24.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Anggota DPR Dapil Jakarta Ini Dukung Pemangkasan Direksi BUMN

Pangkas saja direksi BUMN-BUMN lain yang kurang efisien dan hanya ngabisin anggaran negara.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Multipolar Lirik Start-up Travel dan Kesehatan

PT Multipolar Tbk (MLPL) menjajaki peluang investasi di perusahaan rintisan (start-up) di sektor kesehatan dan travel.

EKONOMI | 13 Juni 2020

PT Pertamina EP Asset 4 Percepat Pemulihan CPP Gundih

PT Pertamina EP Asset 4 mampu mempercepat pemulihan (recovery) CPP Gundih di Blora, Jateng, setelah mengalami kebakaran pada 9 April 2020.

EKONOMI | 13 Juni 2020

Mengenali Resesi Ekonomi

Resesi biasanya didefinisikan sebagai periode di mana PDB menurun selama dua triwulan berturut-turut.

EKONOMI | 13 Juni 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS