Menpupera: Pembangunan Infrastruktur Tingkatkan Daya Saing
INDEX

BISNIS-27 446.563 (0.9)   |   COMPOSITE 5038.4 (20.82)   |   DBX 922.546 (11.18)   |   I-GRADE 135.148 (0.22)   |   IDX30 424.72 (2.48)   |   IDX80 110.692 (0.82)   |   IDXBUMN20 282.764 (1.87)   |   IDXG30 117.102 (1.3)   |   IDXHIDIV20 380.385 (2.52)   |   IDXQ30 124.37 (0.98)   |   IDXSMC-COM 213.267 (2.27)   |   IDXSMC-LIQ 240.075 (3.67)   |   IDXV30 104.022 (1.02)   |   INFOBANK15 809.007 (-5.39)   |   Investor33 370.782 (0.4)   |   ISSI 146.581 (1.48)   |   JII 534.734 (4.37)   |   JII70 181.171 (1.51)   |   KOMPAS100 994.168 (2.43)   |   LQ45 775.543 (4.77)   |   MBX 1400.42 (4.19)   |   MNC36 279.01 (-0.17)   |   PEFINDO25 262.474 (3.1)   |   SMInfra18 238.826 (3.53)   |   SRI-KEHATI 314.013 (-0.58)   |  

Menpupera: Pembangunan Infrastruktur Tingkatkan Daya Saing

Selasa, 1 Oktober 2019 | 15:53 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera), Basuki Hadimuljono menyampaikan, orasi ilmiah dalam acara wisuda Universitas Pancasila yang digelar di Balai Sidang Jakarta Convention Center (JCC), Selasa (1/10/2019).

Wisuda Universitas Pancasila

Baca Juga: Bamsoet Minta DPR 2019-2024 Kawal Pemindahan Ibu Kota

Dalam orasinya, Basuki mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meyakini bahwa fondasi pembangunan nasional melalui pembangunan infrastruktur harus diwujudkan agar Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa besar lain di dunia. Presiden Jokowi, menurut Basuki, juga telah berkali-kali menyampaikan perlunya Indonesia memiliki daya saing untuk mampu berkompetisi pada tataran global.

"Daya tahan Indonesia sangat tergantung pada ketangguhan infrastruktur yang kita miliki. Pembangunan infrastruktur yang kita lakukan sekarang ini bukan untuk gagah-gagahan, tetapi merupakan kebutuhan untuk kita bisa berdaya saing dengan negara lain,” kata Basuki Hadimuljono.

Baca Juga: PTPP Tandatangani PPJT Tol Semarang-Demak

Pada 2019 ini, lanjut Basuki, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mencapai 5,08 persen. Sementara negara-negara maju dan berpenduduk besar lainnya tumbuh di bawah angka Indonesia. Menurutnya, kerja sama pemerintah dan badan usaha infrastruktur memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi indonesia.

"Bagi Indonesia, menempatkan infrastruktur dalam posisi prioritas kebijakan pembangunan nasional merupakan suatu pilihan yang logis dan strategis. Dalam kurun waktu lima waktu terakhir, peringkat daya saing infrastrutur Indonesia mengalami peningkatan dari peringkat 61 pada tahun 2013 menjadi peringkat 52 pada tahun 2018. Tentunya ini masih kurang. Kita masih harus meningkatkan peringkat ini yang berarti pembangunan infrastrukutrnya harus lebih tangguh lagi,” kata Basuki.

Baca Juga: Menpupera Sebut Konsep Ibu Kota Baru A City in the Forest

Basuki melanjutkan, Presiden menyadari sepenuhnya bahwa infrastruktur yang handal merupakan salah satu kunci penting dalam meningkatkan daya saing Indonesia. Presiden Jokowi saat menyampaian visi Indonesia sebagai Presiden terpilih pada 14 Juli 2019 lalu di Bogor juga telah menyampaikan bahwa infrastruktur akan terus dilanjutkan. Namun tidak berhenti di sana saja, melainkan harus dikaitkan dengan kemanfaatan ekonomi dari infrastruktur tersebut.

"Yang dimaksud melanjutkan pembangunan infrastruktur dalam lima tahun ke depan adalah lebih diprioritaskan pada memanfaatkan infrastruktur yang sudah dibangun lima tahun terakhir, di samping menyelesaikan yang belum selesai. Misalnya infrastruktur yang sudah dibangun harus dihubungkan dengan kawasan industri rakyat, industri kecil, kawasan ekonomi khusus, kawasan pariwisata dan kawasan pertumbuhan lain,” kata dia.

Baca Juga: Hingga Akhir 2019, Sembilan Ruas Tol Diresmikan

Basuki menambahkan, kondisi ini juga berkaitan dengan fakta bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yang menunjukkan hubungan antara peningkatan belanja modal (termasuk infrastruktur) dan pertumbuhan ekonomi yang masih tinggi. Pada 2018, ICOR Indonesia adalah 6,3. Artinya setiap peningkatan pertumbuhan ekonomi 1 persen membutuhkan peningkatan investasi infrastruktur sebesar 6,3 persen juga.

"Makin besar nilai ICOR-nya, makin boros dan tidak efisien. Bandingkan dengan Vietnam yang 4,31 atau negara berpenduduk besar lain yang memiliki ICOR di bawah 5. Makin kecil akan semakin efisien. Dengan investasi kecil, pertumbuhan ekonominya bisa lebih besar. Tetapi kalau dibutuhkan investasi yang lebih besar dengan pertumbuhan yang sama, artinya tidak efisien,” tuturnya.

Belanja infrastruktur Indonesia menurutnya belum mampu memicu sektor lainnya untuk bergerak. Karenanya, sektor lain akan terus didorong untuk memanfaatkan infrastruktur yang tersedia. "Infrastruktur kita perlukan sebagai pengungkit dan memberikan dampak terhadap transformasi dan pertumbuhan ekonomi nasional,” imbuh Basuki.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Total Rekening Bank Agustus Naik, Namun Simpanannya Turun

Untuk simpanan dengan nilai saldo di atas Rp 2 miliar, jumlah rekeningnya juga naik 0,36 persen.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Moodys Peringatkan Risiko Gagal Bayar Korporasi RI, Ini Kata Sri Mulyani

Penilaian Moodys tersebut dapat menjadi peringatan dini sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil keputusan di perusahaan.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Tiket Kereta Cepat Jakarta-Bandung Mulai Rp 300.000

Proyek tersebut dapat berjalan pada 2021.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

PTPP dan PGN Kerja Sama Bangun 500.000 Jargas

Pembangunan 500.000 jargas rumah tangga ini akan dilakukan dalam dua fase.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Bisnis Hotel di Nusa Penida Potensial

Kini, di tiga pulau kawasan Nusa Penida hanya terdapat 197 penginapan. Dari jumlah tersebut hanya tersedia empat ruang pertemuan dan 94 restoran.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Rujuk! Garuda dan Sriwijaya Sepakat Lanjutkan Kerja Sama

Berlanjutnya kerja sama ini diharapkan dapat menjaga level keselamatan dan kelaikudaraan pada operasional seluruh armada Sriwijaya Air.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Harga Beras Kualitas Medium September Naik 0,84%

Harga rata-rata beras premium di penggilingan sebesar Rp 9.594 per kg, atau naik sebesar 0,67 persen.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Daya Beli Petani September Naik 0,63%

Pada September 2019, NTP Provinsi Jambi mengalami kenaikan tertinggi (2,27 persen).

EKONOMI | 1 Oktober 2019

September, Indeks Harga Grosir Nonmigas Turun 0,36%

Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain cabai merah, cabai rawit, ayam ras, tomat.

EKONOMI | 1 Oktober 2019

Sesi I IHSG Melemah 13 Poin ke 6.155

Volume perdagangan hingga sesi siang ini tercatat sebanyak 97.678 miliar saham senilai Rp 3,333 triliun.

EKONOMI | 1 Oktober 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS