Penyebaran Paham Radikal di Indonesia Mengkhawatirkan
INDEX

BISNIS-27 511.575 (-1.4)   |   COMPOSITE 5759.92 (23.42)   |   DBX 1054.23 (9.81)   |   I-GRADE 169.662 (-0.8)   |   IDX30 501.412 (-1.48)   |   IDX80 131.739 (0.17)   |   IDXBUMN20 371.622 (2.16)   |   IDXG30 135.832 (0.63)   |   IDXHIDIV20 450.213 (0.05)   |   IDXQ30 146.619 (-0.52)   |   IDXSMC-COM 244.641 (3.77)   |   IDXSMC-LIQ 299.216 (4.65)   |   IDXV30 126.958 (1.03)   |   INFOBANK15 989.895 (-6.43)   |   Investor33 430.473 (-1.37)   |   ISSI 168.725 (1.07)   |   JII 619.114 (0.96)   |   JII70 212.184 (1.01)   |   KOMPAS100 1175.82 (1.47)   |   LQ45 920.779 (-0.67)   |   MBX 1601.16 (5.3)   |   MNC36 321.923 (-0.8)   |   PEFINDO25 313.689 (3.18)   |   SMInfra18 292.004 (3.49)   |   SRI-KEHATI 368.014 (-1.81)   |  

Penyebaran Paham Radikal di Indonesia Mengkhawatirkan

Jumat, 18 September 2020 | 11:16 WIB
Oleh : Yeremia Sukoyo / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Penyebaran paham radikal di lingkungan sekolah hingga perguruan tinggi hingga kini masih terjadi dan sudah melibatkan kalangan guru maupun dosen. Kondisi seperti ini jika dibiarkan akan dapat menelurkan bibit-bibit baru kelompok radikal yang tidak menerima keberadaan Pancasila sebagai ideologi bangsa.

"Saat ini banyak yang sudah terpapar, terutama dari kalangan kampus, termasuk dosen. Ini bukan satu dua kampus, tapi cukup masif. Bahkan salah satu kampus ada lima dosen teridentifikasi terpapar paham anti-Pancasila," kata Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center, Ken Setiawan, dalam webinar bertema "Penguatan Karakter Bangsa" yang di selenggarakan Forum Rektor Indonesia (FRI), di Jakarta, Jumat (18/9/2020).

Menurutnya, kalangan dosen yang terpapar pemikiran radikal dan anti-Pancasila mengajarkan agama yang berhaluan radikal. "Kondisi ini sangat berbahaya untuk ke depan. Pancasila sudah final namun ternyata masih banyak orang tertarik dengan ideologi lain," ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan kelompok radikal anti-Pancasila yang ada di Indonesia mengincar seluruh lapisan masyarakat. Namun demikian, kalangan generasi muda merupakan kelompok yang paling diincar.

"Suka tidak suka, banyak kalangan muda yang tertarik ideologi lain dan tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi bangsa. Kondisi ini memperbesar kemungkinan ideologi lain masuk. Mereka (kelompok radikal) menggunakan sugesti," ujarnya.

Menurut Ken, masih adanya masyarakat yang tidak tertarik keberadaan Pancasila merupakan salah satu tantangan besar pemerintah. Jika ketidaktertarikan ini dibiarkan, maka besar kemungkinan akan masuk ideologi lain di kalangan anak muda.

"Ditambah lagi banyak anak muda yang belajar ke guru yang salah. Guru sekolah negeri bahkan ada yang membenarkan pendirian negara khilafah. Di sisi lain yang moderat cenderung diam," ucap Ken.

Dirinya menceritakan, dari pengalamannya saat menjadi bagian dari kelompok NII, biasanya ada tiga level orang yang anti-Pancasila. Yaitu level iman, hijrah dan jihad. Iman merupakan keyakinan untuk meninggalkan berhala. Artinya, Pancasila yang dianggap berhala atau thogut harus ditinggalkan dengan perumpamaan ayat-ayat.

"Menularkan kebencian kepada Pancasila dengan menggunakan perumpamaan ayat. Tauhidnya mereka propagandakan. Hijrah pindah, finalnya mereka jihad yaitu melakukan bom bunuh diri dan lain sebagainya," ucapnya.

Saat ini, masyarakat sendiri sesungguhnya bisa mengidentifikasikan siapa saja kelompok masyarakat yang sudah terpapar pemikiran radikal dan anti-Pancasila. Biasanya kelompok tersebut bersifat tertutup, saling menjaga rahasia, dan biasanya jika sudah bergabung maka akan meninggalkan keluarganya.

"Semua orang yang belum bergabung dengan mereka menghalalkan darahnya, hartanya, dan lain-lain. Kelompok mahasiswa sudah banyak yang bergabung dengan kelompok ini. Orang-orang ini biasanya juga akan frontal terhadap seluruh kebijakan pemerintah," ucapnya.

Salah satu cara efektif mencegah penularan pemikiran tersebut, maka masyarakat diharapkan tidak belajar pemahaman agama kepada guru yang salah. Untuk mengidentifikasinya, maka bisa dilihat dari ceramah ataupun pengajaran yang disampaikan.

"Hari ini banyak sekali tokoh agama, bahkan yang berstempel ulama, tapi mengajarkan hujatan, caci maki, ujaran kebencian, kekerasan, hingga tidak bisa menjadi tauladan. Belajar agama, kita harus tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Kalau membuat marah, jangan kita ikuti," kata Ken.

Deputi Kajian Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Prof Adji Samekto, mengingatkan, saat ini masyarakat telah memandang sebelah mata arti dari kehidupan kebangsaan. Dirinya pun mengingatkan pentingnya nilai-nilai kebangsaan di dalam upaya pembumian nilai-nilai Pancasila.

"Saat ini, berbicara kebangsaan sudah dipandang sebelah mata. Dulu kebangsaan ketika Indonesia berdiri, memang merupakan salah satu bentuk perlawanan penjajahan," kata Adji.

Dalam konteks kekiniaan yakni di dalam konteks Pancasila, maka harus merefleksikan dalam persatuan bangsa yang memiliki latar belakang berbeda-beda.

"Semangat kebangsaan harus dijaga, yaitu melalui proses kelembagaan, regulasi dan melalui proses budaya. Di kelembagaan memperkuat komitmen empat konsensus dasar kebangsaan," ucapnya.



Sumber:BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

PKB Gelar Tahlil dan Doa Bersama untuk Dokter dan Tenaga Kesehatan

Mendoakan para pejuang pandemi adalah ikhtiar spiritual yang tidak kalah penting selain melakukan ikhtiar medis, dan ikhtiar dari sisi kesehatan.

NASIONAL | 18 September 2020

Pengadilan Tipikor Jakarta Gelar Sidang Perdana Jaksa Pinangki Rabu Depan

Sidang perkara dugaan suap dan TPPU Jaksa Pinanki nantinya akan dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim IG Eko Purwanto.

NASIONAL | 18 September 2020

5 Kabupaten Belum Miliki Perbub, Sekda Sulteng Desak Segera Terbitkan Aturan Penegakan Protokol Kesehatan

Dari 13 kabupaten/kota di Sulteng, baru delapan kabupaten/kota yang telah memiliki peraturan bupati/wali kota mengatur penegakan hukum protokol kesehatan.

NASIONAL | 18 September 2020

2.520 Orang Jalani Isolasi Mandiri, Gugus Tugas Sumut Masih Bahas Pemindahan Orang Tanpa Gejala

"Berdasarkan kasus positif aktif tersebut, sebanyak 2.520 orang menjalani isolasi mandiri dan selebihnya dirawat di sejumlah rumah sakit," ujar Whiko Irwan.

NASIONAL | 18 September 2020

Disperindag Bengkulu Ancam Cabut Izin Agen Gas Elpiji yang Nakal

Dari hasil pengecekan di lapangan, tidak ditemukan adanya indikasi kelangkaan gas seperti yang di keluhkan warga dan harganya melambung Rp 25.000/tabung.

NASIONAL | 18 September 2020

OPM Klaim Rampas Senjata dari Aksi Serangan di Intan Jaya

Serangan terhadap anggota TNI dilakukan dengan menembaki rombongan Satgas Apter Koramil Hitadipa dari dua arah.

NASIONAL | 18 September 2020

Korban Terorisme Berhak Dapat Kompensasi dan Santunan Negara

Melalui Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), para korban terorisme tersebut bisa mengajukan kompensasi dan santunan kematian.

NASIONAL | 18 September 2020

Ada Dugaan Unsur Pidana Kebakaran Gedung Kejagung, Lemkapi Dukung Langkah Bareskrim

Kebakaran yang diduga dilakukan pihak lain terhadap kantor Kejagung tidak bisa dibiarkan. Siapa pun pelakunya jika terbukti harus dihukum berat.

NASIONAL | 18 September 2020

Perpustakaan Daerah Harus Dibangun Modern dan Memadai

Komisi X DPR mendukung langkah perpustakaan nasional (Perpusnas) membangun perpustakaan modern di daerah.

NASIONAL | 18 September 2020

Dukungan terhadap Menantu Presiden Jokowi Terus Mengalir

Bobby Afif Nasution, Kamis (17/9/2020) malam, bersilaturahmi dengan Keluarga Besar Parsadaan Pomparan Somba Debata (PPSD).

NASIONAL | 18 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS