Tren NPL Terus Meningkat,Tembus 3,11% di Juni
INDEX

BISNIS-27 434.406 (-0.23)   |   COMPOSITE 4934.09 (-16.14)   |   DBX 924.804 (3.39)   |   I-GRADE 130.838 (-0.55)   |   IDX30 413.425 (-1.26)   |   IDX80 108.094 (-0.37)   |   IDXBUMN20 272.657 (-3.39)   |   IDXG30 115.379 (0.39)   |   IDXHIDIV20 370.721 (-2.24)   |   IDXQ30 120.916 (-0.16)   |   IDXSMC-COM 211.116 (-0.82)   |   IDXSMC-LIQ 236.814 (-0.83)   |   IDXV30 102.468 (-0.58)   |   INFOBANK15 776.883 (-3.28)   |   Investor33 360.093 (-0.17)   |   ISSI 144.765 (-0.24)   |   JII 523.909 (0.36)   |   JII70 177.568 (-0.12)   |   KOMPAS100 966.07 (-3.19)   |   LQ45 756.376 (-2.2)   |   MBX 1366.8 (-5.86)   |   MNC36 270.277 (-1.09)   |   PEFINDO25 258.891 (-1.93)   |   SMInfra18 233.321 (-1.32)   |   SRI-KEHATI 303.606 (-0.74)   |  

Tren NPL Terus Meningkat,Tembus 3,11% di Juni

Selasa, 4 Agustus 2020 | 14:00 WIB
Oleh : Lona Olavia / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - Sejumlah stimulus yang diluncurkan pemerintah, termasuk maraknya restrukturisasi kredit yang terimbas pandemi, tak sepenuhnya dapat menekan rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) di perbankan dan (non performing financing/NPF) di perusahaan pembiayaan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hingga Juni 2020, NPL 3,11%, meningkat cukup signifikan dibandingkan Desember 2019 sebesar 2,53%. Rasio tersebut juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata rasio bulanan pada Maret 2020 2,77%, April 2,89%, dan Mei 3,01%.

Secara sektoral, NPL sektor perdagangan besar mencatat NPL 4,59%, pengolahan 4,57%, dan rumah tangga 2,32% yang memiliki porsi 57% dari total kredit. Lalu berdasarkan jenis penggunaan kredit, NPL tertinggi pada kredit modal kerja 3,96%.

Sedangkan, NPF tercatat meningkat menjadi 5,1% pada Juni 2020. Mayoritas NPF terjadi pada sektor perdagangan besar dan eceran, rumah tangga, industri pengolahan, transportasi dan pergudangan, pertambangan dan penggalian, dan kegiatan jasa lainnya.

Namun, Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyebutkan, kenaikan kredit bermasalah itu bisa ditekan dengan restrukturisasi, sehingga OJK akan mengkaji perpanjangan POJK No.11/POJK.03/2020 yang sudah dimulai dari Maret tersebut. Di mana, jika itu terlaksana, maka perpanjangan akan diberlakukan selama 1 tahun ke depan, dari masa berakhirnya pada Februari 2021.

"POJK 11 dimungkinkan untuk diperpanjang sehingga bisa memberikan ruang sektor riil untuk bisa bertahan karena tidak dikategorikan menjadi non performing. Ini masih dalam tahap evaluasi dan berembuk dengan perbankan. Tapi, POJK 11 diberikan hanya ke pengusaha yang mau kembali berusaha," ujarnya dalam konferensi pers virtual "Perkembangan Kebijakan dan Kondisi Terkini Sektor Jasa Keuangan", Selasa (4/8/2020).

Meski begitu, tren restrukturisasi, diakui Wimboh mengalami penurunan, sehingga menandakan adanya momentum dari sektor usaha maupun perbankan untuk bangkit.

Perbankan, berdasarkan data OJK, telah melakukan restrukturisasi kredit untuk 6,73 juta debitur dengan total outstanding mencapai Rp 784,36 triliun hingga 20 Juli 2020. Di mana, outstanding restrukturisasi UMKM sebesar Rp 330,27 triliun berasal dari 5,38 juta debitur dan non UMKM Rp 454,09 triliun berasal dari 1,34 juta debitur.

Sementara itu, Wimboh mengatakan terdapat 102 bank yang berpotensi mengimplementasikan restrukturisasi kepada 15,22 juta debitur dengan outstanding Rp 1.379,4 triliun hingga 20 Juli 2020.

Potensi tersebut terdiri dari 12,64 juta debitur UMKM dengan outstanding Rp 559,1 triliun dan 2,58 juta debitur non UMKM dengan outstanding Rp 820,3 triliun.

Kemudian berdasarkan data dari 183 perusahaan pembiayaan, terdapat 4,73 juta kontrak permohonan restrukturisasi dan sebanyak 362.529 kontrak masih dalam proses persetujuan per 28 Juli 2020.

Sedangkan jumlah kontrak restrukturisasi yang telah disetujui oleh perusahaan pembiayaan adalah sebanyak 4,09 juta debitur dengan outstanding Rp 151,01 triliun.

“Total restrukturisasi 25%-30% meskipun kita perkirakan sebelumnya 40%. Kenyataannya lebih kecil dari yang kita perkirakan dan jumlahnya yang direstrukturisasi ini sudah mulai flat,” katanya.



Sumber:BeritaSatu.com

TAG: 


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

Ekonomi Perlahan Pulih, Indeks Manufaktur Indonesia Membaik

Indeks Manufaktur (PMI) Indonesia pada bulan Juli 2020 berada di level 46,9, naik dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 39,1.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Sierad Produce Berganti Nama Menjadi Sreeya Sewu Indonesia

Kata sreeya berasal dari bahasa Sanskerta yang memiliki beberapa arti, antara lain menguntungkan, kesejahteraan, serta kesuburan.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Pegadaian Implementasikan Budaya Akhlak

Pegadaian merupakan salah satu BUMN yang proaktif dan berkomitmen menerapkan nilai Akhlak.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Siang Ini, Rupiah Tergerus Saat Mata Uang Asia Bervariasi

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.565-Rp 14.672 per dolar AS

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Siang Ini, Mayoritas Bursa Asia Menguat

Indeks Nikkei 225 Jepang naik 271,0 (1,67 persen) mencapai 22.566 poin.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Pemerintah Miliki Banyak Amunisi Pencegah Resesi

Percepatan eksekusi belanja negara dan stimulus ekonomi serta pengendalian Covid-19 secara disiplin menjadi kunci agar Indonesia terhindar dari resesi.

EKONOMI | 3 Agustus 2020

Sesi Siang, IHSG Bertambah 56 Poin ke Level 5.062

Sebanyak 243 saham naik, 148 saham melemah dan 151 saham stagnan.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Emas Antam Naik ke Rp 1,029 juta Per Gram

Untuk pecahan 500 gram: Rp 484,820 juta.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Awal Perdagangan, Rupiah Menguat Sejalan Mata Uang Asia

Transaksi rupiah pagi ini diperdagangkan dalam kisaran Rp 14.565-Rp 14.570 per dolar AS.

EKONOMI | 4 Agustus 2020

Dibuka, IHSG Langsung Melesat ke Zona Hijau

Pukul 09.10 WIB, indeks harga saham gabungan naik 42,3 poin (0,82 persen) menjadi 5.047.

EKONOMI | 4 Agustus 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS