Meskipun Dikucilkan WHO, Taiwan Berhasil Redam Covid-19
INDEX

BISNIS-27 426.538 (11.39)   |   COMPOSITE 4842.76 (103.04)   |   DBX 923.5 (7.76)   |   I-GRADE 127.867 (3.45)   |   IDX30 404.318 (11.17)   |   IDX80 105.647 (2.92)   |   IDXBUMN20 263.312 (10.37)   |   IDXG30 113.239 (2.36)   |   IDXHIDIV20 361.834 (9.72)   |   IDXQ30 118.461 (3.18)   |   IDXSMC-COM 206.934 (3.31)   |   IDXSMC-LIQ 229.9 (5.97)   |   IDXV30 99.778 (3.02)   |   INFOBANK15 760.318 (27.06)   |   Investor33 353.585 (10.19)   |   ISSI 142.238 (2.46)   |   JII 514.346 (9.5)   |   JII70 174.038 (3.75)   |   KOMPAS100 945.162 (25.96)   |   LQ45 740.002 (20.32)   |   MBX 1338.07 (31.05)   |   MNC36 264.409 (7.18)   |   PEFINDO25 251.635 (8.18)   |   SMInfra18 228.656 (4.87)   |   SRI-KEHATI 297.818 (8.93)   |  

Meskipun Dikucilkan WHO, Taiwan Berhasil Redam Covid-19

Kamis, 16 Juli 2020 | 08:17 WIB
Oleh : Faisal Maliki Baskoro / FMB

Taiwan, Beritasatu.com - Taiwan, negara dengan populasi 23,7 juta penduduk, hanya memiliki 451 kasus Covid-19 dan tujuh korban jiwa. Taiwan juga dikucilkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena tidak dianggap sebagai negara yang berdaulat, tetapi respons mereka terhadap pandemi Covid-19 adalah salah satu yang terbaik di dunia.

Apa rahasianya? Laporan khusus yang dibuat CNBC mengidentifikasi beberapa hal.

Salah satu kunci sukses Taiwan adalah kebijakan karantinanya. Pendatang diwajibkan melakukan karantina selama dua minggu setelah memasuki Taiwan. Isolasi mandiri ini menggunakan biaya sendiri tetapi pemerintah memberikan subsidi, mengirimkan makanan, memastikan kondisi kita baik-baik saja, dan mengucapkan terima kasih atas kerja samanya.

Pada bulan Januari, Taiwan sudah menerapkan pembatasan perjalanan yang ketat dan menerapkan sistem karantina mandiri menggunakan teknologi geofencing. Pada 22 Juni, negara-negara dengan risiko Covid-19 rendah mulai dikecualikan dari karantina wajib.

"Berada di dekat Tiongkok, Taiwan bisa terkena bencana besar. Namun, minimnya kasus Covid-19 di Taiwan adalah hal yang luar biasa," kata Dr Ezekiel Emanuel, penulis buku tentang sistem-sistem kesehatan terbaik di dunia.

Keberhasilan Taiwan meredam penyebaran Covid-19 juga berkat pengalaman negara itu ketika menghadapi wabah SARS tahun 2003. Tsung-Mei Cheng, analis kebijakan kesehatan Princeton University, mengatakan Taiwan memiliki banyak profesional yang terlatih selama bertahun-tahun menangani wabah penyakit menular.

WHO tidak menganggap Taiwan sebagai negara yang berdaulat, melainkan bagian (provinsi) dari Tiongkok, sehingga Taiwan terlambat mendapatkan informasi Covid-19. Namun, Taiwan memiliki sistem peringatan dini soal wabah penyakit di dunia. Jika Taiwan adalah anggota WHO, maka Taiwan bisa berbagi pengalaman dan membantu negara lain.

Tanpa bantuan WHO, Taiwan mampu menciptakan rencana yang baik dengan cepat dalam melawan Covid-19. Akses ke tes cepat mudah dan gratis. Di setiap tempat ada pengecekan temperatur dan kewajiban menggunakan masker. Denda yang besar juga berlaku bagi warganya yang bandel.

Tekanan sosial juga berperan. Jika ada warga yang bandel (tidak memakai masker atau kabur dari karantina) maka akan dipermalukan dengan cara disebut namanya dan disebar fotonya secara publik dan di media sosial.

Pemerintah Taiwan juga cepat dalam memastikan persediaan masker dan aplikasi yang memberikan informasi terkait ketersediaan masker terdekat.

Di awal pandemi, Taiwan memberikan informasi terkini kepada publik setiap hari, tetapi sekarang telah berkurang menjadi mingguan. Kepercayaan publik terhadap Pusat Komando Epidemi Taiwan sangat tinggi.

Setiap warga Taiwan memiliki rekam medis digital sehingga memudahkan dokter mengakses informasi terkait pasien secara online. Informasi ini digunakan pejabat kesehatan untuk memperingatkan dokter soal pasien yang berisiko tinggi berdasarkan rekam perjalanan mereka.

Warga Taiwan juga memiliki kesadaran komunitas yang tinggi, di mana mereka tidak egois dan menempatkan kepentingan pribadi mereka di atas kepentingan bersama. Hal ini kontras dengan negara lain seperti AS yang cenderung individualistik.

Menurut William Hsiao, profesor ekonomi dari Departemen Kesehatan dan Manajemen Harvard T.H. Chan School of Public Health, tidak banyak hal yang bisa dilakukan Pemerintah Taiwan untuk memperbaiki respons mereka terhadap Covid-19. Satu hal yang perlu difokuskan adalah edukasi. Masyarakat perlu terus diingatkan akan risiko Covid-19 dan jangan lengah dengan keberhasilan sekarang.

Hsiao menyarankan agar negara-negara lain membentuk komite nonpolitik untuk memantau penyakit menular dan mempersiapkan diri ke depan.

Beberapa kritik terhadap respons Taiwan antara lain: kesulitan pendatang mendapatkan masker, kemampuan pemerintah mengawasi setiap gerak-gerik warganya yang dinilai melanggar privasi, dan masih banyak perusahaan-perusahaan yang mewajibkan karyawannya ke kantor di tengah-tengah Covid-19.



Sumber:CNBC.com


BAGIKAN


REKOMENDASI

BERITA LAINNYA

AS Batasi Visa untuk Huawei dan Perusahaan Teknologi Tiongkok Lainnya

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo pada hari Rabu waktu setempat (15/7/2020) mengatakan AS akan menerapkan pembatasan visa untuk perusahaan teknologi Tiongkok.

DUNIA | 16 Juli 2020

Janda Pimpinan Pro-Isis Filipina Minhati Madrais Dibebaskan, Kembali ke Indonesia?

Minhati diyakini memiliki akses ke dana berjumlah jutaan dolar AS serta mata uang kripto yang dapat digunakannya untuk menghidupkan kembali kelompok teror Maute

DUNIA | 15 Juli 2020

NY Times Akan Pindahkan Kantor Perwakilan di Hong Kong ke Seoul

Awal tahun ini, Beijing mengatakan bahwa para jurnalis tidak lagi diizinkan bekerja di Tiongkok daratan dan tidak dapat bekerja di Hong Kong.

DUNIA | 15 Juli 2020

17 Negara Bagian Gugat Trump atas Kebijakan Pelajar Internasional

Sejumlah 17 negara bagian Amerika Serikat (AS), ditambah Distrik Kolumbia, mengajukan gugatan resmi pada Senin (13/7).

DUNIA | 15 Juli 2020

Dampak Pandemi Covid-19, 132 Juta Orang Akan Kelaparan

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menyebutkan, pandemi Covid-19 bisa mendorong hingga 132 juta orang kelaparan pada akhir 2020.

DUNIA | 15 Juli 2020

Perangi Covid-19, Afsel Larang Penjualan Alkohol

Afrika Selatan telah memperkenalkan batasan baru, termasuk larangan penjualan alkohol, untuk membantu mencegah penyebaran virus corona.

DUNIA | 15 Juli 2020

Sengketa Perbatasan di Perairan, Jepang dan AS Kecam Klaim Tiongkok

Jepang dan Amerika Serikat (AS) menyampaikan kritik terbaru atas klaim Tiongkok di perairan sengketa yaitu Laut China Timur (LCT) dan Laut China Selatan (LCS).

DUNIA | 15 Juli 2020

Trump Teken Sanksi untuk Tiongkok atas Isu Hong Kong

Donald Trump pada hari Selasa (13/7/2020) menandatangani kebijakan yang menjatuhkan sanksi terhadap Tiongkok karena mencampuri otonomi Hong Kong.

DUNIA | 15 Juli 2020

Uji Coba Vaksin Covid-19 Moderna Sukses

Moderna mengatakan, dalam uji coba vaksin Covid-19 terhadap manusia, semua 45 pasien berhasil mengembangkan antibodi penetralisir.

DUNIA | 15 Juli 2020

Gelombang Ketiga Covid-19, Disney Land Hong Kong Kembali Ditutup

Penutupan Disneyland yang dimulai 15 Juli sejalan dengan langkah pemerintah dan otoritas kesehatan setempat sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19.

DUNIA | 14 Juli 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2020 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS