Uni Eropa dan Irlandia Skeptis atas Tawaran Brexit Johnson

Uni Eropa dan Irlandia Skeptis atas Tawaran Brexit Johnson
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson (kanan) bertepuk tangan dekat Menteri Keuangan Britania Raya Sajid Javid (kedua dari kiri), Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace (kiri) dan anggota kabinetnya setelah menyampaikan pidato untuk para delegasi pada hari terakhir konferensi Partai Konservatif tahunan di Manchester, Inggris barat laut, Rabu (2/10/2019). ( Foto: AFP / Stefan Rousseau )
Natasia Christy Wahyuni / WIR Sabtu, 5 Oktober 2019 | 12:14 WIB

London, Beritasatu.com- Uni Eropa (UE) dan Irlandia merasa skeptis atas tawaran Brexit dari Perdana Menteri (PM) Inggris Boris Johnson, menyebut bahwa usulannya tidak mungkin menghasilkan kesepakatan.

Irlandia memperingatkan Inggris sedang menuju kepada Brexit tanpa kesepakatan (no-deal Brexit), keculai membuat lebih banyak konsesi.

UE menyatakan sepenuhnya mendukun Irlandia dan terbuka untuk berdiskusi. Blok tersebut merasa tidak yakin dengan rencana Johnson yaitu tawaran akhirnya untuk menghindari no-deal Brexit pada 31 Oktober 2019.

Johnson memberikan tenggat waktu sampai 31 Oktober 2019 untuk keluar dari Inggris. Usulan itu sudah diblokir oleh parlemen Inggris, kecuali dia berhasil mendapatkan kesepakatan dari UE. Jika gagal, Johnson harus mengajukan perpanjangan tenggat waktu Brexit lagi sampai akhir Januari 2020.

Baik Inggris maupun UE saling memposisikan dirinya agar tidak disalahkan atas penundaan Brexit atau keluarnya Inggris secara tidak teratur. Johnson menegaskan ingin kesepakatan, tapi menolak penundaan Brexit lebih lanjut.

Sikap UE yang mengabaikan usulan Johnson menunjukkan kesenjangan kedua pihak dalam keberangkatan Inggris dari blok itu. PM Irlandia Leo Varadkar, yang menjadi kunci kesepakatan, mengatakan tidak sepenuhnya memahami bagaimana usulan Inggris bisa bekerja.

Menurutnya, Irlandia tidak bisa menandatangani perjanjian yang tidak bisa mengamankan perbatasan terbuka Irlandia dan Inggris.

Wakil PM Varadkar, yaitu Menteri Luar Negeri Simon Coveney, mengatakan jika usulan Johnson bersifat final maka no-deal Brexit terbentang di depan.

“Penilaian saya, Boris Johnson memang menginginkan kesepakatan dan dokumen yang dipublikasikan kemarin adalah upaya untuk memindahkan kita ke arah kesepakatan. Tapi jika itu usulan final, maka tidak akan ada kesepakatan,” kata Coveney.



Sumber: Suara Pembaruan