Logo BeritaSatu

Sri Mulyani Sebut Risiko Resesi Makin Rumit, Seperti Apa?

Kamis, 29 September 2022 | 20:00 WIB
Oleh : Herman / FER

Jakarta, Beritasatu.com – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani indrawati menegaskan, tantangan pandemi Covid-19 saat ini belum selesai. Bahkan dunia saat ini juga dihadapkan dengan munculnya risiko baru yang makin kompleks dan rumit.

Ketegangan geopolitik antarnegara, telah menimbulkan perang dan disrupsi rantai pasok yang menyebabkan harga-harga komoditas pangan, energi, dan pupuk melambung tinggi.

“Ini mengakibatkan tingkat inflasi yang sangat tinggi di Amerika, Eropa, dan Inggris, yaitu inflasi terburuk dalam 40 tahun terakhir. Guncangan hebat ini mengancam daya beli rakyat dan pemulihan ekonomi Indonesia,” kata Sri Mulyani saat membacakan pendapat akhir pemerintah terhadap Rancangan Undang-Undang APBN 2023, di gedung DPR RI, Kamis (29/9/20220).

Sri Mulyani menyampaikan, selama satu bulan terakhir, beberapa indikator bergerak sangat cepat. Harga minyak dunia dan CPO mengalami penurunan, sementara mata uang beberapa negara mengalami volatilitas yang luar biasa. Selama tahun 2022, nilai tukar mata uang berbagai negara terhadap dolar Amerika mengalami koreksi yang sangat tajam.

Yen Jepang telah mengalami depresiasi 25,8%, Renminbi China mengalami depresiasi 12,9%, dan Lira Turki mengalami depresiasi 38,6%. Demikian juga yang terjadi dengan negara-negara tetangga, Ringgit Malaysia terdepresiasi 10,7%, Baht Thailand terdepresiasi 14,1%, dan Peso Filipina terdepresiasi 15,7%. Dalam periode yang sama, nilai tukar rupiah juga mengalami depresiasi sebesar 6,1%.

“Kita juga menyaksikan bahwa inflasi di negara-negara maju yang sebelumnya selalu single digit atau mendekati 0% dalam 40 tahun terakhir, sekarang melonjak mencapai double digit. Bahkan inflasi di Turki mencapai 80,2% dan di Argentina mencapai 78,5%,” ungkap Sri Mulyani.

Menurut Sri Mulyani, inflasi yang sangat tinggi ini telah mendorong respons kebijakan moneter terutama di Amerika Serikat, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya, dengan sangat agresif menaikkan suku bunga yang menyebabkan gejolak di sektor keuangan dan arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang atau emerging hingga mencapai US$ 9,9 miliar atau setara Rp 148,1 triliun sampai dengan 22 September 2022. Hal ini menyebabkan tekanan pada nilai tukar di berbagai negara berkembang.

"The Fed baru saja menaikkan suku bunga acuan sebesar 75 basis poin, artinya sejak awal kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve sudah mencapai 300 basis poin. Kenaikan suku bunga di berbagai negara, terutama negara maju jelas akan meningkatkan cost of fund dan mengetatkan likuiditas yang harus kita waspadai secara sangat hati-hati,” ujar Sri Mulyani.

Baca selanjutnya
Sri Mulyani menambahkan, kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi ini berpotensi ...


hal 1 dari 2 halaman

Halaman: 12selengkapnya

Saksikan live streaming program-program BTV di sini

Sumber: BeritaSatu.com

BAGIKAN

BERITA LAINNYA

Pemda Perlu Kolaborasi Wujudkan Data Mumpuni untuk Tingkatkan Daya Saing

Data mempunyai peranan besar terhadap daya saing daerah, karena tanpa adanya data, sulit untuk mengukur keberhasilan sebuah daerah.

EKONOMI | 2 Desember 2022

Airlangga: Kebutuhan Baja di 2045 Capai 100 Juta Ton

Airlangga menyampaikan, pengembangan industri baja menuju 100 juta ton merupakan keniscayaan agar Indonesia mampu mandiri.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Pembatasan Impor Dorong Pertumbuhan Industri Baja Nasional

Chairman Asosiasi Industri Baja Indonesia (IISIA) Silmy Karim menyebutkan, industri baja nasional saat ini masih dalam tahap pertumbuhan awal.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Ekonomi Global Melemah, Startup Terancam Merana di 2023

Menurut Tauhid, melambatnya pertumbuhan bisnis startup di 2023 tidak terlepas dari penurunan daya beli masyarakat sebagai imbas pelemahan ekonomi global.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Dilanda PHK Massal, Ini yang Harusnya Startup Lakukan

Direktur Eksekutif Indef menyampaikan, langkah efisiensi startup untuk bertahan sebetulnya tidak harus melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Badai PHK Startup, Kemenkominfo: Model Bisnis Berubah

Semuel menyampaikan, langkah PHK yang diambil perusahaan startup sebetulnya juga terjadi di industri lain, seperti tekstil dan alas kaki.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Gelombang PHK Startup Diprediksi Masih Berlanjut Tahun Depan

Tauhid melihat akan ada beberapa startup yang terpaksa menghentikan bisnisnya di 2023, khususnya financial technology (fintech).

EKONOMI | 1 Desember 2022

Platform E-Commerce Diminta Prioritaskan Produk Lokal

Menkominfo meminta penyedia e-commerce memprioritaskan platformnya untuk menjual produk lokal dari kalangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

EKONOMI | 1 Desember 2022

Hadapi Gelombang PHK, Pengusaha dan Pekerja Harus Duduk Bersama

Pemerintah segera mengajak para pengusaha dan serikat pekerja untuk duduk bersama mencari solusi terbaik dalam menghadapi gelombang PHK.

EKONOMI | 1 Desember 2022

Menkominfo Minta Startup Lakukan Efisiensi Bukan PHK

Menkominfo menyampaikan, langkah startup melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) justru membuat masalah baru.

EKONOMI | 1 Desember 2022


TAG POPULER

# Sidang Ferdy Sambo


# Piala Dunia 2022


# Gempa Cianjur


# Pertumbuhan Ekonomi 2023


# One Championship


 

NEWSLETTER

Dapatkan informasi terbaru dari kami
Email yang Anda masukkan tidak valid.

TERKINI
Drama Grup E: Gol Kontroversial Jepang Buat Jerman Menangis

Drama Grup E: Gol Kontroversial Jepang Buat Jerman Menangis

SEMESTA BOLA 2022 | 4 detik yang lalu










CONTACT US Commodity Square, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
B UNIVERSE