Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Pakar Beberkan Akar Masalah Pangan Nasional

Selasa, 4 Mei 2021 | 16:41 WIB
Oleh : Markus Junianto Sihaloho / CAR

Jakarta, Beritasatu.com – Pangan tidak dilihat sebagai hal strategis dengan sudut pandang geopolitik. Kondisi ini akhirnya membuat Indonesia terus terjerat dengan impor pangan serta kekalahan dari negara lain. Hal ini terjadi sejak 1997-1998.

Demikian diasmpaikan ekonom senior Dradjad H Wibowo terkait permasalahan impor dan kedaulatan pangan, Selasa (4/5/2021). Sebelumnya, Wakil Presiden Ma'ruf Amin, berbicara juga soal isu pangan nasional yang terdesak akibat produksi tak sejalan dengan angka pertumbuhan penduduk.

Dradjad memotret bahwa masalah impor pangan ini cenderung semakin parah sejak krisis ekonomi Indonesia pada 1997-1998. Penyebabnya, produksi pangan pokok seperti beras, gula dan daging, memang jauh di bawah konsumsi nasional.

Kenapa demikian? Menurut Dradjad, pada masa Orde Baru, negara menjadikan pertanian dan pangan sebagai prioritas utama pembangunan. Pertanian dan pangan dilihat bukan hanya sebagai bagian dari sektor ekonomi dan sektor kesejahteraan, tetapi justru sebagai bagian dari sektor politik dan pertahanan keamanan nasional.

“Dari interaksi saya dengan pejabat-pejabat di era Pak Harto, saya menyimpulkan bahwa beliau-beliau melihat lonjakan harga dan krisis pangan tahun 1998 menjadi salah satu pemicu utama kemarahan rakyat yang berujung pada lengsernya Pak Harto,” kata Dradjad.

Sikap itu diwujudkan dengan dua kebijakan utama. Program pembangunan yang sangat berpihak kepada produksi pertanian dan pangan. Kedua, kebijakan stabilisasi harga pangan tertentu melalui pengelolaan stok nasional untuk menjaga harga dasar dan harga eceran tertinggi, yang didukung penuh dengan pendanaan melalui antara lain kredit likuiditas.

Akan tetapi, selama dua dekade terakhir ini, menurut Dradjad, pangan tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas strategis. Keberpihakan terhadap produksi pertanian jauh melemah, sedangkan kemampuan stabilisasi harga jauh merosot karena kewenangan dan kemampuan finansial Bulog sudah sangat dipreteli.

“Pemretelan Bulog ini merupakan salah satu butir krusial dalam letter of intent antara IMF dengan Indonesia. Dengan kata lain, IMF mempreteli kemampuan Indonesia menjaga stabilitas harga pangan melalui Bulog. Harga di tingkat petani sering anjlok jauh lebih drastis saat panen raya,” kata Drajad.

Di sisi lain, lemahnya keberpihakan terhadap produksi pertanian membuat produksi pangan Indonesia tumbuh lambat, stagnan atau bahkan merosot. Sering anjloknya harga di tingkat petani makin mempercepat konversi lahan pertanian yang subur di Jawa dan Bali menjadi lahan perumahan dan non-pertanian lainnya.

“Membiarkan konversi ini adalah kesalahan besar, karena kita tidak mungkin mengompensasi lahan subur tersebut dengan lahan gambut dan lahan kering di luar Jawa dan Bali,” kata Drajad.

Ini ditambah dengan lemahnya keberpihakan terhadap riset dan inovasi pertanian dan pangan. Diperburuk rendahnya kepemilikan dan pengelolaan lahan per keluarga tani, kelemahan riset dan inovasi ini membuat produktivitas pangan Indonesia jauh lebih rendah dari Thailand dan Vietnam. Akiibatnya biaya pokok dan harga jualnya pun lebih mahal.

“Itulah ringkasan permasalahan kenapa Indonesia jauh lebih tergantung pada impor pangan, bahkan tergolong doyan impor selama dua dekade terakhir,” kata Dradjad.

Selisih harga yang besar tersebut membuat impor menjadi bisnis yang super menggiurkan. Itu sebabnya para raja impor pangan mampu menjadi raksasa bisnis di Indonesia.

“Itu sebabnya hampir tiap tahun kita melihat keributan soal pengaturan kuota impor pangan, sampai tidak sedikit elite politik yang ditahan KPK. Itu sebabnya kita melihat ada keributan soal Permenperin 3/2021 dimana Jatim menjadi episentrumnya. Karena kuota impor pangan sama dengan fulus besar,” ujar Drajad.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

IHSG Naik, Saham DNAR Melonjak 17,95%

IHSG ditutup naik 11,22 poin (0,18%) ke level 5.963,82.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Dapat Pinjaman Rp 200 Miliar, Adi Sarana Tambah Armada Kendaraan

Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) meraih pnjaman sebesar Rp 200 miliar dari PT Bank CTBC Indonesia.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Kejar Target, Luhut Minta Pengerjaan Proyek LRT Jabodebek Dipercepat

Pengerjaan proyek LRT Jabodebek harus dipercepat.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Sri Mulyani: Investasi dan Ekspor Didorong Jadi Penopang Ekonomi

Jika Indonesia mampu melakukan reformasi struktural, maka pertumbuhan ekonomi akan lebih didorong oleh investasi dan ekspor.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Investasi Pintu Masuk Penciptaan Lapangan Kerja

Penciptaan lapangan kerja yang seluas-luasnya merupakan salah satu tugas besar yang menjadi perhatian pemerintah.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Emiten Pengelola RS Hermina Siap Sukseskan Program Vaksinasi Nasional

Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), pengelola jaringan rumah sakit Hermina siap menyukseskan program vaksinasi Covid-19 nasional.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Bappenas: Sektor Industri Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi 2022

Bappenas meyakini sektor industri akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi tahun 2022 yang ditargetkan tumbuh sebesar 5,8%.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Rupiah Ditutup Menguat Capai Rp 14.430 Per Dolar AS

Rupiah hari ini diperdagangkan dengan kisaran Rp 14.415- Rp 14.451 per dolar AS.

EKONOMI | 4 Mei 2021

IHSG Ditutup Naik 11 Poin ke Posisi 5.963

IHSG pada penutupan perdagangan sore ini Selasa (4/5/2021) naik 11,2 poin (0,18%) ke level 5.963,8.

EKONOMI | 4 Mei 2021

Capai Rekor di Atas US$ 3.400, Ethereum Naik 360% di Tahun Ini

Ether, koin digital terkait blockchain Ethereum mencapai level tertinggi sepanjang masa di US$ 3.456,57.

EKONOMI | 4 Mei 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS