Triputra Agro: Kampanye Hitam Sawit Tidak Didukung Fakta Ilmiah
Logo BeritaSatu

Triputra Agro: Kampanye Hitam Sawit Tidak Didukung Fakta Ilmiah

Sabtu, 6 Maret 2021 | 13:29 WIB
Oleh : Leonard AL Cahyoputra / FMB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Triputra Agro Persada (TAP) menanggapi kampanye hitam sawit oleh Uni Eropa. Mengenai sawit yang menghabiskan air, CEO Group Triputra Agro Persada Tjandra K Hermanto mengatakan, tumbuhan dan akar sawit itu hanya 80 cm karena akarnya penuh dengan serabut, sehingga sensitif dengan kekeringan.

“Pada waktu kering, sawit akan berusaha untuk bertahan dengan menutup pelepahnya dan kalau sudah musim hujan, maka dia akan membuka lagi pelepahnya. Sawit membutuhkan banyak air, karena 1 pohon sawit untuk 80 meter persegi. Tapi, kalau dari meter persegi sama perlunya dengan yang lain, artinya 1 ha sawit dengan 1 ha padi sama kebutuhan airnya. Namun, kalau dibandingin 1 pohon sawit sama 1 tanaman padi ya banyak sawit (kebutuhan airnya),” ungkap Tjandra saat media visit ke BeritaSatu Media Holdings (BSMH), Jakarta, Jumat (5/3/2021).

Di kesempatan yang sama, Managing Director for Trading and Downstream TAP Sutedjo Halim mengatakan, apa yang UE sampaikan, tidak ada satu pun yang berbasis ilmiah.

Dia menilai akar masalah dari kampanye hitam itu adalah ekonomi, di mana mereka kalah perang dagang. Sutedjo menjelaskan, produksi sawit Indonesia yield-nya bisa 10 kali lipat dibandingkan hasil minyak dari tanaman UE.

Selain itu, Indonesia hanya menggunakan 1/6 tanah saja. “Apakah (pencegahan) deforestasi itu penting? Apa yang diputuskan presiden sudah betul, sebab tidak memerlukan lagi (perluasan lahan besar-besaran). Bibit (sawit) sekarang memiliki yield yang tinggi," kata dia.

Dalam penanganan deforestasi, Indonesia bahkan sudah 75% sukses dibandingkan 2018 dan tidak ada negara di dunia ini yang sukses seperti Indonesia. Bahkan, negara AS membakar lahannya per tahun lebih dari 15 juta ha. Bagi mereka itu kebutuhan untuk petani, tetapi ketika kita melakukan hal yang sama, disebut untuk kebutuhan pengusaha. Itu yang berbeda dalam penggunaan bahasa mereka,” ujar dia.

Sutedjo menjelaskan, saat ini, luasan tanah yang mulai dibebaskan menjadi kawasan konservasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bertambah. Ini termasuk pengembalian daerah-daerah yang bekas kebakaran, yang tidak boleh ditanam lagi tetapi sudah menjadi hutan. Kalau digabungkan dalam kurun waktu 2018-2020, pemerintah menghitung sekitar 580.000 ha yang dikembalikan menjadi hutan.

“Dan praktis tidak ada penambahan atau izin mengenai (perluasan lahan perusahaan) sawit. Memang masih ada di luar, ya di masyarakat. Ini memang agak sedikit susah untuk mengidentifikasikan masyarakat yang menanam sendiri. Namun secara korporasi, sebetulnya sudah tidak ada,” ucap dia.

Sutedjo menilai moratorium baik untuk industri, karena akan menjaga supply and demand. Para pelaku usaha sawit juga tidak ingin ‘mensawitkan’ semua hutan.

“Kami ingin bagaimana sawit ini bisa menjadi indah seperti di Malaysia. Untuk itu, harus mendapat pengakuan bahwa pohon sawit lebih hebat dari pohon pinus. Apa hebatnya sebatang pohon pinus dibanding dengan sebatang pohon sawit? Penyerapan karbon lebih baik sawit daripada pinus, yang dibanggakan orang Eropa. Kami tertawa mendengarnya. Karena mereka tidak berbasis ilmiah statement-nya,” ujar dia.

Sutedjo mengatakan, dari semua hasil perkebunan yang disampaikan ke presiden pada saat Jakarta Food Security, hanya usaha sawit yang betul-betul sukses, baik pendampingan maupun modelnya.

Masalah Pendanaan Petani
Sutedjo menerangkan, masalah yang sering dihadapi petani adalah pendanaan, karena tidak bisa mendapatkannya dari bank. Masalah tersebut bisa diatasi dengan para pengusaha sawit yang menjadi penjaminnya. Itu membuat para petani bisa menjual produk meski di tengah hutan, karena ada pabrik di sekitar mereka.

Dia menerangkan, hal ini membuktikan bahwa industri sawit bisa dicontoh untuk yang lain, sehingga betul-betul tingkat keekonomian masing-masing usaha petani bisa cepat naik.

“Kalau kita lihat 5 tahun lalu, rata-rata per ha itu hanya 2-2,5 ton (setara CPO), sekarang 1 ha bisa 4 ton. Kalau yang bagus banget itu bisa 7 ton per ha. TAP baru 5,2 ton. Buat petani plasma yang 20% di kita sedikit di bawahnya yaitu 4,6 ton. Karena memang mengubah mindset sedikit susah untuk good practice, tidak bisa instan,” ucap Sutedjo.

Tjandra menambahkan, dengan kondisi sekarang, kalau petani plasma bisa menghasilkan 18 ton tandan buah segar (TBS) saja untuk 1 ha lahan, itu artinya 1,5 ton CPO per bulan.

“Sekarang 1 ton itu kurang lebih dia akan mendapat penghasilan Rp 1.250.000. Kalau 3 ton, berati dia bisa dapat hampir Rp 4 juta per bulan. Kalau dia punya kebun dan bekerja di pabrik, penghasilannya ada 2. Sebenarnya take home pay karyawan di kebun sama karyawan kita yang di Jakarta, itu lebih banyak yang di kebun, karena di sana kita beri fasilitas untuk biaya hidup,” papar dia.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Triputra Agro Persada Siap Go Public

PT Triputra Agro Persada (TAP), siap go public dalam waktu dekat. Anak usaha Grup Triputra ini akan melepas kurang dari 5% saham.

EKONOMI | 6 Maret 2021

UU Cipta Kerja Diharapkan Minimalisasi Perselisihan Pekerja dengan Perusahaan

Ketua Bidang UKM/IKM Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ronald Walla mengatakan UU Cipa Kerja akan memperbaiki daya saing dan iklim investasi secara umum.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Kerja Sama Pertamina dan ADNOC Pastikan Pasokan LPG

Pertamina menandatangani perjanjian jual beli LPG dan sulfur dengan Adnoc. Saat ini kebutuhan impor LPG nasional mencapai 6 juta ton.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Pelindo III dan BTN Teken MoU Layanan Transaksi Kepelabuhanan

Pelindo III dan Bank BTN sepakat menjalin kerja sama bisnis dalam hal pemanfaatan jasa dan produk hingga layanan perbankan di wilayah kerja Pelindo III.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Fluktuatif, IHSG Ditutup Menguat 0,27% dalam Sepekan

IHSG pada pekan ini turut mengalami peningkatan sebesar 0,27% atau ditutup pada level 6.258,749.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Sambut DP 0%, Sinar Mas Land Gelar Promo

Periode Program Sinar Mas Land Wish for Home mulai dari 6 Maret hingga 31 Desember 2021.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Macquarie Capital Serap Private Placement Merdeka Copper Rp 2,43 T

Macquarie Capital Limited menjadi pihak yang menyerap private placement PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA).

EKONOMI | 6 Maret 2021

Modernland Cilejit Tawarkan Rumah Rasa Apartemen Rp 150 Jutaan

PT Modernland Realty Tbk meluncurkan rumah tapak tipe studio di Modernland Cilejit Tangerang, Banten dengan harga terjangkau hanya Rp 150 jutaan.

EKONOMI | 6 Maret 2021

Wall Street Berbalik Menguat Ditopang Data Tenaga Kerja

Di Wall Street dalam sepekan terakhir, Nasdaq turun 2%, S&P 500 naik 0,8%, dan Dow Jones naik 1,8%.

EKONOMI | 6 Maret 2021

CKD Otto Pharma Ekspor Obat Kanker ke Aljazair Senilai Rp 250 Miliar

CKD Otto Pharma dapat memproduksi obat-obat onkologi dengan standar yang tinggi.

EKONOMI | 5 Maret 2021


TAG POPULER

# Sepeda Motor Masuk Tol


# Pemerasan Wali Kota


# KRI Nanggala


# Universitas Nusa Mandiri


# Larangan Mudik



TERKINI

KPK Tetapkan Penyidiknya Sebagai Tersangka Suap Penanganan Perkara

NASIONAL | 16 menit yang lalu










TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS