Kadin Minta Pemerintah Dorong Pemanfaatan Perjanjian Dagang
Logo BeritaSatu

Kadin Minta Pemerintah Dorong Pemanfaatan Perjanjian Dagang

Rabu, 27 Januari 2021 | 16:38 WIB
Oleh : Sanya Dinda / HK

Jakarta, Beritasatu.com - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) meminta pemerintah mendorong pengusaha pemanfaatan perjanjian dagang. Sebab, hingga kini, banyak perjanjian dagang yang belum dimanfaatkan sepenuhnya.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mencontohkan, fasilitas tarif preferensi umum (generalized systen of preferences/GSP) dari Amerika Serikat yang utilisasinya baru 20%. "Masih banyak perjanjian dagang yang kita belum bisa manfaatkan maskimal. Ini perlu mekanisme untuk memanfaatkan secara maksimal," kata Shinta dalam webinar Solusi Maju Bersama di Jakarta, Rabu (27/1).

Di samping memanfaatkan perjanjian dagang, dia juga meminta kepada markert intelligence untuk mencari tahu kebutuhan negara-negara tujuan ekspor, terutama negara tujuan non tradisional. Contohnya, apabila suatu negara banyak mengimpor produk furnitur, market intelligence Indonesia perlu mengetahui apakah produk dalam negeri bisa turut masuk memenuhi kebutuhan tersebut. Jika tidak, perlu dicari tahu lebih lanjut kesulitan apa yang dihadapi produk-produk Indonesia untuk memasuki pasar-pasar non tradisional.

"Intinya, masalah industri dalam negeri perlu dicarikan solusinya, sehingga mampu berdaya saing dengan produk dari negara lain," imbuh Shinta.

Menirut Shinta, di tengah pandemi Covid-19, Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada pasar domestik. Pasar ekspor perlu dimanfaatkan, termasuk bagaimana menambah nilai komoditas mentah yang selama ini menjadi produk ekspor unggulan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan, hanya 3% dari bahan baku dan bahan penolong impor yang kemudian diekspor. Menurut dia, sisa dari bahan baku dan bahan penolong impor itu diolah untuk konsumsi dalam negeri. Dia mengatakan, surplus neraca dagang sepanjang 2020 tidak sehat, karena disumbang oleh penurunan impor yang lebih dalam dibandingkan penurunan ekspor.

"Surplusnya ini buat saya mengganggu. Kalau surplus 2012 dipicu overheating ekonomi. Nah, sekarang ini ekonomi kita sedang lemah gemulai," kata Lutfi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang sepanjang Januari-Desember 2020 mencapai US$ 21,74 miliar. Pada saat yang sama impor turun 17,3% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya US$ 171,27 miliar menjadi US$ 141,56 miliar. Sementara itu, ekspor juga turun meski lebih tipis, yakni sebesar 2,6% dari US$ 167,68 miliar menjadi US$ 163,30 miliar.

Untuk kembali menggairahkan perekonomian nasional, Lutfi menuturkan, sebelum mendorong ekspor, pemerintah perlu terlebih dahulu membenahi konsumsi dalam negeri. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat berbagai insentif. Dia berharap Menteri Keuangan Sri Mulyani membuat insentif untuk mendorong masyarakat kembali membeli barang konsumsi, seperti produk otomotif, mobil dan motor. "Saya ingin bicara sama Ibu Sri Mulyani untuk memberi insentif yang merangsang masyarakat mengonsumsi barang. Nah, begitu ada konsumsi, kredit jalan lagi, beli mobil beli sepeda motor,

dan saya menjamin inflow bahan baku dan bahan penolong baik tata laksana dan tata kelolanya di Kementerian Perdagangan,” kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menkeu: LPI Diisi Sosok Berkredibilitas Tinggi

LPI menjadi salah satu cara pemerintah menggenjot investasi, sehingga diharapkan bisa berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi dalam negeri.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Pamos Jaya Mandiri Perluas Jangkauan Pasar di Ranah Digital

Johnson menegaskan, Pamos siap bermitra dengan reseller dalam pemasaran produk di seluruh Indonesia.

EKONOMI | 27 Januari 2021

OJK: Penghapusan Kredit Macet di Bank BUMN Rumit

Pemutihan kredit diharapkan tetap membuat kondisi perbankan stabil.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Ini 7 Strategi Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi 2021

Untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi di 2021, pemerintah telah menyiapkan tujuh strategi.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Ancaman Penipuan Keuangan Siber Kian Tinggi di Masa Pandemi

GBG Intelligence Center, memiliki sembilan kategori kemampuan peningkatan deteksi penipuan yang terhubung dengan teknologi dan mitra data.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Pemulihan Ekonomi Nasional Akan Ditopang UMKM dan Koperasi

Program pendampingan dan pembiayaan berkesinambungan dapat menggairahkan UMKM dan koperasi mengembangkan usahanya.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Jokowi: Direksi LPI Harus Ada Pekan Depan dan Langsung Tancap Gas

Pembentukan LPI merupakan tindak lanjut amanat Undang-Undang Cipta Kerja.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Grab Perluas Akses Pasar Mitra UMKM ke Sektor Pemerintahan

Lewat Portal Bela Pengadaan, Grab memperluas akses pasar mitra merchant UMKM ke sektor pemerintahan.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Jokowi Sebut Aturan Turunan UU Cipta Kerja Sudah Tahap Finalisasi

Investasi yang menciptakan produknya mampu bersaing di pasar global serta ramah lingkungan akan menjadi prioritas pemerintah.

EKONOMI | 27 Januari 2021

Sesi I, Telkom, Mandiri, dan Astra Jadi Pilihan Investor Asing

PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) mencatat beli bersih investor asing sebesar Rp 102,2 miliar. Saham TLKM naik 1,84% ke Rp 3.320.

EKONOMI | 27 Januari 2021


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS