Laba Bersih Maybank Indonesia Tumbuh 7%

Laba Bersih Maybank Indonesia Tumbuh 7%
Bank Maybank Indonesia melalui Unit Usaha Syariah menyelenggarakan Shariah Thought Leaders Forum 2020. (Foto: Istimewa)
Lona Olavia / EHD Minggu, 2 Agustus 2020 | 23:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT Bank Maybank Indonesia Tbk bukukan kenaikan laba bersih setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) sebesar 7% menjadi Rp 809,7 miliar pada semester I 2020. Kinerja didukung oleh peningkatan pendapatan non bunga (fee based income) sebesar 1,4% menjadi Rp1,2 triliun dan pengelolaan biaya strategis secara berkelanjutan (sustained strategic cost management).

“Meskipun hasil positif tetap dapat dibukukan Maybank Indonesia untuk semester I 2020, kami tetap waspada terhadap prospek ekonomi jangka menengah mengingat situasi global pandemi Covid-19. Pandemi telah memperkuat komitmen kami untuk mempercepat rencana transformasi digital kami sehingga kami dapat melayani nasabah kami secara berkelanjutan dengan biaya hemat, termasuk upaya kami untuk senantiasa memastikan pengelolaan biaya dan likuiditas yang efektif," ucap Presiden Komisaris Maybank Indonesia dan Group President & CEO Maybank, Datuk Abdul Farid Alias dalam siaran pers, Minggu (2/8/2020).

Profil pendanaan bank, sebutnya terus menguat, tercermin dari peningkatan rasio CASA dari 33,1% pada Juni 2019 menjadi 40,0% pada Juni 2020, di mana tabungan meningkat sebesar 9,9%.

Bank juga telah mengalihkan upaya untuk meningkatkan peluang bisnis ditengah kondisi pasar yang menantang dengan mengoptimalkan layanan perbankan digital, Maybank2u (M2U) dimana mulai banyak nasabah kini menggunakan layanan mobile apps khususnya dengan adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Transaksi keuangan yang dilakukan melalui M2U naik 136% menjadi 4,5 juta transaksi pada semester I 2020 sementara, terdapat 34,000 pembukaan rekening tabungan atau deposito dan lebih dari 45.000 rekening baru dibuka melalui M2U.

Sejalan dengan kondisi pasar saat ini di mana industri menghadapi perlambatan dalam pertumbuhan kredit, total kredit bank turun 14,6% menjadi Rp 115,7 triliun. Pada Juni 2020, meskipun kredit Perbankan Global turun 5,4% menjadi Rp 35,8 triliun, kredit ini berhasil tumbuh sebesar 1,4% dibandingkan kuartal sebelumnya didukung oleh segmen Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Sementara, kredit Non-Ritel Community Financial Services (CFS) turun 22,3% menjadi Rp 42,4 triliun dan pinjaman Ritel CFS turun 12,9% menjadi Rp 37,5 triliun yang disebabkan oleh penurunan daya beli masyarakat di tengah masa yang menantang ini.

Ada pun, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) ada di 5,0% (gross) dan 2,9% (net) pada Juni 2020 dibandingkan dengan 3,1% (gross) dan 1,7% (net) pada Juni 2019. Hal ini disebabkan oleh menurunnya saldo kredit pada Juni 2020 dan penerapan standar akuntansi baru PSAK 71 atau IFRS 9 secara penuh efektif mulai Januari 2020, serta dampak situasi pandemi yang mempengaruhi beberapa nasabah. Termasuk pada program restrukturisasi kredit untuk menjaga kualitas aset yang hingga saat ini perseroan telah menyetujui pinjaman untuk dilakukan restrukturisasi dan penjadwalan ulang (restructuring & rescheduling/R&R) kepada lebih dari 22.000 debitur dengan total pinjaman Rp 15,4 triliun.

Meski begitu, posisi modal bank tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 22,1% pada Juni 2020 dibandingkan dengan 19,1% pada periode yang sama tahun lalu dan total modal Rp 26,4 triliun pada Juni 2020 dibandingkan Rp 26,2 triliun pada Juni 2019.



Sumber: BeritaSatu.com